Berita Internasional

WTO Perkuat Putusan Sengketa Kretek Indonesia-AS

Peringatan Bahaya Rokok

Jakarta – Putusan panel tentang kasus sengketa mengenai regulasi teknis Amerika Serikat (AS) terkait penjualan dan produksi rokok kretek Indonesia yang dimenangkan oleh Indonesia diperkuat oleh Badan Banding Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO).

Informasi ini tercantum dalam publikasi resmi WTO pada Kamis (5/4). Dokumen tertanggal 4 April 2012 ini berisi tentang peraturan teknis AS yang mempengaruhi produksi dan penjualan rokok kretek Indonesia.

Kasus sengketa rokok AS dan Indonesia bermula saat AS menerapkan aturan teknis dalam Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act yang melarang produksi dan penjualan rokok beraroma termasuk rokok kretek namun mengecualikan rokok menthol.

Sejak diberlakukannya aturan teknis tersebut, Indonesia kehilangan potensi pendapatan sekitar 200 juta dolar AS dari ekspor rokok kretek sejak tahun 2009

Produksi dan penjualan rokok dengan ciri aroma seperti kretek, strawbery, anggur, jeruk, kopi, vanila dan coklat dilarang oleh Federal Food, Drug, Cosmetic Act AS, namun rokok menthol yang produksi negara itu, tidak dimasukkan kedalamnya.

Pelarangan tersebut dinilai tidak konsisten dengan pasal dalam perjanjian Technical Barriers to Trade (TBT) oleh panel WTO. Poin yang dinilai tidak konsisten adalah implikasi pada pelarangan impor rokok kretek Indonesia tapi tidak melarang produksi dan penjualan rokok menthol sebagai produk sejenis.

Poin lain yang dianggap tidak konsisten oleh panel adalah pemberian interval kurang dari enam bulan antara publikasi dan pemberlakuan regulasi teknis.

Panel WTO memenangkan Indonesia dalam sengketa itu namun AS kemudian mengajukan banding pada 5 Januari 2012.

Sementara itu, AS dalam bandingnya menyatakan bahwa panel salah menilai rokok kretek dan rokok menthol sebagai produk serupa.

AS juga mengklaim panel salah jika menilai bahwa AS tidak konsisten dengan pasal dalam perjanjian TBT dan bahwa aturan teknis itu memberikan perlakuan yang dampaknya merugikan rokok kretek Indonesia.

Menjawab hal ini badan banding menyatakan bahwa “produk serupa” seharusnya tidak diinterprestasikan berdasar tujuan pengaturan dan isi regulasi melainkan pada hubungan kompetitif produk berdasar analisis tradisional keserupaan.

Yang dimaksud dengan kriteria tradisional keserupaan dalam hal ini adalah karakteristik fisik, penggunaan akhir, selera dan kebiasaan konsumen dan klasifikasi tarif.

Dasar panel WTO menyatakan bahwa AS telah melakukan tindakan tidak konsisten dalam hal interval waktu merujuk pada keputusan menteri-menteri di Doha yaitu interval waktu yang diberikan paling tidak enam bulan. (IH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *