Berita Internasional Kebijakan Mancanegara

Vietnam Sediakan Layanan Metadon di Lapas, Tetapi Masih Kekurangan Alat Suntik Steril

Hanoi – Vietnam meluncurkan layanan terapi rumatan metadon untuk pertama kalinya di lembaga pemasyarakatan, sebagai upaya mengatasi masalah ketergantungan napza dan penyebaran virus yang menular melalui darah seperti HIV dan Hepatitis C pada warga binaan pemasyarakatan.

Layanan terapi rumatan metadon dimulai di ibukota Vietnam, Hanoi tiga bulan lalu, tepatnya di Lapas Phu Son, demikian keterangan The United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) yang mendukung program tersebut. Pemerintah Vietnam berencana memperluas program serupa di lapas-lapas lainnya, termasuk lapas Than Xuan, yang juga berlokasi di Hanoi.

Kementerian Pelayanan Publik Vietnam memperkirakan bahwa sekitar 30% warga binaan pemasyarakatan menggunakan napza, dan pada tahun 2000, ketika data terakhir kali dikumpulkan secara komprehensif, 28% warga binaan pemasyarakatan di Vietnam terinfeksi HIV.

Sementara tidak tersedia angka pasti untuk tingkat infeksi Hepatitis C di lapas-lapas Vietnam, diperkirakan sekitar 74% pengguna napza suntik telah terinfeksi virus tersebut, demikian rilis Harm Reduction International (HRI). Sekitar 20% pengguna napza suntik di Vietnam telah terinfeksi HIV.

Memperkenalkan program metadon di lapas merupakan langkah yang cukup progresif, terutama dalam konteks regional; hingga kini di Asia, hanya Indonesia dan Malaysia yang menyediakan terapi substitusi opiat di lapas, yang di antaranya adalah metadon.Walaupun langkah ini membawa dampak positif, masih menjadi mengenai pentingnya layanan-layanan lain yang sejalan dengan perluasan program metadon dalam upaya menghambat penyebaran virus yang menular melalui darah.

Sebagai contoh, layanan alat suntik steril belum tersedia di rumah-rumah tahanan di Vietnam, yang sesungguhnya bila disediakan akan lebih berdampak positif dalam menghambat penyebaran virus yang menular melalui darah, karena praktik berbagi jarum suntik telah dikurangi.

Secara global, program substitusi opiat di lapas hanya tersedia di 43 negara, menurut data HRI tahun 2014. Angka ini termasuk rendah bila dibandingkan dengan ketersediaan program serupa di komunitas umum, yaitu 80 negara.

Lebih jauh lagi, penyediaan metadon di lapas merupakan bagian dari gerakan perluasan layanan substitusi opiat di Vietnam. Antara 2012-2014, Vietnam telah meningkatkan jumlah program substitusi opiat dari 41 menjadi 80 lokasi.

Bila Vietnam serius untuk menangani HIV dan Hepatitis C pada pengguna napza suntik, maka perlu dipastikan bahwa paket pengurangan dampak buruk yang disediakan adalah komprehensif. Di luar peningkatan layanan substitusi opiat, justru ada penurunan pada penyediaan alat suntik steril, dan jumlah jarum suntik steril yang disediakan bagi pengguna napza suntik berkurang hampir 50% sejak 2012, demikan laporan HRI. Upaya penyediaan metadon di lapas patut dihargai, tetapi pemerintah Vietnam diharapkan dapat menyediakan layanan pengurangan dampak buruk napza yang memenuhi kebutuhan pengguna napza secara luas.(talkingdrugs/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *