Berita Nasional

Tujuh Warga Binaan Lapas Kerobokan Meninggal Akibat HIV/AIDS

logo lapasDenpasar – Kelompok Kerja Penanggulangan HIV/AIDS Lapas Kerobokan Bali menyebutkan ada tujuh penghuni lapas tersebut yang meninggal akibat terinfeksi HIV/AIDS selama 2009.

Ketua Kelompok Kerja Penanggulangan HIV/AIDS Kapas Kerobokan dr Anak Agung Gde Hartawan di Denpasar, Minggu (27/12) menjelaskan, jumlah pengidap HIV/AIDS positif yang meninggal dari tahun ke tahun cukup fluktuatif.

“Pada 2008 ada enam orang yang meninggal, 2007 sebanyak lima orang, sedangkan pada 2006 sebanyak tiga orang,” katanya.

Sebagian besar pengidap HIV sudah terinfeksi sebelum masuk lapas dan penularan tertinggi karena hubungan seksual, bukan lagi melalui jarum suntik antarsesama pengguna narkoba.

“Saat masuk ke lapas, kondisi napi memang sudah lemah sehingga ketika mendapat penanganan dari tim medis pun sia-sia. Mobilitas orang di lapas sangat cepat, sebentar ada yang masuk, sebentar ada yang keluar,” ujarnya.

Banyak pengguna jarum suntik yang sudah menyadari cara penularan penyakit berbahaya ini sehingga ketika akan menggunakan jarum suntik, dilakukan pensterilan dengan cara direndam dengan pemutih pakaian atau mengganti jarumnya terlebih dahulu.

Menurut dia, pada 2004-2005 kasus penularan HIV di lapas itu didominasi para pengguna jarum suntik, namun sejak tahun 2006 mulai ditemukan penularan perilaku seksual satu kasus, 2007 ada dua kasus, 2008 ada tiga kasus, dan semua itu ditemukan bukan dari napi kasus narkoba, melainkan tindak pidana umum.

Mobilitas penghuni lapas yang cukup tinggi, kata Hartawan, cenderung mempersulit penanganan bagi pengidap HIV di lapas. “Pelayanan kesehatan bisa diberikan selama mereka di dalam lapas. Tapi tidak jarang mereka masuk lapas dalam kondisi kesehatan yang sudah sangat drop,” cerita Hartawan.

Selain pelayanan kesehatan bagi pengidap HIV, Kelompok Kerja Penanggulangan AIDS Lapas Kerobokan yang sudah terbentuk sejak 2002 juga melakukan program pencegahan penularan HIV melalui berbagai jenis program penyuluhan. Program tersebut juga diarahkan pada upaya penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV.

“Hasilnya mulai terlihat, keterbukaan penghuni lapas sudah mulai bagus. Keinginan mereka untuk melakukan tes HIV kini sudah makin besar, karena merasa stigma itu sudah sedikit terkikis,” ujarnya.

Hanya saja tenaga medis di Lapas Kerobokan masih terbatas, yakni enam orang yaitu dokter umum, dokter gigi, dan empat perawat.(Ant)