Advokasi Berita Internasional Berita Nasional Hukum Kebijakan Mancanegara

TKI Divonis Mati, Legislator Desak Pemerintah Turun Tangan

Jakarta – Anggota Komisi IX DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Partaonan Daulay mendesak pemerintah untuk memberi perhatian dan bantuan secara serius terhadap Rita Krisdianti, tenaga kerja Indonesia di Malaysia yang divonis mati dalam kasus narkoba.

“Rita adalah korban kejahatan sindikat perdagangan narkoba. Dengan vonis hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan Malaysia, Rita nyata-nyata menjadi korban kejahatan orang lain, Mungkin karena ketidaktahuan dan kepolosannya, dia ditipu oleh sindikat narkoba lintas negara. Pola-pola seperti ini sudah menjadi modus dalam bisnis perdagangan narkoba,” kata Saleh melalui pesan singkat diterima di Jakarta, pada Selasa (1/6).

Saleh menekankan, pemerintah perlu segera mencari solusi agar Rita bebas dari hukuman. Saleh mengapresiasi bantuan hukum yang dilakukan, akan tetapi hal itu harus ditindaklanjuti dengan upaya lain, termasuk advokasi melalui jalur diplomatik.

Menurut Saleh, pemerintah memiliki aparatur yang cukup untuk menangani kasus Rita, seperti Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Luar Negeri, dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). “Bahkan di Kementerian Sosial ada juga salah satu direktorat yang menangani tenaga kerja migran bermasalah. Potensi yang dimiliki oleh semua lembaga itu harus dimaksimalkan,” katanya.

Saleh mengatakan tugas negara untuk melindungi seluruh rakyat harus betul-betul dipenuhi dan diwujudkan secara nyata. Apalagi, katanya, tenaga kerja migran seperti Rita bekerja di luar negeri untuk memenuhi keperluan keluarganya.

“Kasus seperti ini bukan yang pertama kali. Pemerintah tentu memiliki pengalaman. Perlu dipastikan bahwa pengalaman yang dimiliki pemerintah bisa menjadi modal dalam upaya membebaskan Rita dari hukuman,” katanya.

Pada 10 Juli 2013, Rita tertangkap oleh Otoritas Malaysia di Bandara Bayan Lepas, Penang, Malaysia; ia didapati membawa narkoba jenis metamfetamin (shabu) seberat 4,0164 kg di dalam tasnya. Menurut pengakuan Rita, ia tidak mengetahui isi tas tersebut. Rita menyatakan tas tersebut adalah milik WNI lain, yang mengatur perjalanannya dari Hongkong ke Penang.

Terkait vonis hukuman gantung itu, Kementerian Luar Negeri RI telah meminta pengacara untuk mengajukan banding, untuk meringankan hukuman Rita.(Yvonne Sibuea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *