Hukum

Tertangkap Bawa 0,2 Gram Shabu, Dituntut 5 Tahun Penjara

shabu

Denpasar – Kasus narkoba yang diadili di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar seakan tak ada habisnya. Hampir setiap hari, sedikitnya tiga perkara narkoba dimejahijaukan. Kamis (28/10) siang misalnya. Terdakwa Fajerin (25), menjadi salah satu “pesakitan” yang dihadapkan kepada majelis hakim.

Dengan mengagendakan tuntutan dari jaksa penuntu umum (JPU) Ari Dewanto, S.H., terdakwa terlihat santai mengikuti jalannya sidang. Di dalam sidang yang dipimpin Putu Suika, S.H., jaksa menuntut terdakwa dengan hukuman penjara selam lima tahun, kurangi masa tahanan.

“Menyatakan terdakwa telah telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara tanpa hak dan melawan hukum, menerima menjadi perantara dalam jual beli atau menyerahkan narkotika golongan I jenis shabu-shabu (SS),” tegas jaksa Ari.

Jaksa menilai, berdasarkan hasil pemeriksaan dan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, terdakwa terbukti melanggar pasal 114 ayat 1 UU No. 35 tahun 2009, tentang narkotika.

Di depan majelis hakim, JPU menguraikan, sejumlah saksi terutama saksi polisi membenarkan kalau terdakwa ditangkap karena menjadi perantara dalam jual beli SS. Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa pada Sabtu 1 Mei 2010 di Jalan Pulau Flores Gang VI No. 1 Denpasar.

Bermula dari tertangkapnya Kadek Danu Pantara (terdakwa dalam berkas terpisah). Saat ditangkap, Danu mengaku memiliki SS dari seseorang bernama Adi. Sayang, ketika diminta menunjukkan dimana alamat Adi, Danu mengaku tidak tahu.

Polisi selanjutnya meminta Danu untuk kembali memesan SS kepada Adi. Setelah menelepon, Adi meminta terdakwa untuk menunggu. Tak berselang lama, datang terdakwa Fajerin mengantarkan pesanan dan disuruh meminta uang Rp 800 ribu.

Begitu terdakwa menyerahkan barang, Danu langsung melemparkan paket SS seberat 0,2 gram itu. Sadar ada polisi, terdakwa sempat kabur, namun akhirnya berhasil ditangkap.

Keterangan polisi diperkuat dengan pengakuan terdakwa yang membenarkan semua perbuatannya. Selain menjadi perantara, terdakwa juga mengaku sebagai pengguna SS.

Selain tuntutan penjara, jaksa juga menuntut terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp 1 milyar, subsider enam bulan penjara.

Saat diberikan kesempatan untuk mengajukan pembelaan, penasihat hukum (PH) terdakwa, Made Suardika Adnyana meminta supaya majelis hakim memberikan keringanan hukuman untuk kliennya. Alasannya, terdakwa belum pernah dihukum dan mengakui terus terang perbuatannya.

Usai mendengarkan tuntutan dan pembelaan terdakwa, sidang dinyatakan ditunda dan akan dilanjutkan pada Kamis (4/11) mendatang, dengan agenda putusan.(Sur)