Hukum Peristiwa

Terpidana Seumur Hidup Ajukan Uji Materi Aturan Peninjauan Kembali

Mahkamah Konstitusi

Jakarta – Liem Marita, narapidana seumur hidup kasus narkoba, Kamis (27/1) mengajukan uji materi Pasal 24 ayat (2) UU No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 66 ayat (1) UU No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (MA), dan Pasal 268 ayat (3) KUHAP yang mengatur Peninjauan Kembali (PK) hanya bisa diajukan satu kali ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Pemohon yang dijatuhi hukuman seumur hidup dengan membatasi PK hanya satu kali telah menutup pintu keadilan untuk selamanya,” kata Kuasa Hukum Liem Marita, Muhammad Burhanuddin, di Jakarta.

Menurut Burhanuddin, aturan PK yang hanya sekali berpotensi menghilangkan hak masyarakat, khususnya pemohon untuk mendapatkan keadilan.

“Untuk kami mohon untuk narapidana seumur hidup atau hukuman mati diperbolehkan mengajukan PK lebih dari satu kali jika menemukan novum (bukti baru),” kata Burhanuddin.

Liem Marita alias Aling adalah terpidana seumur hidup yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang.

Wanita berumur 43 tahun ini divonis seumur hidup oleh putusan MA dalam  kasus kepemilikan 57 ribuan butir ekstasi.

Pada Desember 2010, narapidana yang disebut-sebut menikmati fasilitas mewah bersama Artalyta Suryani alias Ayin di tahanan ini mengajukan PK, namun ditolak MA.

Saat ini Aling hendak mengajukan kembali PK lantaran telah mengantongi bukti baru atau novum dalam status kepemilikan barang haram itu.

Namun, niat itu urung diwujudkan lantaran terganjal sejumlah aturan yang melarang pengajuan PK lebih dari satu kali.

Burhanuddin menilai aturan PK satu kali ini bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945 sepanjang untuk perkara pidana yang dijatuhi hukuman pidana mati atau seumur hidup.

Hal itu didasarkan pada hak asasi manusia karena konsep pemidanaan tidak hanya menekankan aspek pembalasan, tetapi juga aspek rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi pelaku tindak pidana.(Ant)