Berita

Terapi Obat Bantu Hentikan Kecanduan Nikotin

no smoking_150_100Jakarta – Terapi obat dapat menjadi pilihan untuk membantu kesulitan perokok menghentikan kecanduan mereka terhadap nikotin yang perlahan tapi pasti merongrong kesehatan tubuh.

“Sebelumnya kita hanya bisa menggunakan nikotin dosis rendah atau nikotin `patch`, sekarang ada pilihan obat. Ini bisa menjadi solusi mengatasi kecanduan nikotin,” kata Aulia Sani, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah pada Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, Rabu.

Hal itu dikatakannya pada acara peluncuran kampanye berhenti merokok “Break Free” di Jakarta.

Obat-obatan, menurut dia, beraksi membantu mengurangi gangguan yang muncul ketika seseorang berhenti merokok seperti konsentrasi yang turun, rasa pusing, ketidaknyamanan, gangguan tidur, kecemasan dan rasa ketagihan.

Selain itu, lanjut dia, obat juga membantu menghilangkan rasa nikmat yang diperoleh dari menghisap rokok.

Obat-obatan seperti Varenicline tartrate, kata dia, empat kali lebih efektif membantu pasien berhenti merokok dibandingkan terapi lain yang tidak menggunakan obat.

“Keamanan dan tolerabilitasnya juga baik,” katanya.

Ia menjelaskan penggunaan obat kadang menimbulkan dampak personal ringan sampai sedang pada pada awal terapi, biasanya berupa rasa pusing dan mual.

“Tapi jarang. Pasien-pasien yang saya tangani tidak ada yang mengeluhkan efek samping obat,” katanya.

Dokter spesialis kedokteran jiwa pada Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Tribowo T Ginting menambahkan selain penggunaan obat, terapi perilaku dan pendekatan psikologis juga penting untuk mengatasi kecanduan nikotin.

“Motivasi, niat dan komitmen bisa menjadi modal awal untuk berhenti merokok. Selanjutnya dukungan keluarga sangat penting dalam hal ini,” katanya.

Dukungan keluarga, menurut dia, bisa diekspresikan dengan menghargai keputusan pasien untuk berhenti merokok dan membangkitkan kewaspadaan mereka terhadap konsekuensi negatif akibat kebiasaan buruk mereka untuk meningkatkan motivasi.

“Sediakan waktu untuk mendukung mereka, luangkan waktu untuk mengalihkan pikiran dari rokok ke kegiatan lain yang positif. Bantu mereka mendapatkan apa yang diperlukan. Kalau perlu bikin perayaan atas setiap tahap keberhasilan mereka,” katanya.(Ant)