Berita Nasional

Tembakau, Industri Ratusan Triliun

tembakau

Jakarta – Tahun ini pemerintah menargetkan perolehan cukai tembakau sampai dengan Rp 58 triliun dengan produksi 245 miliar batang.

Ini merupakan kenaikan dari perolehan cukai tahun 2009 yang mencapai Rp 54 triliun.

Hitungan pertambahan cukai didasarkan antara lain pada meningkatnya perolehan laba dari sejumlah pabrikan rokok.

“Tahun lalu kami menyumbang cukai Rp 21 triliun dalam bentuk pajak cukai dan pajak korporasi,” kata Yos Ginting Direktur Korporasi PT HM Sampoerna, pabrikan rokok terbesar di Indonesia.

Sampoerna kini menguasai pasar dengan lebih dari 30% pangsa dan mempekerjakan 29 ribu pegawai.

”Itu belum termasuk pegawai tidak tetap kami di berbagai daerah, jaringan agen dan penjualan, agensi iklan dan lain-lain,” tambah Yos.

Ekonomi tembakau telah berkembang pesat sejak dimulai di Indonesia awal abad 19 dan kini menjadi gantungan hidup jutaan keluarga.

Waluyo, 52 tahun, sudah 30 tahun bekerja sebagai sopir truk pengangkut rokok produksi PT Gudang Garam di Kediri Jawa Timur.

“Saya punya rumah dari Gudang Garam, menyekolahkan anak juga Gudang Garam, semuanya lah,” kata Waluyo sambil tersenyum.

“Kalau tidak ada Gudang Garam, tidak tahu bagaimana nasib kami”

Waluyo

Meski kini setengah tuli akibat mengemudi truk selama 30 tahun, Waluyo merasa bersyukur rokok menafkahi keluarganya dengan layak.

“Kalau tidak ada Gudang Garam, tidak tahu bagaimana nasib kami,” Waluyo menambahkan.

Gudang Garam dalam laporan keuangannya tahun lalu mengatakan kini mempekerjakan 38 ribu pegawai tetap, tetapi terdapat jutaan keluarga bergantung pada raksasa sigaret kretek ini karena terkait dalam rantai produksi rokoknya.

Produsen rokok kecil juga merasakan perbaikan ekonomi dari industri rokok.

“Walaupun kecil, pasar kami jelas: rokok untuk kalangan bawah,” kata Rusdi RM, pemilik pabrik rokok Rahman Putra di Kudus Jawa Tengah.

Pabrik Rusdi beroperasi bila ada pesanan untuk daerah-daerah pelosok seperti Ciamis di Jawa Barat, atau Cilacap di Jawa Tengah.

“Saya sanggup mempekerjakan 12 buruh kalau pesanan ramai,” tambah ketua Koperasi Pemilik Pabrik Rokok Kudus ini.

Sampai 2006, masih ada ribuan pabrikan kecil di seluruh Indonesia, dengan konsentrasi terbesar di Kudus dan sekitarnya di Jawa Tengah serta Sidoarjo dan sekitarnya di Jawa Timur.

Perang klaim

Sektor lain yang langsung terkait adalah budi daya tembakau, yang kini dilakukan petani di sebagian Jawa Tengah, Madura dan Nusa Tenggara Barat.

Dalam sebuah iklan yang diluncurkan Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia Februari lalu, tembakau disebut-sebut sebagai gantungan hidup lebih dari 20 juta orang di Indonesia.

Angka ini dibantah oleh buku Ekonomi Tembakau, diterbitkan sejumlah peneliti dan Lembaga Demografi UI.

“Pekerja langsung sektor tembakau adalah buruh industri. Tahun 2006 menurut BPS jumlahnya mencapai 362 ribu pekerja,” kata Abdillah Ahsan, salah satu penulis.

“Sementara jumlah petani tembakau menurut BPS tahun 2007 mencapai 582 ribu orang,” tambahnya.

Dengan asumsi terdapat tambahan satu juta jiwa petani cengkeh, bahan campuran terpenting dalam rokok kretek setelah tembakau, maka jumlah pekerja langsung sektor tembakau “tak lebih dari dua juta,” simpul Abdillah.

“Untuk menghitung pekerja tak langsung di bidang iklan, agen penjualan dan lain-lain, perlu dilakukan penelitian tersendiri.”

“Kalau disebut tembakau bernilai ekonomi tinggi, mengapa petani sejak dulu hingga sekarang begitu-begitu saja keadaannya”

Abdillah Ahsan

Dalam penelitian lainnya, Abdillah menyimpulkan bahwa petani tembakau di Temanggung, Kendal dan Klaten –tiga wilayah penghasil tembakau utama di Jawa Tengah– tidak keberatan beralih pada tanaman lain selama lebih menguntungkan.

“Kalau disebut tembakau bernilai ekonomi tinggi, mengapa petani sejak dulu hingga sekarang begitu-begitu saja keadaannya?” kata Abdillah.

Wongso Pawiro, 85 tahun, yang sudah puluhan tahun bertani tembakau di Temanggung, membantah penelitian itu.

“Jauh bedanya (menanam tembakau) dengan menanam cabai atau kol. Pasti geger kalau dilarang (menanam tembakau),” katanya.

Dalam hitungan petani, panen tembakau yang berhasil bernilai sedikitnya lima kali lipat panen sayuran.

Tembakau hanya butuh lima bulan untuk tumbuh dan panen raya biasanya antara Juli-Agustus. Harga per kilonya mencapai Rp 15 hingga Rp 850 ribu untuk tembakau premium.

Agus Parmuji, seorang petani tembakau di Temanggung Jawa tengah, mengatakan 1 ha lahan, sedikitnya menghasilkan Rp 50 juta saat panen berhasil.

Sementara harga sayur-mayur sangat fluktuatif, dan pada masa panen raya justru turun drastis.

Debat RPP

Perdebatan tentang ekonomi tembakau muncul kembali setelah muncul rencana menerbitkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) pengendalian dampak tembakau.

“Kalau RPP ini berlaku, akan dikemanakan ratusan ribu petani tembakau kita”

Nurtantio Wisnu Brata

RPP muncul sebagai konsekuensi atas disahkannya revisi UU Kesehatan tahun lalu, yang menyebut tembakau sebagai zat adiktif dan karena itu harus diatur produksi maupun pemasarannya.

Meski belum pernah secara resmi diumumkan, isi RPP yang disusun Departemen Kesehatan sudah menyulut aksi protes.

Ribuan petani anggota Asosiasi Petani Tembakau Indonesia mendatangi Gedung DPR dan Depkes Februari lalu memprotes RPP.

“Kalau RPP ini berlaku, akan dikemanakan ratusan ribu petani tembakau kita,” kata Nurtantio Wisnubrata, Ketua APTI Jawa Tengah.

“Pemerintah jangan hanya menerawang dari Jakarta, mereka juga harus bisa melihat (dampak) kalau tembakau hilang dari Indonesia,” jerit Wisnu ditengah riuh sambutan ratusan peserta aksi demo.

Petani tembakau mengancam melakukan aksi protes lebih besar bila RPP tetap dilanjutkan.(BBC)