Opini

SWAT dan Perang Terhadap NAPZA: Sebuah Lisensi Untuk Membunuh

NormStamper_150_100
Norman Stamper, Retired Seattle Chief Police

Oleh : Norman Stamper *

Columbia, Missouri – Pagi ini, 1.2 juta orang menonton video yang diunggah di YouTube, penyerbuan pasukan khusus Special Weapon and Tactic (SWAT) di rumah tersangka pengedar narkotika,psikotropika dan zat adiktif lain (NAPZA) di daerah pinggiran Columbia, Missouri, Amerika Serikat. Video tersebut direkam oleh para polisi sendiri, dan menjadi demikian terkenal setelah diunggah awal bulan ini.

Mudah ditebak, banyak individu yang menyaksikan video tersebut,terhentak saat menyimak dan mendengar (suara letusan pistol, raungan anjing yang terluka), segera menghentikan tayangan video.

Apa yang terjadi pada keluarga di Missouri tersebut, serbuan polisi paramiliter yang menakutkan, meninggalkan dua anjing peliharaan tuan rumah tertembak, satu mati, dan sepasang suami istri serta seorang anak berusia tujuh tahun mengalami trauma, hal ini adalah hal yang sangat biasa terjadi di Amerika. Dan ini sama sekali tidak mencerminkan Amerika.

Radley Balko menulis dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 2006 oleh Cato Institute berjudul ” Overkill: the Rise of Paramilitary Police Raids in America”. Dalam dokumen tersebut disebutkan,”Penyerbuan berkala ini terus menerus meningkat, kira-kira 40.000 kali per tahun, dan sayangnya justru menyasar pengguna NAPZA non kekerasan, orang yang tak sengaja berada di lokasi kejadian, dan korban salah tangkap yang terkejut saat mendapati rumah mereka diserbu saat mereka sedang tidur, biasanya oleh sebuah tim unit paramiliter bersenjata berat yang bukannya berseragam polisi, tapi berseragam tentara.

Penyerbuan ini membawa kekerasan dan provokasi yang tidak seharusnya pada tersangka pengguna NAPZA non kekerasan, banyak diantara mereka dituduh bersalah hanya karena hal-hal sepele.

Banyak orang yang tewas dalam penyerbuan ini: orang tua, anak-anak, hewan peliharaan, tersangka pengedar NAPZA, petugas kepolisian. Dan apa yang didapatkan? Sebuah pipa, sebuah alat penggiling daun ganja, sejumlah kecil ganja? Inilah yang didapatkan oleh polisi Columbia pada penyerbuan ke rumah Jonathan Whitworth (25).

Saya masih menjadi seorang polisi muda di Departemen Kepolisian San Diego pada 1967, ketika seorang polisi dari Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) bernama John Nelson menyarankan LAPD untuk membentuk unit SWAT. Atasan Nelson, Daryl Gates yang sangat dicintai para anak buahnya, tetapi sangat dibenci masyarakat, menandatangani proposal tersebut. Hal yang sangat masuk akal. Karena tak ada satu akademi polisi-pun di Amerika yang mempersiapkan polisi untuk misi berisiko tinggi.

Dalam sebuah laporan yang dipersiapkan setelah bentrokan bersenjata legendaris pada 1974 yang melibatkan LAPD dan Tentara Pembebasan Symbionese (Symbionese Liberation Army), sebuah kelompok militan sayap kiri yang sering melakukan kejahatan dengan kekerasan. Pejabat LAPD menyebutkan 4 alasan mengapa mereka membentuk 15 tim SWAT:(1)kerusuhan, (2) munculnya para penembak jitu, (3) pembunuhan berlatar belakang politik, dan (4) kelompok milisi gerilya kota (merujuk pada Panther, sebuah milisi sayap kanan pada era tersebut).

Menyadari tidak disebutkannya fungsi utama dan wilayah kerja SWAT, pasukan ini akhirnya menangani pembebasan sandera dalam perampokan bank, panggilan darurat masalah kekerasan domestik, penyanderaan di tempat kerja dan sekolah, serta serangan teroris.

Dalam dokumen LAPD juga tidak disebutkan hal-hal yang sekarang menjadi alasan terpopuler memanggil pasukan SWAT: kecurigaan adanya peredaran NAPZA. Polisi Columbia telah menerima informasi dari sumber mereka bahwa seorang pemuda berusia 25 tahun bernama Jonathan Whitworth memiliki “gudang penyimpanan” ganja dirumahnya.

Sejak masa kepresidenan Richard Nixon sampai dengan Barack Obama, pemerintah federal Amerika telah memprakarsai dan mempromosikan “perang suci” melawan warga negara mereka sendiri. Saya telah sering menulis dalam berbagai artikel, dampak negatif apa saja yang telah dihasilkan oleh Perang Terhadap NAPZA rekaan Amerika ini: bilyunan dolar terbuang sejak deklarasi perang di jaman Nixon, puluhan juta warga Amerika dipenjarakan karena kasus NAPZA non kekerasan, hilangnya nyawa orang-orang tak berdosa, kebebasan sipil terenggut. Individual, masyarakat dan seluruh negara menjadi tidak aman, rusaknya lingkungan hidup karena pemusnahan tanaman NAPZA, destabilisasi ekonomi dn politik luar negeri, dan masih banyak lagi.

Sejak peristiwa 9 September, milyaran dolar dana dari kantung Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika mengalir dari pemerintah federal ke yurisdiksi lokal dimana agen-agen polisi berebut mendirikan unit SWAT, walaupun di daerah desa terpencil sekalipun.

Mereka menggunakan dana dari uang pajak rakyat Amerika untuk membiayai penyerbuan paramiliter ke rumah-rumah penduduk yang dicurigai sebagai pengedar NAPZA.

Beberapa pertanyaan terkait praktek dan penggunaan uang pajak tersebut:

1. Berapa banyak dari penyerbuan ini yang akhirnya menyandang predikat tak berguna, salah informasi, saling fitnah antar informan untuk mematikan pengedar NAPZA saingannya?

2. Berapa banyak penyerbuan yang dilakukan disaksikan oleh orang-orang tak berdosa dan anak-anak dalam rumah tersebut?

3. Berapa banyak penyerbuan yang benar-benar diperlukan?

Masalah bukan terletak pada pasukan SWAT semata-mata. SWAT sangat berguna ketika personilnya sangat terpilih, terlatih dengan benar, matang dan disiplin, dimana misi utamanya adalah untuk menyelamatkan, bukan membahayakan nyawa orang lain.

Tidak ada yang lebih dibutuhkan daripada sebuah tim terlatih yang dilengkapi penembak jitu dan –seorang negosiator sandera yang mumpuni– saat situasi benar-benar membutuhkannya.

Anggota SWAT di Departemen Kepolisian San Diego dan Seattle, dua institusi yang sangat saya kenal, memiliki pengalaman panjang yang membanggakan dalam menyelamatkan sandera, dan sangat jarang harus membunuh si penyandera.

Selama Amerika, para anggota senat, serta para pimpinan politik masih mengalami ketergantungan pada Undang-Undang NAPZA yang sekarang ini berlaku, para polisi mau tak mau harus melaksanakan Undang-Undang tersebut.

Tetapi dimanakah tertulis bahwa polisi harus menyerbu ditengah malam, bersenjata dan bertameng dalam melakukan misi tersebut?

Sesungguhnya sistem intelejen yang ada sekarang, hasil penelitian para ahli, pemeriksaan kendaraan di jalan raya pada pukul 3 sore, atau penggeledahan yang disahkan pengadilan pada rumah yang dikosongkan terlebih dulu, sudah cukup sebagai upaya penanggulangan sehingga dapat meminimalkan korban yang jatuh saat polisi melaksanakan tugas.

*Norman Stamper adalah pensiunan Kepala Departemen Kepolisian Seattle, anggota  Law Enforcement Against Prohibition (LEAP)