Sponsor dan Iklan Rokok Belum Terganti

May 24th, 2010

no smoking_150_100Jakarta – Produk rokok masih menempati urutan pertama sebagai penyedia dana dunia olahraga dan seni pertunjukan di Indonesia.

Setelah berjalan enam puluhan tahun terakhir, belum ada produk lain yang bisa menggantikan tempat produk rokok.

Daya beli kebanyakan masyarakat Indonesia masih rendah, kata promotor musik terkenal, Adrie Subono. Karena itu dana sponsor dari rokok masih sangat dibutuhkan.

“Perusahaan yang banyak sekali bantu ya produk rokok, walaupun sekarang mulai ada juga produk lain yang mulai melirik event semacam itu,” tambah Adrie.

Adrie adalah promotor yang kerap mendatangkan artis internasional ke Jakarta dan memanggungkan artis idola remaja asal AS, Kelly Clarkson, akhir April lalu. Pertunjukan itu mulanya disponsori oleh salah satu merek dari pabrikan rokok besar, Djarum.

Ribuan surat dan petisi dikirim penggemar Clarkson memprotes konser yang disponsori produk rokok.

Di AS, rokok dilarang menjadi sponsor acara hiburan, olahraga dan dilarang beriklan di di media atau ruang terbuka.

Di Indonesia, kasus Clarkson adalah pertama kalinya produk rokok mundur dari sponsorship akibat tekanan publik.

Selain di panggung pertunjukan rokok juga berjaya di arena olahraga.

Hampir tak ada peristiwa olahraga besar atau kecil yang bebas dari sponsor rokok di Indonesia.

Pabrikan besar rokok masing-masing punya sedikitnya puluhan miliar dana guna mengatrol nama mereka di balik panji olahraga.

Djarum punya sumbangan besar lewat berbagai ajang olahraga, terutama bulutangkis.

“Saya merasakan pasti akan sangat sulit kalau kita harus lepas dari sponsor rokok” Rita Soebowo.

PB Djarum sampai kini masih aktif mencetak juara dunia melalui klub yang dibina pabrik rokok di kota Kudus itu.

“Djarum adalah ‘jantung’ bulutangkis nasional,” kata Hastomo Arbi, mantan juara dunia yang kini jadi pelatih disana melukiskan betapa pentingnya klub itu untuk dunia bulutangkis nasional. Liem Swie King, Haryanto Arbi, adalah beberapa contoh bagaimana PB Djarum mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

Sementara Sampoerna selain berkiprah di banyak cabang olahraga, sangat populer membiayai invitasi bola voli nasional bahkan Asia, melalui Sampoerna Hijau pro Liga, sejak 2001.

Gudang Garam tidak ketinggalan. Pabrikan besar yang bermarkas di Kediri ini punya spesialisasi sponsor olahraga bidang otomotif.

“Saya merasakan pasti akan sangat sulit kalau kita harus lepas dari sponsor rokok,” kata Rita Soebowo, ketua Komisi Olahraga Nasional Indonesia.

Mengarah ke sana

Meski rokok relatif sedikit beriklan di media cetak, promosi produk ini menjadi salah satu sumber perolehan dana terbesar kelompok televisi.

Menurut riset Nielsen Advertising Services, empat bulan pertama tahun ini saja, di televisi nilai iklan rokok mencapai Rp 351 miliar, naik 12 % dari tahun lalu. Iklan rokok juga merupakan satu dari empat iklan terbesar industri televisi.

Tetapi iklan juga dituding sebagai penyebab utama membengkaknya jumlah perokok muda di Indonesia.

Survey Global Youth Tobacco tentang perokok usia sekolah 13-15 tahun menunjukkan, sebagian besar perokok muda Indonesia tertarik ikut merokok atas ajakan teman atau karena tergiur iklan rokok.

1 dari 3 pelajar, menurut survey WHO tahun 2006 itu, mengaku merokok.

Survey lain yang yang diadakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia, menurut ketuanya Seto Mulyadi, menunjukkan perokok bocah di bawah usia 10 tahun, meningkat 400% lima tahun terakhir.

Seto menyalahkan iklan sebagai biang keladi pertumbuhan perokok anak dan remaja.

”Merokok dicitrakan sebagai gaul, keren, enggak ada lu enggak rame,” kata Seto Mulyadi, pegiat anak mengutip salah satu bunyi iklan rokok.

Djarum Coklat yang diproduksi PT Djarum misalnya, mengikat kontrak dengan band Padi, Gigi dan Nidji, untuk menyanyikan lagu tema produknya yang kerap diputar di televisi.

Ketiga band itu dikenal sebagai idola remaja di Indonesia.

Seto mengatakan kebanyakan iklan produk rokok jelas ditargetkan pada perokok mula, di mana bentuk dan gambarannya dicitrakan sesuai jiwa anak muda.

”Bahkan dalam berbagai acara ada pembagian rokok gratis,” kecam Seto Mulyadi.

Bantah pengusaha

Direktur korporasi PT HM Sampoerna Yos Ginting membantah.

”Kami selalu menetapkan aturan internal bahwa iklan ditujukan pada konsumen dewasa, dimana event yang kami sponsori dikunjungi oleh warga usia 18 tahun keatas,” kata Yos.

Namun dalam tiap pertunjukan musik, hiburan atau olahraga yang disponsorinya, perusahaan rokok hampir tak pernah melakukan pengecekan terhadap siapa saja pengunjungnya.

Berjayanya rokok sebagai sponsor iklan tak lepas dari dana berlimpah yang memang dianggarkan pabrikan besar untuk menggenjot kampanye baik penjualan maupun mengerek citra positif perusahaan.

Industri rokok diperkirakan bernilai ratusan triliun rupiah, triliunan diantaranya habis untuk beriklan saja.

Tetapi kondisi ini kemungkinan tak akan bertahan.

”Statuta IOC mengatakan tidak boleh ada sponsor rokok di arena olahraga, dan kita sebagai negara anggota mau tidak mau harus ikuti itu,” kata Ketua KONI Rita Soebowo

Saat ini KONI menurut Rita, mencoba mencari sumber pendanaan lain dalam bentuk program ”satu BUMN satu olahraga”, untuk perlahan-lahan melepaskan ketergantungan terhadap produk rokok.

Promotor pertunjukan musik terbesar di Indonesia, Peter Gontha, mengatakan tren yang sama akan berlaku di dunia hiburan.

”Sudah dua tahun kami tidak lagi menggunakan rokok sebagai sponsor utama Java Jazz Festival,” kata Gontha mengutip nama pertunjukan yang digelarnya tiap tahun sejak 2001.

Menurut Gontha artis yang berasal dari negara maju kerap keberatan tampil atas dana dari perusahaan rokok.

Kasus Clarkson juga menunjukkan mau tak mau industri pertunjukan tanah air harus mau menyesuaikan diri bila tetap ingin menampilkan artis asal AS atau Eropa.

Total ban

Dalam RPP pengendalian dampak tembakau yang banyak diperdebatkan, iklan rokok tidak lagi diberi ruang.

”Kita menganut prinsip total ban, di mana iklan rokok sama sekali tidak diperbolehkan tampil, juga untuk sponsor,” kata Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih.

Namun butir ini belum tentu disetujui melihat besarnya tentangan dari kelompok industri.

”Sudah dilarang diputar, hanya boleh jam-jam tertentu, kenapa masih harus dilarang lagi?” protes Wisnu Brata, ketua Asosiasi Petani tembakau Indonesia Jawa Tengah.

Sementara meski mengaku setuju, pabrikan seperti Sampoerna menilai larangan iklan total terlalu berlebihan.

”Harus bertahap karena iklan melibatkan banyak pemangku kepentingan,” kata Direktur Sampoerna, Yos Ginting.

“Sudah dilarang diputar, hanya boleh jam-jam tertentu, kenapa masih harus dilarang lagi?”

Wisnu Brata

Iklan rokok di televisi dan radio dibatasi mengudara antara pukul 2130 sd 0500 pagi.

Bila ada anak menonton pada jam tersebut, menurut Yos tanggung jawab bukan pada iklan tetapi pada orangtua.

Sebaliknya kelompok anti tembakau menganggap aturan jam tayang kerap diselewengkan.

”Sekarang banyak film remaja dan anak justru diputar diatas jam-jam tersebut,” kata Mia Hanafiah, Wakil Ketua Komnas Penanggulangan Tembakau, menuding televisi bekerjasama dengan pabrik rokok untuk memutar iklan dengan penonton remaja.

Indonesia adalah satu dari sangat sedikit negara yang masih memperbolehkan iklan rokok bebas dipertunjukkan di media dalam maupun luar ruang. Negara tetangga seperti Thailand, Malaysia maupun Singapura sudah lama melarang hal tersebut.(BBC)

Komentar

Iptek

  • Rudhy Wedhasmara

    Rudhy Wedhasmara: Memilih Bertarung di Jalur Hukum

    Lembang – Perbukitan telah dilingkupi kegelapan sempurna, ketika NapzaIndonesia memulai wawancara dengan Rudhy Wedhasmara yang...

  • Anak Dengan HIV/AIDS Tidak Bisa Sekolah Karena Ada Penolakan

    Yogyakarta – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dinilai telah melanggar hak asasi anak karena tak mampu menjamin...

  • dr Suzanna Kepala Puskesmas Srondol Semarang

    Dr Suzanna, Sosok Dokter Kesayangan Pecandu NAPZA Kota Semarang

    Semarang – Dr. Suzanna, yang akrab disapa Bu Suzan oleh komunitas pecandu di kota Semarang,...