Berita Daerah Berita Lembaga Kegiatan

Sosialisasi Harm Reduction di Semarang Tidak Libatkan Organisasi Pengguna Napza

Semarang – Sosialisasi program Harm Reduction atau pengurangan dampak buruk bagi pengguna napza di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/4) petang ini ternyata hanya dihadiri oleh komunitas vespa dan komunitas tatto, sementara PERFORMA, komunitas pengguna napza, yang sejak 2006 berdiri sama sekali tidak diundang oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Semarang dan LSM Graha Mitra sebagai pelaksana program pengurangan dampak buruk pada pengguna napza suntik di Semarang.

Tidak diundangnya PERFORMA mengundang sejumlah pertanyaan dari beberapa peserta yang hadir, mengingat selama ini KPA Kota Semarang dan Dinas Kesehatan Kota Semarang justru banyak terbantu oleh peran PERFORMA dalam memberikan usulan program-program tepat guna bagi pengguna napza.

Salah satu contoh, keberadaan Program Terapi Rumatan Metadon di Jawa Tengah juga diinisiasi oleh PERFORMA yang pada 2006 memulai pendekatan pada instansi-instansi terkait untuk menyediakan layanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh pecandu heroin. Pada 2008, Kota Semarang mulai membuka klinik Metadon yang pertama di RSUD Dr. Kariadi, diikuti oleh pembukaan klinik-klinik Metadon lainnya di Semarang, Solo dan Purwokerto.

Menurut Direktur LSM Graha Mitra, dr Lies Agustin, pihak-pihak yang diundang dalam sosialisasi ini adalah Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP), Puskesmas pelaksana program Harm Reduction, Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang.

“Kami mengundang perwakilan komunitas di kota Semarang seperti komunitas vespa dan komunitas tato,” ujar Lies dalam pembukaan acara.

Menanggapi pertanyaan atas tidak dilibatkannya organisasi komunitas pengguna napza yang ada di Semarang, dokter yang ahli dalam penjangkauan waria di wilayah Semarang menyatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya Graha Mitra melaksanakan program Harm Reduction.

“Kami masih banyak kekurangan dalam hal koordinasi. Selama ini kami tidak melibatkan PERFORMA sebagai organisasi komunitas pengguna napza yang ada di Semarang, sehingga banyak permasalahan di lapangan yang tidak kami ketahui,” ujarnya.

Langkah kedepannya, ia berjanji akan berkoordinasi dengan organisasi komunitas pengguna napza untuk meningkatkan kualitas layanan Harm Reduction pada pengguna napza suntik di Kota Semarang.

Kepada NapzaIndonesia.com, Yvonne Sibuea, Koordinator PERFORMA mengungkapkan bahwa  KPA Kota Semarang dan Dinas Kesehatan Kota Semarang kurang memperhatikan layanan kesehatan bagi pengguna napza non heroin.

PERFORMA menerima banyak pengaduan dari pengguna ganja, shabu, pil ekstasi dan benzodiazepin yang tidak mendapatkan layanan yang tepat untuk ketergantungan napza yang mereka alami, tetapi justru terus menerus dianjurkan untuk menjalani terapi Metadon yang secara medis justru diperuntukkan bagi pecandu heroin.(IH)

2 thoughts on “Sosialisasi Harm Reduction di Semarang Tidak Libatkan Organisasi Pengguna Napza”

  1. “pengurangan dampak buruk penggunaan Vespa terkait penggunaan oli dan bahan bakar minyak yang semakin mahal akibat krisis global dalam perang melawan HIV dan AIDS,” ujar dr Lies.. 😀

  2. Kok bisa ya apa ada politisasi terhadap pecandu di sono….hehehehehehe
    Tetep semangat perjuangkan hak pecandu…..

    Salam HR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *