Peristiwa

Shabu Sehisap Sepuluh Ribu

shabu
paket shabu

Palembang — Peredaran narkoba jenis shabu-shabu kian marak di Kota Palembang, sampai ada dikenal istilah kampung shabu. Sejak Januari sampai Juni 2010 Poltabes mengungkap 78 kasus shabu, lebih tinggi dari ganja 30 kasus dan ekstasi 16 kasus.

Padahal harga narkoba jenis shabu terbilang mahal. Satu titik shabu di pasaran Rp 300 ribu. shabu satu titik itu berupa serbuk putih mirip vetsin seujung kuku, cukup untuk tiga orang. Masing-masing pemakai (normalnya) kebagian sepuluh kali isap yang berarti seisap asap shabu harganya Rp 10 ribu.

Penelusuran Sripo sepekan terakhir mendapati fakta bahwa shabu atau ubas tak hanya dikonsumsi kalangan ekonomi atas, tetapi juga sudah merambah ke kalangan menengah ke bawah. Meski tidak setiap malam, beberapa kelompok rutin patungan duit hampir setiap minggu untuk nyabu.

Alat yang digunakan untuk pesta shabu yang kian sederhana dan gampang diperoleh. Tidak perlu lagi tabung kaca seperti banyak terdapat di laboratorium, tapi cukup pakai botol plastik kemasan air minum, dua buah pipet, korek api gas yang dimodifikasi, dan pyrex (alat tetes telinga) sebagai pengganti alumunium foil. Proses pembuatan bong shabu itu tidak lebih dari dua menit.

Pyrex perangkat paling penting dalam mengonsumsi shabu, merupakan pipa kaca kecil tahan bakar yang di ujungnya terdapat karet penyedot. Alat ini biasa digunakan dunia kedokteran untuk mengambil cairan dan meneteskannya dengan cara memencet karetnya. Pyrex banyak dijual di apotek.

Saking tingginya permintaan pyrex akhir-akhir ini, Apotek Naurah di Jl Jend Sudirman Km 3 mesti menempel pengumuman ‘tidak menjual pyrex’ di kaca depan. Karyawan apotek mengatakan, pihaknya tidak menyediakan pyrex karena banyak disalahgunakan.

Pada penggunaannya, shabu dimasukkan ke tabung kaca lalu dibakar pakai nyala api yang sangat kecil. Asap hasil pembakaran shabu mengalir ke botol melalui karet pyrex dan pipet, kemudian asap diisap melalui ujung pipet yang satunya lagi.

Beda dengan ganja yang asapnya sedapat mungkin di tahan setelah diisap, para pengguna shabu langsung mengembuskan asap putih ke udara.

“Bisa jebol dada kalau asapnya tidak dibuang. Kalau ditahan sebentar tidak apa, efeknya malah lebih bagus,” kata AH (32), salah seorang pemakai shabu-shabu.

Karyawan swasta yang sering tugas ke luar daerah ini mengakui shabu cocok untuk mendukung pekerjaannya. shabu disebut memberi efek doping sehingga dia selalu bergairah, tidak mudah lelah dan tidak mengantuk. Menurutnya, shabu tidak memberi efek halusinasi seperti halnya ganja, malah lebih mirip ekstasi.

“Tubuh jadi lebih aktif, pikiran lebih fokus. Saya merasa lebih tenang,” kata An, rekan AH.

Dituturkan keduanya, pengaruh narkoba jenis shabu dirasakan selama 12 jam. Dua jam pertama usai mengisap belum begitu terasa, baru kemudian setelahnya tubuh terasa lebih ringan dan mata jadi lebih terang. Pada kondisi ini, biasanya pemakai jadi lebih banyak minum dan merokok.

Setelah 10 jam, terjadi penurunan efek. Pengguna berada pada pilihan kembali mengonsumsi atau stop. Konsekuensinya jika stop, rahang terasa kaku dan hilang hasrat untuk makan. Tubuh jadi lemas dan ngantuk tapi sulit tidur. Namun, AH membantah shabu membuat ketergantungan karena yakin bisa mengendalikannya.

Ketua Badan Narkotika Kota Palembang, Zailani UD SIp, mengatakan, methamphenamine (shabu) bisa membuat ketergantungan dan berhahaya. Salah satu efeknya meningkatkan libido sehingga sering digunakan di hotel-hotel.

“Aktivitas tubuh dipercepat berlebihan. shabu merusak tubuh, bahkan kematian karena over dosis,” katanya.

Ditambahkan Zailani, BNK Palembang melakuan upaya pencegahan agar tidak coba-coba, penegakan hukum, dab bantuan terapi rehabilitasi. Dua tempat rehablititasi di Er Rahman Tegalbinangun dan RS Ernaldi Bahar.

“Rata-rata sebulan 50 orang minta terapi, mereka bisa pilih dua tempat itu. Akhir-akhir ini shabu sedang marak,” katanya.

Kampung shabu Sepanjang Jl Slamet Riyadi dari Boombaru sampai perbatasan Jl Segaran dikenal sebagai pusat peredaran narkoba di Palembang.

Daerah ini disebut-sebut sebagai kawasan Texas kedua di Palembang setelah Kertapati. Peredaran shabu intens sejak lima tahun terakhir, setelah sebelumnya para pengguna narkoba setempat lebih dulu akrab mengonsumsi ineks.

Investigasi Sripo ditemani dua warga setempat mendapati di setiap lorong dan gang sepanjang Jl Slamet Riyadi mudah sekali mendapatkan shabu. Pengedar biasa nongkrong di persimpangan lorong mulai pukul 19.00 sampai dini hari menunggu pasien istilah mereka menyebut pembeli narkoba.

Terdapat tujuh lorong dan gang di wilayah Kelurahan 9 Ilir tersebut. Menurut keterangan warga asli setempat, terdapat 17 bandar besar yang memasok narkoba jenis shabu-shabu dan ineks berbagai merk.

Para bandar memanfaatkan jasa warga pendatang sebagai kurir dan pengedar. Tidak hanya pria dewasa, tapi juga anak kecil, remaja, sampai ibu rumah tangga. Pembeli bisa datang langsung menemui kurir atau terlebih dahulu menelepon ponsel dan janjian di satu tempat.

Am (52), tokoh masyarakat yang cukup disegani di wilayah itu mengungkapkan, faktor ekonomi yang menyebabakan kebanyakan masyarakat disekitarnya mau menjadi kurir narkoba. Kebanyakan warga hanya bekerja sebagai pedagang, tukang becak, tukang ojek dan rata-rata hanya tamatan SD.

“Penghasilan mereka pas-pasan lalu jadi kurir narkoba. Pekerjaan kurir juga cukup mudah dan upah yang diberikan cukup besar,” kata Am.

Hebatnya, mereka ini tidak takut ditangkap polisi. Di kalangan pengguna, wilayah ini akrab disebut kampung shabu. Ada pameo yang mengagetkan di kalangan ini.

“Tenang saja, jika tertangkap malam hari bisa bebas sebelum mantahari terbit”. Bisik-bisiknya, itu bisa terjadi karena ada kerjasama bandar dengan beking yang kuat oknum polisi.

Setiap pekan oknum tersebut rutin mendatangi bandar untuk mengambil upeti jasa pembebasan kurir yang ditangkap atau memberi tahu informasi penting, seperti akan ada razia.

Di kampung shabu itu ada tempat khusus yang letaknya tersembunyi di belakang rumah warga dan biasa digunakan oleh oknum aparat berseragam coklat untuk mengisap shabu.

Rumah tersebut beratapkan seng dan berdinding kayu. Oknum aparat yang datang biasanya langsung masuk ke rumah dibagian belakang tersebut dan menghisap shabu di dekat ruang dapur. Ruangan berukuran kecil 1,5 meter x 2 meter itu tersembunyi dari luar.

“Kalo dulu mereka biasa minum kopi beberapa gelas biar enggak ngantuk, eh ini malah hisap shabu, ada-ada saja,” ujar warga setempat.(Sripo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *