Berita Internasional Kebijakan Mancanegara

Setelah 21 Tahun Kontroversi, AS Siap Danai Program Jarum Suntik Steril

Washington D.C. – Pemerintahan Obama telah merancang program layanan jarum dan alat suntik steril sebagai salah satu program perawatan ketergantungan napza. Kebijakan ini memungkinkan anggaran pemerintah federal dialokasikan untuk mendanai distribusi jarum suntik untuk pengguna napza.

Perubahan ini menandai pergeseran dramatis pada argumen seputar program jarum suntik steril. Dua tahun lalu Presiden Obama menghapuskan 21 tahun pelarangan pendanaan program jarum suntik steril oleh pemerintah federal. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penyebaran HIV pada pengguna napza suntik.

Dengan posisi terbaru ini berarti tiap-tiap negara bagian dapat menerima dana dari pemerintah federal untuk program distribusi jarum suntik sebagai perawatan ketergantungan napza, demikian pernyataan Kepala Operasional Komisi Layanan Kesehatan Masyarakat AS, Dr. Regina M. Benjamin.

Perubahan ini ditanggapi negatif oleh John P. Walters, mantan Kepala Office of National Drug Control Policy (ONDCP) dibawah pemerintahan Presiden George W.Bush. “Kebijakan ini ibarat memberikan korek api pada perokok untuk menolong mereka berhenti merokok.Menurut saya hal ini absurd, konsekuensinya adalah memaparkan risiko lebih besar pada pengguna napza suntik,” tegas Walters.

Pengumuman ini dikeluarkan pada Jumat (18/2) sebelum liburan Presidents Day.

Dr. Regina M. Benjamin menyatakan kepada The Washington Examiner bahwa program jarum suntik steril dapat berfungsi sebagai pintu masuk menuju ke perawatan ketergantungan napza, pencegahan penyebaran HIV dan penyakit lainnya.

Ia mengutip sebuah riset lama berusia 11 tahun yang dipublikasikan di Journal of Substance Abuse Treatment yang menyatakan bahwa persentase pecandu napza peserta program jarum suntik steril yang  kemudian memasuki panti rehab lima kali lebih besar dari pecandu yang tidak mengenal program jarum suntik steril.

Dr. Lisa Merlo, Asisten Profesor di Fakultas Psikiatri University of Florida mengatakan bahwa pengguna napza yang mengikuti program jarum suntik steril didapati lebih berpartisipasi aktif dalam program pemulihan ketergantungan napza lainnya.

Tetapi Dr. Scott Teitelbaum, Direktur Florida Recovery Center yang dinaungi oleh University of Florida berpendapat lain. “Masih menggunakan jarum suntik artinya bukan pemulihan,” tegasnya.

Dr. Robert L. Dupont, Presiden Institute for Behavior and Health di Rockville menyatkan bahwa sangat mungkin bagi pecandu napza untuk mencari layanan pemulihan ketergantungan napza setelah mendapatkan layanan jarum suntik steril terlebih dulu, tetapi ada cara yang lebih murah untuk memotivasi pengguna napza mencari layanan pemulihan.

“Bila seseorang memberikan minuman beralkohol secara gratis dengan tujuan memulihkan ketergantungan alkohol, mereka akan ditertawakan,” tambah Dupont. “Tetapi dalam dunia keilmuan napza, penyediaan jarum suntik steril merupakan hal yang terbukti secara saintifik.”

Cara yang lebih efektif adalah dengan mengalokasikan dana pada rumah-rumah singgah dan komunitas pecandu napza, serta mengajak para pecandu napza menjalani perawatan ketergantungan, ungkap Dupont dan beberapa pakar ketergantungan lainnya.

Beberapa kritikus mengatakan bahwa kebijakan baru AS ini meniru pendekatan ketergantungan napza a la Eropa, di mana pemerintah menyediakan napza dan ruang steril untuk menyuntikkan napza.(wshexm/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *