Berita Nasional Hukum

Selundupkan Heroin, Christina Aritonang Dituntut 20 Tahun Penjara

PN Boyolali

Boyolali – Christina Aritonang (45) warga Pontianak yang terlibat kasus penyelundupan heroin seberat 1,496 kilogram dituntut 20 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum, dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Boyolali, Kamis (27/10).

Jaksa penuntut umum (JPU) Sri Harna dalam tuntutannya, mengatakan, terdakwa I, Christina Aritonang, terbukti bersalah melakukan kerja sama tindak pidana dengan terdakwa II, Inna Langkat (31), dan terdakwa III, Eric Adjid (26), keduanya warga Kupang NTT, dalam jual beli atau menjadi perantara narkoba.

Jaksa juga menuntut terdakwa II, Inna Langkat dan terdakwa III, Erik Adjid, dengan hukuman penjara selama 20 tahun atau sama dengan Christina.

Menurut JPU, perbuatan ketiga terdakwa tersebut telah menyakinkan terbukti sesuai dengan surat dakwaan jaksa penuntut umum, Pasal 113 Ayat (2) UU RI No.35/2009, tentang pembeli, dan mengedarkan nakotika golongan I lebih dari lima gram. Junto Pasal 132 Ayat (1) UU 35/2009, tentang Narkotika dalam dakwaan alternatif kedua.

Selain itu, jaksa juga menuntut ketiga terdakwa membayar denda sebanyak Rp1 miliar atau mengganti penjara enam bulan. Hal yang meringankan ketiga terdakwa belum pernah dihukum.

Sidang kasus penyelundupan heroin yang melibatkan ketiga terdakwa tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim Bambang Eka Putra. Sementara terdakwa Christina didampingi penasehat hukumnya Agung Dwijo Sujono sementara kedua terdakwa lainnya, Inna Langkat dan Erik didampingi Joko Mardiyanto.

Sebelumnya terdakwa Christina Aritonang ditangkap petugas Bea Cukai di Bandara Adi Sumarmo Boyolali, pada Senin (9/5), karena terbukti membawa barang terlarang berupa heroin seberat 1,496 kilogram senilai Rp2,3 miliar tanpa disertai surat izin dari instansi terkait.

Mendengar dirinya dituntut hukuman 20 tahun penjara oleh jaksa, terdakwa Christina langsung menangis karena merasa tidak tahu kalau tas yang dibawanya dari Malaysia ke Indonesia berisi narkotika.

Menurut Christina, dirinya hanya diperintah oleh terdakwa Inna Langkat untuk membawa tas untuk diberikan kepada Inna.

Menurut penasihat hukum Christina, Agung Dwijo Sujono usia sidang, tuntutan JPU terhadap Christina yang sama dengan Inna dianggap tidak mendasar, karena bukti dalam persidangan Christina ini diperintah oleh Inna dan barang itu memang milik Inna.

“Hal itu, seharusnya jaksa melihat bukti lain seperti Christina mau diperintah kerja oleh Inna karena tergiur upah,” katanya.

Sementara Christina di sela-sela sidang tiba-tiba menangis karena mendapat berita dari penasihat hukumnya, kalau suaminya meninggal dunia di Pontianak, Kamis (27/10) ini.

Menurut Christina, permohonan Christina pulang ke Pontianak menengok suaminya tidak dikabulkan oleh PN Boyolali, karena menyangkut keselamatan yang bersangkutan.

Sementara penasihat hukum terdakwa dalam sidang tersebut diberikan waktu tujuh hari untuk diberikan hak memberikan pembelaan pada persidangan di PN, Kamis (3/11).(Ant/G)

2 thoughts on “Selundupkan Heroin, Christina Aritonang Dituntut 20 Tahun Penjara”

  1. Khasian ibu aritonang it…
    harus nya dia di beri kesempatan untuk bertemu suami nya buat yg terakhir kalinya
    mana keadilan buat ibu aritonang itu?

  2. Majelis Hakim PN Boyolali memang koplak dan tidak punya rasa kemanusiaan yang adil dan beradab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *