Berita Nasional Hukum

Selundupkan 45 Kilogram Shabu, WN Malaysia Divonis Mati PN Kalianda

Lampung – Seorang Warga Negara Malaysia divonis mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Kalianda, Lampung Selatan karena terbukti bersalah terlibat dalam penyelundupan shabu seberat 45 kilogram.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar seluruh dakwaan jaksa penuntut umum yang disusun secara kumulatif,” kata ketua majelis hakim PN Kalianda, Lendriyati Janis dalam sidang, Selasa (17/7), seperti diberitakan Tempo.co.

Oleh majelis hakim, terdakwa Leong Kim Ping (45) dinyatakan terbukti memiliki, menyimpan, mengantar dan mengedarkan narkotika golongan satu seperti yang tertulis dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Selama persidangan, terdakwa yang tidak bisa berbahasa Indonesia ini didampingi oleh seorang penterjemah. Sidang ini mendapat pengamanan ketat dari aparat sebelum menjalani persidangan sempat berusaha melarikan diri.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dista Anggara dan Sunarto mendakwa Leo Kim Ping dengan Pasal 114 dan 112 Jo Pasal 132 UU 35/2009 dan menyatakan bahwa terdakwa telah bermufakat jahat terlibat dalam kepemilikan, pengiriman, memerintah, dan menerima narkoba bersama Henky, Kow Low, dan Andy Yam.

Andy Yam merupakan warga Pekanbaru, Riau, dalam sidang sebelumnnya divonis 20 tahun penjara. Ia mengaku mengirim 50 kilogram shabu kepada Leo Kim Ping dan Kow Lou, sepekan sebelum ditangkap.

Leong Kim Ping ditangkap Satuan Narkoba Polres Lampung pada Oktober tahun lalu di Season City setelah polisi terlebih dahulu menangkap Andy Yam demgan barang bukti 45 kilogram shabu beserta alat hisapnya dan 1.700 butir ekstasi saat berada di atas bus PO SAN jurusan Bengkulu-Solo.

Menurut pengakuan Leong Kim Ping, shabu tersebut diedarkan di Jakarta dan wilayah-wilayah disekitarnya. Ia mengaku diperintah Hengky, gembong narkoba asal Malaysia yang tinggal di Pekanbaru, yang melarikan diri ketika hendak ditangkap.

Sementara itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya, Jenghis Khan memohon kepada majelis hakim untuk meninjau ulang hukuman karena hukuman mati dinilai terlalu berat dan melanggar hak asasi manusia. (IH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *