Berita Internasional

CPJ: Sejak 2006, 22 Jurnalis Terbunuh di Meksiko Akibat Perang Narkoba

bend Meksiko
Meksiko

New York – Berdasarkan data Komite Perlindungan Jurnalis yang berbasis di New York (CPJ), 22 jurnalis terbunuh sejak Presiden Felipe Calderon mengirimkan tentara untuk menumpas para kartel pada 2006.

Sekurang-kurangnya tujuh orang lebih dilaporkan hilang, sementara sejumlah jurnalis lainnya harus hengkang dari negara itu, ungkap CPJ dalan satu laporan kepada Presiden Calderon.

Tetapi meski harus dibayar dengan darah, diperkirakan sekitar 28 ribu orang tewas dalam kekerasan yang berkaitan dengan perang narkoba sejak 2006 namun kekuasaan para kartel narkotika tetap kukuh.

“Meski di salah satu tempat di mana kekerasan terburuk terjadi, El Diario tetap berupaya menyajikan laporan yang bagus” ujar Carlos Luria, petinggi CPJ.

“Fakta mereka malah menyerah kepada gembong narkotika adalah buruk sekali.” imbuh Carlos Luria.

Dalam editorialnya, koran itu menuduh pemerintah tak melakukan apa-apa dalam melindungi pers, meskipun Presiden Calderon menjanjikan itu selama kampanye presidensialnya.

Koran tersebut telah mengajukan permohonannya itu kepada para gembong narkoba karena mereka kini tahu bahwa merekalah yang sesungguhnya berkuasa di Ciudad Juarez saat ini.

Meski ribuan tentara meksiko dan polisi khusus diterjunkan, kekerasan antar kartel yang saling bersaing dalam dua tahun terakhir telah membuat Ciudad Juarez yang berpenduduk 1,3 juta orang, menjadi salah satu kota paling berbahaya di dunia.

Sekitar 5.000 orang terbunuh di kota itu, ketika Joaquin “El Chapo” (Si Pendek) Guzman, gembong narkoba paling dicari di Meksiko, berusaha merebut kendali dari tangan Vicente Carrillo Fuentes, pimpinan kartel narkoba Juarez yang keuntungan bisnis narkoba tahunannya bernilai 6 milyar dolar lebih.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, baru baru ini membandingkan Meksiko dengan Kolombia ketika di puncak perang narkoba pada 1980an hingga awal 1990an.

Hillary Clinton mengakui, akar permasalahan narkoba di Meksiko adalah nafsu warga Amerika yang kecanduan segala bentuk narkoba.

Dalam laporannya CPJ memperingatkan bahwa organisasi kriminal internasional itu kini mencoba langsung untuk mempengaruhi dan bersaing memegang kendali arus informasi.

Persoalan di kota itu telah menjadi “krisis nasional” yang meluas jauh melebihi dunia pers itu sendiri dan berdampak pada hak dasar ribuan warga Meksiko.

Koran itu menuduh pemerintah pusat Meksiko telah gagal memikul tanggung jawab atas serangan luas terhadap kebebasan berpendapat, seraya menggarisbawahi hanya kurang dari 10 persen tindak kriminal terhadap insan pers yang bisa diadili pengadilan.

Laporan itu juga menyatakan beberapa jurnalis Meksiko disogok oleh kartel-kartel narkoba.(Ant)