Sosok

Samuel Nugraha: Kalahkan Adiksi, Pulihkan Martabat Pengguna NAPZA

Sam Nugraha

Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil Sam. Sam ditemui di Rumah Singgah PEKA, sebuah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang didirikannya di kota hujan Bogor.

Rumah Singgah PEKA adalah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Sam dan kawan-kawan pada November 2009. Rumah PEKA menerima klien untuk menjalani perawatan ketergantungan NAPZA dengan metode Rumah Singgah PEKA adalah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Sam dan kawan-kawan pada November 2009.

Rumah PEKA menerima klien untuk menjalani perawatan ketergantungan NAPZA dengan metode Multi-Disciplinary Model, sebuah program yang menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan menggunakan berbagai komponen yang berkaitan dengan beberapa pendekatan termasuk pengintegrasian hubungan antara klien dan keluarga.

Sam yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Nasional Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia (PKNI) menceritakan riwayat awal penggunaan NAPZA-nya pada 1994 yang diawali dari memanfaatkan uang saku untuk membeli berbagai jenis NAPZA, dari ganja, shabu, ineks, lsd, kokain, mushroom, pil koplo, dan pada ahirnya NAPZA favorit Sam adalah putaw*.

Dari coba-coba akhirnya dosis kecil dirasa makin tidak mencukupi. Akhirnya Sam menggunakan sampai 2 gram putaw perhari dengan cara dihirup. Uang saku makin tidak berarti untuk memenuhi kebutuhannya. Sam mulai menjual barang-barang pribadinya, jaket kulit kesayangan, sampai komik hasil koleksi sejak masa kecilnya.

Seiring kebutuhan NAPZA yang tidak terbendung lagi, Sam memutuskan menjual motor untuk memodali langkah awalnya sebagai bandar. Ia cukup dikenal di wilayah tempat tinggalnya. Hal itu dilakukannya karena desakan kebutuhan NAPZA yang harganya sangat tinggi di pasar gelap.

Sam kehilangan segalanya, harta benda tak bersisa, dan yang terpenting adalah kepercayaan dari orangtua, sahabat, dan sanak keluarga. Ia mulai befikir untuk menjalani program penanganan adiksi. Langkah awal dimulai dari berobat ke dokter umum. Usaha Sam tak berhasil, badannya terus menerus sakit karena menagih obat.

Sam mencoba berkonsultasi ke psikiater, hingga akhirnya ia justru dirujuk untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Anjuran psikiater itu dituruti olehnya, tapi hanya halusinasi dan fikiran yang tak lepas-lepas memikirkan putaw dituai Sam. Putus asa karena tak kunjung mampu mengalahkan keinginan mengkonsumsi putaw, Sam pernah dua kali berusaha bunuh diri.

Beruntung Sam akhirnya memutuskan untuk menjalani rehabilitasi di sebuah lembaga. Setelah menjalani 6 bulan masa rehabilitasi , kehidupan Sam menjadi lebih stabil. Ia mulai berkarya menjadi seorang pendidik sebaya bagi rekan pecandu lain tanpa digaji. Bagi Sam, hal yang ia lakukan sangat membanggakan karena ia melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.

Bekerja di Badan PBB

Sam semakin aktif menjalankan aktivitas diantara rekan-rekan pecandu NAPZA dan orang terinfeksi HIV. Ia memprakarsai terbentuknya sebuah kelompok dukungan orangtua yang anaknya terinfeksi HIV. Berdirilah Yayasan PITA. Setelah kegiatan Yayasan PITA rutin berjalan, Sam meninggalkan aktivitas di Yayasan tersebut.

Sam kemudian bertemu dengan salah seorang petinggi the Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) yang menganjurkannya untuk melamar ke lembaga PBB tersebut. Sam sempat menolak karena merasa dirinya hanya lulusan SMA. Tetapi setelah mendapat banyak dukungan akhirnya Sam memberanikan diri melamar. Dari 32 pelamar yang rata-rata lulusan S2, justru Sam yang berhasil mendapatkan posisi sebagai Community Liaison Assistant. Setelah setahun, ia dipromosikan sebagai Partnership and Network Assistant. Sam sempat pula berkarir di United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) sebagai National Program Officer pada 2008.

Kembali ke Komunitas

Selama 5 tahun bekerja di lembaga PBB dengan tujuan berkontribusi pada komunitas terdampak HIV dan NAPZA, Sam melihat kesenjangan antara komunitas, pemerintah dan lembaga internasional. Dan kesenjangan ini belum tertangani dengan baik. Komunitas pengguna NAPZA kerap dijadikan kambing hitam dalam kegagalan sebuah program penanganan HIV, dikaitkan dengan ketidakmampuan mereka bekerja secara profesional.

Dan bila dari komunitas ternyata ada seseorang yang memenuhi kriteria, maka dengan segera ia akan ditarik untuk bekerja pada pemerintah atau lembaga internasional. Komunitas akan selalu kekurangan sumber daya manusia yang mampu untuk membangun komunitas itu sendiri karena daya tarik finansial yang ditawarkan pemerintah atau lembaga internasional.

Sam bercita-cita berbagi ilmu dan informasi untuk mengembangkan kemampuan komunitas pengguna NAPZA untuk bertahan hidup, dengan tidak bergantung pada lembaga-lembaga donor. Peningkatan kualitas hidup pengguna NAPZA seperti kepemilikan asuransi kesehatan, dana pensiun, pendapatan yang layak, pengakuan profesi adalah hal-hal penting yang diperjuangkan Sam bagi komunitas pengguna NAPZA.(emh/YS)

*putaw: heroin kualitas rendah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *