Berita Lembaga Berita Nasional Kebijakan Daerah

Rutan Kudus Tingkatkan Pengawasan Penggunaan Telepon Genggam

Lembaga Pemasyarakatan

Kudus – Pengawasan penggunaan telepon genggam di Rumah Tahanan Negara Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ditingkatkan untuk mencegah peredaran narkotika dan obat terlarang di dalam rutan, kata Kepala Rutan Kabupaten Kudus Warsianto.

“Penghuni rutan memang dilarang membawa HP (telepon genggam-red). Akan tetapi, pengawasan tetap harus ditingkatkan agar tidak ada yang nekat memasukkan HP ke rutan secara sembunyi-sembunyi,” ujarnya di Kudus, Jumat (24/8).

Ia mengatakan telepon genggam merupakan salah satu faktor penyebab peredaran narkoba di dalam sel karena jalinan komunikasi dengan pihak luar cukup bebas dan mudah.

Untuk itu, pengawasan terhadap masuknya telepon genggam ke dalam sel harus ditingkatkan, sekaligus untuk mencegah peredaran narkoba.

Menurut Warsianto, pengawasan tersebut juga ditujukan kepada pegawai Rutan Kudus agar tidak ada yang berupaya membantu penghuni rutan dalam mendapatkan atau menggunakan telepon genggam di dalam rutan.

Ia menegaskan, pegawai Rutan Kudus yang terbukti melanggar ketentuan, terutama membantu penghuni rutan dalam mendapatkan telepon genggam atau menggunakan telepon genggam akan dijatuhi sanksi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 53/2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Pengawasan tidak hanya mengandalkan pantauan langsung, melainkan dibantu dengan kamera CCTV (closed circuit television) yang terpasang di sejumlah titik strategis dan dilengkapi pula alat pengacak sinyal telepon genggam.

Di setiap sudut, dipasang baliho besar yang bertuliskan “kawasan steril area telepon genggam, bagi petugas yang menyalahgunakan wewenang, memiliki, menjual, membeli, menggandakan atau menyewakan atau meminjamkan barang baik yang bergerak maupun tidak bergerak secara tidak sah dapat dikenakan sanksi sesuai PP 53/2010”.

Pada baliho besar tersebut juga terdapat gambar kepala tengkorak sebagai simbol larangan keras.

Untuk mengantisipasi masuknya alat telekomunikasi ke dalam sel, ruang besuk dibuat secara khusus untuk menghindari kemungkinan masuknya alat telekomunikasi ke dalam ruang sel.

Jika penghuni sel tetap ingin berkomunikasi dengan anggota keluarganya, disediakan persewaan telepon, sehingga aktivitas komunikasi dengan pihak luar bisa dimonitor petugas.

“Bagi masyarakat yang menemukan atau menjumpai adanya pelanggaran bisa melaporkan langsung kepada kami,” ujarnya.

Warsianto juga mempersilakan masyarakat atau pengunjung rutan yang menjadi korban pungutan liar oleh oknum petugas Rutan Kudus ketika membesuk keluarganya yang ada di Rutan Kudus.

“Kami ingin menciptakan mental petugas yang lebih berkualitas dan tidak terlibat dalam pungli,” ujarnya.

Spanduk bebas korupsi maupun tindakan di luar ketentuan, katanya, dipasang di sejumlah lokasi strategis agar petugas maupun masyarakat mengetahuinya.(Ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *