Berita Internasional Berita Selebriti Kebijakan Mancanegara

Russell Brand Mengkritik Efektivitas Program Metadon bagi Pemulihan Adiksi

London-NapzaIndonesia.com – Russell Brand (37) tidak segan-segan menyebut dirinya seorang pecandu. “Ketika membicarakan kecanduan saya tidak berbeda dari pecandu lainnya, “katanya.

Komedian yang baru saja berpisah dari penyanyi Katy Perry ini mengalami kecanduan heroin saat ia berusia 20-an, sebelum akhirnya ia berhenti menggunakan heroin. Brand menjalani program pemulihan berbasis abstinensia pada 2002.
Namun dalam sebuah program dokumenter Russell Brand: From Addiction to Recovery yang ditayangkan BBC3 pada hari Kamis (16/8), ia mengakui bahwa setiap hari ia masih berjuang melawan keinginan menggunakan heroin.

Dalam wawancara dengan The Observer, Brand menyatakan: ” Tanpa program pemulihan berbasis abstinensia, saya merupakan individu yang sangat cacat, rentan terhadap egoisme, mengasihani diri sendiri, berperilaku merusak diri sendiri, dan sombong. Tetapi saya terus mencari kelompok dukungan  pecandu napza dan alkohol, saling berbagi di sana sehingga akhirnya saya memiliki kesempatan hidup bebas dari ketergantungan napza. Saya tidak bisa bebas dari adiksi tanpa kelompok dukungan tersebut.”

Brand telah menjadi ikon kelas atas untuk program pemulihan pecandu melalui rehabilitasi, yang bertujuan membuat  pengguna napza bebas dari adiksi.

Menanggapi kebijakan pemerintah Inggris saat ini yang diantaranya adalah meresepkan metadon, bentuk sintetis dari opioid, dengan harapan bahwa pecandu heroin secara bertahap akan mampu mengurangi asupan heorin tanpa mengalami gejala putus obat yang traumatis, Brand berpendapat, “Sama saja dengan kita membiarkan orang terus menerus memakai napza jika mereka berada di program metadon. Pasti sangat menyakitkan untuk berhenti total menggunakan napza, tapi setidaknya hal itu memiliki masa depan. ”

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan tahun lalu oleh Pusat Studi Kebijakan, Centre for Policy Studies, sebuah kelompok pemikir sayap kanan, biaya tahunan mempertahankan pengobatan metadon  bagi 320.000 pengguna napza di Inggris diperkirakan berjumlah 3.6 milyar poundsterling atau 54.1 trilyun rupiah.

Program pemulihan berbasis abstinensia berbiaya lebih mahal pada awalnya, namun menurut Brand, biaya akan terbayar kembali dengan merosotnya angka kriminalitas dan menurunnya populasi pecandu yang dipenjarakan. Hasil yang setara sebenarnya, karena persentase nasional keberhasilan program rehabilitasi berada di bawah 30%, ditilik enam tahun setelah perawatan.

“Tidak cukup hanya mengeluarkan undang-undang menentang konsumsi napza,” jelas Brand. “Ketergantungan napza harus dipandang sebagai masalah kesehatan bukan masalah kriminal. Itulah mengapa saya mengatakan dekriminalisasi sangat penting ”

Mengenai pendapat para kritikus yang mengklaim bahwa penggolongan kecanduan napza sebagai suatu penyakit, pengguna napza akan melalaikan tanggungjawabnya sebagai individu, Brand menjawab,”Jika Anda mengatakan orang dengan penyakit polio adalah orang yang lemah, tapi tidak memberikan kruk atau obat pada mereka, itu bukan cara yang sangat baik untuk menyelesaikan masalah.”

Brand menegaskan bahwa ketergantungan napza hanya dapat ditangani dengan mengatasi akar masalah. Menurut Brand, napza merupakan pelarian dari masa kecilnya yang bermasalah: orang tua Brand bercerai, ia mengalami pelecehan seksual oleh tetangganya pada usia 7 tahun, dan menderita bulimia di usia remaja.  Brand mengungkapkan ,”sebuah kekosongan, kesedihan, kesepian, dan keterasingan. Kecuali Anda memiliki beberapa mekanisme untuk menghadapi itu, saya pikir Anda akan menangani dengan itu dengan berbagai bentuk anestesi, dimulai dengan obat-obatan dan mungkin berakhir dengan belanja.

“Saya tahu itu terdengar menggelikan bagi orang yang bukan pecandu napza, tetapi gagasan untuk berhenti menggunakan napza sepertinya mustahil bagi saya. Saya tidak bisa membayangkan strategi mengatasi masalah selain menggunakan napza, itu sebabnya diperlukan program pemulihan. Pemulihan ini merupakan satu kesatuan dengan kelompok dukungan sesama pecandu napza. Saya pikir itu adalah komponen kunci. Saya tidak berpikir pemulihan adalah sesuatu yang bisa saya lakukan sendirian,” kata Brand mengakhiri wawancara (Yvonne Sibuea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *