Kebijakan Mancanegara

Regulasi Ganja di Belanda, Riwayatnya Kini

NapzaIndonesia.com – Kebijakan toleransi terhadap pembelian dan penggunaan ganja diberlakukan pemerintah Belanda sejak tahun 70-an. Kafe-kafe ganja berlisensi, atau lebih dikenal dengan istilah coffee shops diizinkan menjual hingga 5 gram ganja per pengunjung setiap harinya.

Dengan kebijakan ini, pemerintah Belanda mengendalikan penjualan ganja, agar tidak dikelola pasar gelap. Kontradiksi lawas dalam penerapan kebijakan toleransi ini adalah fakta bahwa praktek kultivasi ganja sendiri tetap ilegal di Belanda.

Sebuah kafe tidak diijinkan menyimpan stok lebih dari 500 gram ganja di awal pembukaan kafe, di lain pihak, pemerintah tidak ingin tahu darimana ganja tersebut berasal.

Mengingat banyak kafe  menjual lebih dari 10 kg ganja per hari, serta merujuk laporan resmi pemerintah bahwa Belanda mengekspor lebih dari 500 ton ganja per tahun, dapat diperkirakan darimana ganja yang diekspor tersebut berasal.

Di Belanda, penjualan bibit ganja dilegalkan. Bibit ganja mudah ditemukan di toko online, dan  toko penjual kebutuhan sehari-hari menyediakani peralatan menanam ganja.

Setiap tahunnya, lebih dari 6000 lahan ganja ilegal berhasil dipergoki oleh polisi, sementara rata-rata hukuman yang dikenakan untuk penanam ganja skala besar adalah 4 tahun penjara.

Dengan pemberlakuan kebijakan toleransi ganja, persentase pengguna ganja di kalangan masyarakat Belanda termasuk rendah. Selama penulis dibesarkan di Belanda, ada satu fase dimana mayoritas anak-anak merasa penasaran dan mencoba-coba menggunakan ganja.

Tetapi karena penggunaan ganja merupakan hal yang wajar bagi masyarakat Belanda, akhirnya hal itu tidak terlalu dianggap populer untuk dilakukan. Penelitian menunjukkan bahwa walaupun 47% pelajar di Belanda pernah mencoba ganja, rata-rata tingkat pengguna ganja rutin cukup rendah. Data tahunan prevalensi pengguna ganja pada usia 15-64 tahun di Belanda jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Sebagai perbandingan, pada 2005 ada 5.4% penduduk Belanda yang tercatat menggunakan ganja, Inggris mencatat angka 6.6%, sementara pengguna ganja di AS mencapai 13% pada 2010. Di negara seperti Portugal dimana penggunaan ganja telah didekriminalisasi, persentase pengguna ganja hanya sebesar 3.6%. Fakta diatas menunjukkan bahwa semakin ketat hukum diberlakukan, kian meningkat juga popularitas napza tersebut di masyarakat

Di Belanda, lebih dari 600 kafe melayani pembelian ganja, dan di Belanda bagian selatan lebih dari 2.3 juta wisatawan dari negara-negara tetangga seperti Belgia, Jerman dan Perancis marak mengunjungi kafe-kafe tersebut.

Kini pemerintah Belanda memutuskan hanya penduduk Belanda yang diperbolehkan membeli ganja dari kafe. Mulai 1 Maret 2012, penduduk 3 provinsi di Belanda bagian selatan harus mendaftarkan diri di kafe-kafe favorit mereka untuk mendapatkan “kartu pembelian ganja”, yang memungkinkan mereka untuk membeli 3 gram ganja perhari.

Seperti yang telah diperkirakan para pakar kebijakan napza, pengedar gelap ganja mulai bermunculan di jalanan Belanda bagian selatan, menjual ganja pada turis-turis serta penduduk lokal.

Rata-rata pengguna ganja di Belanda tidak terlalu tertarik untuk mendaftarkan diri sebagai pengguna ganja, mereka memilih membeli dari pasar gelap atau menanam ganja untuk keperluan pribadi.

Walaupun penjualan ganja dilegalkan, menanam ganja untuk keperluan pribadi tidak sepenuhnya legal. Pemerintah Belanda pernah mengizinkan penanaman 5 pohon ganja per orang untuk keperluan pribadi tanpa persyaratan yang terlampau memberatkan, tetapi sayangnya pada awal 2012 UU ini diperketat.

Saat ini penanaman 5 pohon ganja masih diizinkan, tetapi bila didapati ada indikasi penanaman secara profesional, si penanam dapat sewaktu-waktu dipidana. Dilain pihak, arti penanaman secara profesional tidak dijelaskan secara spesifik, sehingga keputusan bersalah atau tidaknya seseorang sangat bergantung di tangan hakim.

Mayoritas masyarakat Belanda, termasuk partai-partai politik,menyadari bahwa UU baru tentang ganja justru berdampak buruk, banyak masalah terjadi di Belanda bagian selatan. Beberapa partai politik meyakini bahwa kebijakan yang lebih tepat adalah menghapuskan kriminalisasi penanaman ganja yang selama ini  diberlakukan. Bila hal ini dilakukan, maka pemerintah Belanda dapat lebih leluasa mengontrol situasi secara keseluruhan, serta dapat mengumpulkan pajak dalam jumlah besar dari para penanam ganja.

September mendatang, Belanda akan menghadapi PEMILU. Hingga kini belum jelas kelompok mana yang akan mendominasi parlemen berikut, dan belum jelas pula apakah pemerintah baru kelak akan tetap memberlakukan UU ganja yang sudah ada, atau justru menghapuskan sistem “kartu pembelian ganja”.

Yang sudah sangat jelas, bila kebijakan ganja kembali diperlunak,turis-turis tidak lagi harus mengambil risiko membeli dari pasar gelap, dan kafe-kafe ganja di Amsterdam kembali dibanjiri pengunjung.

Sumber: Students for Sensible Drug Policy

*diceritakan oleh seorang Warga Belanda yang identitasnya dirahasiakan. Ditulis oleh Zara Snapp, Students for Sensible Drug Policy – Mexico

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *