Opini

Refleksi untuk ODHA

teddy

Oleh: Teddy Delano*

Salah satu hal terburuk yang terjadi pada orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS adalah Ia cenderung menambah penderitaannya dengan menyakiti dirinya sendiri, mempersalahkan diri sendiri, bahkan banyak dari mereka yang cenderung menolak orang yang mencoba mendekat dan memberikan bantuan kepadanya.Perasaan bahwa “ini terjadi karena kesalahan saya” agaknya berlaku dimana-mana di dunia ini termasuk pada Orang Dengan HIV- AIDS (ODHA).

Setiap kali terjadi hal-hal yang seperti tidak ODHA harapkan, ODHA mudah beranggapan: ”seandainya saya berbuat lain dari yang sudah saya lakukan, pastinya ceritanya akan berakhir dengan kegembiraan.”

Menurut saya ada beberapa faktor yang menyebabkan sebagian besar para ODHA untuk cenderung cepat merasa depresi (Ada di essay saya yang berjudul “Mengembalikan senyum ODHA”, yang dimuat di harian Suara Merdeka, 12 Juni 2008):

  1. Keyakinan bahwa diri mereka adalah penyebab dari HIV/AIDS.
  2. Disalahkan oleh orang-orang sekitarnya, bahkan keluarganya sendiri.
  3. Rasa cemburu pada orang-orang yang di sekelilingnya yang bukan ODHA.
  4. Rasa sakit hati kepada mereka yang telah mendiskriminasinya.

Saya rasa ODHA harus membuang pertanyaan-pertanyaan yang berfokus pada masa silam dan kemalangannya: ”Mengapa semua ini terjadi atas diriku?” — serta menggantikannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuka pintu-pintu bagi masa depan: ”setelah semua ini terjadi, lantas apa yang mesti saya kerjakan?”

Tentu saja, kadang-kadang perasaan bersalah itu tepat dan perlu. Kadang-kadang kita memang telah menimbulkan kesengsaraan dalam hidup kita dan wajib bertanggung jawab atas kesalahan itu. Tapi perasaan bersalah pada tempatnya akan mendorong orang berusaha memperbaiki diri.

Hendaknya ODHA jangan merasa minder, perasaan bersalah yang berlebihan jelas akan merampas diri ODHA dan akan membatasi kemampuan diri ODHA dalam berkembang dan bertindak. Perasaan bersalah yang berlebihan hanya akan menimbulkan depresi tak berujung.

Saya memang bukan ODHA, tapi saya sangat peduli pada ODHA. Saya sangat menyayangkan perasaan minder dan bersalah pada beberapa ODHA yang saya kenal.

Seringkali seorang teman saya, ODHA yang saya kenal, merasa cemburu pada saya yang bukan ODHA dan berkata pada saya ”Ah, sungguh enak ya kamu, tidak seperti aku setiap hari harus melakukan terapi antiretroviral (ART) seringkali aku juga harus menghadapi diskriminasi dari masyarakat. Rasanya aku ingin sekali menghilangkan duka ini.”

Lantas saya menjawab ”Aku tahu duka kepedihanmu kawan, tapi tolong jawab adakah manusia yang tidak pernah mengenal duka?”

Temanku yang ODHA itu hanya bisa diam, dia tidak bisa menjawabnya, bahkan dia tahu bahwa semua manusia juga pernah mengalami duka, bahkan seorang Nabi pun.

Mungkin inilah satu-satunya penawar rasa iri hati para ODHA yaitu menginsafi bahwa orang-orang yang mereka cemburui juga tidak bebas dari segala macam luka dan cacat hidup.

Teman saya pun hanya menangis ketika saya kembali melanjutkan pertanyaan saya ”Mampukah kamu memaafkan dan mencintai dunia yang tidak sempurna ini, kendatipun dunia ini telah melukai kamu dan membuat hati kamu kecewa, sebab dunia ini adalah satu-satunya dunia yang kamu punyai?”

Teman saya hanya mengangguk. ”Aku mau” jawabnya.

***

Kemampuan untuk memaafkan dan mencintai adalah karunia yang diberikan Tuhan kepada kita agar kita hidup tanpa sakit hati, secara gagah berani dan dengan penuh makna pula di tengah-tengah rimba dunia yang kurang sempurna ini.

Para ODHA semangatlah, berjuanglah, jangan lemah oleh pikiran kalian sendiri! Tunjukkanlah bahwa kalian sama seperti manusia lainnya! Tunjukkanlah pada dunia bahwa kalian eksis, memiliki hak yang sama di depan hukum dan masyarakat—sama seperti saya yang bukan ODHA!!

Janganlah menyerah kepada dunia dan kehidupan yang tidak adil ini, sebaliknya terus menatap ke depan, menatap kepada keindahan kehidupan, untuk menentukan jawab, serta melihat ke arah kemampuan-kemampuan diri kalian sendiri untuk mengasihi hidup kalian sendiri serta orang lain. Biarlah secercah harapan dan sedikit kehangatan asal cukup untuk membuat kalian bertahan.

Katakanlah dalam hati kalian ”Aku maafkan kalian orang-orang yang telah mengecewakan aku. Hari kemarin terasa lebih ringan dan kami para ODHA tidak takut menghadapi hari esok!”
Salam,

***

*penulis pemerhati HIV/AIDS dan tinggal di Salatiga, Jawa Tengah