Berita Internasional

Ratusan Polisi Filipina Membangkang Perintah Duterte dan Lakukan Desersi

Manila -Sedikitnya 250 polisi Filipina, Selasa (21/2) terancam dipecat dari kesatuannya karena tidak hadir di markas kepolisian di Pulau Basilan. Ratusan polisi ini adalah polisi-polisi nakal yang terlibat kasus disiplin dan juga kriminal, mereka sengaja dipindahtugaskan oleh Presiden Duterte ke Pulau Basilan sebagai bentuk hukuman disiplin kepolisian.

Duterte menyebut para polisi indisipliner ini sebagai “polisi bodoh”, dimana menurut laporan resmi dari 311 polisi yang masuk dalam daftar “pindah tugas”, hanya ada 53 polisi yang hadir dalam pesawat militer C-130 Hercules saat transit di Zamboanga menuju Pulau Basilan.

Seperti yang diberitakan AntaraNews, Duterte pada bulan ini menunjukkan kemarahannya saat berpidato, yang disiarkan langsung televisi setempat. Kepada publik Filipina, Duterte mengatakan, polisi bermasalah itu dapat kembali ke ibukota, Manila, jika mampu bertahan hidup di Basilan, yang adalah basis militan Islam Abu Sayyaf, yang terkenal sering membajak kapal dan mengayau para sanderanya.

Perintah penempatan ke Basilan diberikan sepekan setelah satuan antinarkotika kepolisian membongkar kejahatan anggotanya terhadap seorang pengusaha asal Korea Selatan. Polisi bermasalah itu menggunakan narkotika untuk menyembunyikan penculikan serta pembunuhan pengusaha tersebut.

Sebagian besar polisi, yang dikirim ke Basilan tengah menjalani penyelidikan internal karena diduga terlibat perampokan, penyiksaan, dan penculikan.

“Polisi itu menunjukkan perilaku buruk dengan mangkir dari tugas,” kata kepala kepolisian di ibukota wilayah setempat, Oscar Albayalde.

Jika petugas itu tidak masuk kerja selama tiga hari atau memberikan penjelasan tertulis mengenai ketidakhadirannya, mereka akan kehilangan pekerjaannya, tambahnya.

Perang terhadap narkotika yang gencar dilakukan Duterte didukung banyak warga walau aksinya itu telah mengorbankan lebih dari 7.700 orang sejak Presiden menjabat sejak 30 Juni. Operasi antinarkotika Duterte dikabarkan turut melibatkan sekitar 2.500 polisi.

Banyak warga meragukan keterangan polisi yang mengatakan, kematian korban disebabkan oleh perang antarmafia atau pembunuhan biasa atau tidak terkait dengan narkotika. Namun menurut laporan Reuters, para aktifis meyakini jika korban tewas lebih karena adanya proses eksekusi di luar pengadilan, yang dilakukan petugas atau pasukan pendukungnya.(AntaraNews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *