Berita Internasional Berita Selebriti

Prince Dipastikan Meninggal Karena Overdosis Fentanyl

Ramsey – Minnesota – Tes toksikologi terhadap Prince menyimpulkan bahwa penyebab kematian ikon pop tersebut adalah overdosis fentanyl secara tidak sengaja, demikian laporan Kantor Pemeriksa Medis Midwest (Midwest Medical Examiner’s Office).

Fentanyl, yang biasa diresepkan oleh dokter untuk perawatan kanker, beredar secara ilegal dan dipersalahkan sebagai penyebab peningkatan kematian akibat overdosis di Amerika Serikat. Menurut Drug Enforcement Agency (DEA), fentanyl lebih kuat 50 hingga 100 kali dibandingkan morfin.

Prince, yang memiliki nama lengkap Prince Rogers Nelson, meninggal pada 21 April 2016 di usia 57 tahun, setelah ditemukan tidak responsif di sebuah elevator di Paisley Park, rumah sekaligus studi rekaman miliknya di Chanhassen, Minnesota.

Laporan dari Kantor Pemeriksa Medis yang dirilis di Twitter tidak menyebutkan banyak rincian. Hanya disebutkan bagaimana terjadi cedera, yaitu karena konsumsi fentanyl secara mandiri, sementara cara kematian ditandai sebagai “kecelakan”.

Laporan tidak menjelaskan bagaimana fentanyl tersebut digunakan dan tidak menjelaskan apakah fentanyl tersebut diresepkan dokter atau didapatkan secara ilegal. Laporan lengkap otopsi dan toksikologi tidak akan diumumkan ke masyarakat, demikian pernyataan Kantor Pemeriksa Medis kepada CNN.

Sejak kematiannya, informasi terus beredar mengenai kisah-kisah penggunaan napza resep oleh Prince.

Pada April 2016,  seorang sumber penegak hukum menuturkan kepada jurnalis CNN Evan Perez bahwa Prince ditemukan dengan obat berbasis opiat saat kematiannya. Para penyidik hingga saat ini tidak menemukan indikasi bahwa Prince memiliki resep yang sah untuk mendapatkan obat tersebut.

Seorang pengacara saudara tiri Prince menyebutkan bahwa Prince mengalami ketergantungan terhadap Percocet, satu dekade sebelum kematiannya. Sementara salah seorang saudara tiri Prince memberi keterangan bahwa Prince mulai menggunakan obat-obatan untuk mengatasi rasa gugup saat tampil di atas panggung, bukan untuk keperluan rekreasional.

Pada 15 April 2016, dalam perjalanan pulang setelah tampil di Atlanta, pesawat yang ditumpangi Prince melakukan pendaratan darurat di Moline, Illinois. Prince berada dalam keadaaan tidak bereaksi dan dilarikan ke rumah sakit. Petugas berwenang menyebutkan bahwa Prince dirawat karena mengalami overdosis obat pereda nyeri potensi tinggi.

Sehari sebelum kematiannya, tim Prince memanggil spesialis ketergantungan opiat yang terkenal di California, mencari pertolongan bagi Prince, demikian keterangan William Mauzy pengacara yang bekerja pada spesialis opiat tersebut.

Spesialis yang dimaksud, Dr. Howard Kornfeld, tidak dapat segera memenuhi panggilan tersebut, karenanya ia mengirim anaknya, Andrew Kornfeld, yang bergegas terbang dengan pesawat tengah malam ke Minnesota. Tujuan Andrew adalah untuk mengevaluasi kesehatan Prince dan meyakinkannya untuk segera mengikuti program manajemen nyeri dan isu-isu ketergantungan yang melingkupinya.

Ketika Andrew Kornfeld tiba di  kompleks Paisley Park, pagi hari pada 21 April, semuanya telah terlambat. Ia dan dua staf Prince menemukan superstar berusia 57 tahun tersebut berada di elevator dalam keadaan tidak sadar. Andrew Kornfeld kemudian menghubungi  911.

Pejabat berwenang menyatakan, investigasi terhadap kematian Prince adalah inverstigasi kriminal. Tidak jelas apakah Kornfeld menjadi subjek investigasi terpisah. Jaksa federal dan DEA tengah menginvestigasi bagaimana dan dari siapa Prince mendapatkan obat tersebut. (CNN /Yvonne Sibuea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *