Berita Internasional Kebijakan Global Kebijakan Mancanegara

Presiden Kolombia pada Sidang Umum PBB: Perang Narkoba Belum Dimenangkan

New York – ‘Perang Terhadap Narkoba’ belum dimenangkan, demikian pidato Presiden Kolombia Juan Manuel Santos pada Sidang Umum PBB ke 68 pada Selasa (24/9).

Santos mendorong PBB agar menggarisbawahi hal ini dalam pertemuan khusus tentang Narkotika pada 2016 mendatang.

“Di tempat ini, di kantor pusat PBB yang sama, 52 tahun yang lalu, sebuah konvensi yang melahirkan ‘Perang Terhadap Narkoba’ disetujui. Hari ini, kita harus mengakui, bahwa perang narkoba belum dimenangkan, tegas Santos pada para pemimpin dunia yang menghadiri Sidang Umum PBB. Sedangkan konvensi yang dimaksud oleh Santos adalah Single Convention on Narcotic Drugs 1961.

“Sebagai presiden dari sebuah negara yang telah menanggung banyak kematian, pertumpahan darah dan berbagai pengorbanan lain dalam Perang Narkoba, Kolombia juga telah mencapai hasil yang besar dalam perang melawan mafia narkoba.”

Kolombia adalah negara eksportir kokain ilegal terbesar di dunia, walau upaya-upaya intensif terus dilakukan untuk mematikan tentara gerilya yang menggabungkan diri kartel narkoba.

Konflik bersenjata di Kolombia telah membunuh lebih dari 220 ribu jiwa dalam 50 tahun terakhir, ungkap Santos.

Santos menantang kaum gerilyawan Kolombia yang bergabung dengan penyelundup narkoba untuk merespon upaya pemerintah mengakhiri konflik bersenjata melalui dialog. Santos menegaskan, kegagalan berdialog akan membawa Kolombia pada pertumpahan darah dan penderitaan yang lebih panjang.

Santos mengungkapkan pernyataan yang sama tentang kegagalan kerjasama internasional untuk memerangi peredaran gelap narkoba pada Pertemuan Negara-Negara Amerika (Summit of the Americas), ketika negara-negara Amerika kemudian memutuskan membentuk komisi untuk mempelajari pendekatan baru untuk memerangi narkoba ilegal.

Riset yang dihasilkan dilaporkan ke PBB pada Mei 2013, berisi usulan agar PBB memberikan perhatian dengan menyelenggarakan Sesi Khusus tentang Narkotika pada 2016. Usulan diajukan oleh Meksiko dan disetujui oleh PBB.

Bulan lalu, Santos mengatakan siap memulai perbincangan damai dengan kelompok pemberontak yang lebih kecil, Tentara Pembebasan Nasional (National Liberation Army – ELN), untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung 50 tahun.

Tahun 2012, pemerintahan Santos telah membuka pembicaraan damai dengan Tentara Revolusioner Bersenjata Kolombia (FARC) dan walau dialog berlangsung alot dan menghasilkan sedikit kemajuan, kedua belah pihak menyelesaikan dialog hingga akhir.

Santos menyerukan pada FARC dan ELN untuk memperhitungkan momen historis ini. “Para gerilyawan akan memutuskan, apakah mereka memilih berdamai dengan terhormat dan berkelanjutan, atau tetap memaksakan perang,” ungkap Santos.

“Kolombia tidak seharusnya kehilangan kesempatan untuk berdamai. Generasi mendatang dan sejarah tak akan memaafkan kita bila kita kembali gagal menghentikan pertumpahan darah.” (reu/YS)