Berita Berita Internasional Kebijakan Kebijakan Global

Presiden Costa Rica: Amerika Tengah Perlu Jajaki Kemungkinan Legalisasi NAPZA

San Jose – Presiden Costa Rica, Laura Chinchilla turut menyumbangkan suara pada hiruk pikuk diskusi tentang legalisasi NAPZA sebagai alternatif kebijakan NAPZA saat ini. Negara-negara Amerika Tengah merasa terancam pada peredaran NAPZA ilegal, yang tidak kunjung berhasil ditekan oleh kebijakan “Perang Terhadap NAPZA”. Karenanya wacana tentang legalisasi NAPZA mengemuka. “Diskusi legalisasi NAPZA tetap akan dilanjutkan walaupun AS menentangnya”, ungkap Chinchilla.

“Bila kita terus melanjutkan kebijakan Perang Terhadap NAPZA, keadaan kita akan jauh lebih buruk dari 10 tahun lalu, kita akan berakhir seperti Meksiko dan Colombia”, papar Chinchilla di San Jose pada Rabu (29/2), seperti yang diberitakan Bloomberg Business News. Tetap dibutuhkan diskusi serius tentang legalisasi NAPZA, meskipun AS tidak setuju, karena negara-negara Amerika Tengah telah “membayar harga yang sangat mahal”. “Kami berhak membicarakan wacana ini,” tegas Chinchilla.

Chinchilla mengutarakan pendapatnya dihari yang sama ketika ia bertemua Wakil Presiden Guatemala Roxanni Baldetti de Paz, dan sehari setelah ia bertemu Sekretaris Kementerian Dalam Negeri AS, Janet Napolitano. Di hari yang sama Napolitano mengungkapkan sikap AS, bahwa legalisasi NAPZA “bukan cara yang tepat” untuk menghentikan peredaran NAPZA.

Chinchilla menguatkan pernyataan Presiden Guatemala Otto Perez Molina yang menyerukan diskusi legalisasi NAPZA di skala regional. Bulan lalu, Perez Molina menyatakan bahwa ia terbuka pada kemungkinan melegalkan penggunaan dan distribusi NAPZA sebagai langkah melemahkan kelompok-kelompok pengedar NAPZA bersenjata berat di Meksiko, yang pengaruh buruknya telah merasuki Amerika Tengah akhir-akhir ini.

Perez Molina telah melakukan langkah-langkah penggalangan dukungan untuk rencana legalisasi NAPZA. Presiden Salvador, Mauricio Funes awalnya terlihat mendukung Molina, tetapi kemudian menarik dukungannya, sementara Panama langsung menolak ide tersebut. Sedangkan Presiden Honduras, Porfirio Lobo berpendapat , legalisasi NAPZA akan menjadikan negaranya ‘surga’ untuk para pengedar.

Presiden Nicaragua, Daniel Ortega belum mengambil sikap dalam wacana yang diajukan Guatemala, tetapi Januari lalu ia menyatakan, selama AS tetap gagal mengendalikan konsumsi NAPZA, masalah tersebut akan mengkontaminasi dan meracuni Amerika Tengah.

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri Meksiko Patricia Espinosa menyatakan bahwa pemerintahan Presiden Calderon terbuka untuk diskusi internasional membahas legalisasi NAPZA. Tetapi Espinosa menekankan, legalisasi tidak serta merta mampu menghancurkan kelompok-kelompok pengedar NAPZA terorganisir.

Kepedulian regional tentang peredaran NAPZA meningkat ketika terjadi ekspansi pengedar NAPZA Meksiko, yang menyebabkan peningkatan jumlah NAPZA yang diedarkan, serta peningkatan kekerasan yang menyertainya. Dalam laporan tahunannya, International Narcotics Control Board (INCB), sebuah badan pengawas peredaran NAPZA internasional memperingatkan dunia bahwa peredaran NAPZA telah mencapai tingkat membahayakan dan tak terkendali, bahwa kokain yang diperdagangkan antar wilayah bernilai sekitar 5% dari pendapatan domestik wilayah tersebut.(thedc/YS)

One thought on “Presiden Costa Rica: Amerika Tengah Perlu Jajaki Kemungkinan Legalisasi NAPZA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *