Hukum

Polisi Bandar Shabu Kelas Kakap Dituntut Hukuman Mati

PN Surabaya / mahkamahAgung.go.idSurabaya – Aiptu Abdul Latif, oknum Anggota Polsek Sedati, masuk jajaran Polres Sidoarjo, Polda Jatim, terdakwa pemilik dan pengedar shabu-shabu seberat sekitar 50 kilogram (Kg) dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Gusti Putu Karmawan dengan hukuman mati, Senin (4/1).

Sedangkan istri sirinya, Indri Rahmawati dituntut dengan penjara seumur hidup. Keduanya dituntut berbeda karena perannya dalam peredaran shabu-shabu tersebut berbeda.

“Keduanya dalam persidangan terbukti sebagai pengedar 50 Kg shabu-shabu yang diterima dari saksi Tri Diah Torrisiah alias Susi asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, yang berstatus terdakwa dalam berkas perkara terpisah, melanggar Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkoba,” ujar JPU Gusti Putu Karmawan, saat membacakan tuntutannya di ruang sidang Garuda, PN Surabaya.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ferdinandus ini, JPU juga menguraikan, bahwa tuntutan pidana kedua terdakwa berbeda, karena perannya juga berbeda. Abdul Latif yang berpangkat Aiptu ini dituntut hukuman mati karena perannya lebih besar, yakni sebagai oknum aparat penegak hukum namun sekaligus sebagai pengedar shabu-shabu, sedangkan Indri Rahmawati dituntut hukuman seumur hidup karena perannya hanya membantu Latif.

Dalam persidangan itu terungkap bahwa shabu-shabu yang disita polisi dari tangan kedua terdakwa hanya 13 Kg dan 22 butir pil ekstasi serta lima paket shabu-shabu siap pakai serta bong sebagai alat hisap shabu-shabu. Sedangkan 37 Kg sabu lainnya yang mereka terima dari tangan Tri Diah Torrisiah alias Susi yang ada di Bangil, sebanyak 50 Kg. Jumlah 37 Kg shabu-shabu itu sudah mereka jual dengan cara di-ranjau sebanyak tujuh kali.

Dari pengakuan saksi Susi yang sudah beberapa kali keluar masuk penjara karena kasus narkoba, diketahui mendapatkan pasokan shabu dari bandar besarnya yang bernama Yoyok, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Kini Yoyok dan Susi sendiri kini sudah dipindahkan ke Lapas Porong dan Rutan Medaeng, Sidoarjo.

Menanggapi tuntutan berat tersebut, kedua terdakwa mengaku pasrah. Aiptu Abdul Latif yang sebelumnya dikenal sebagai anggota Reskrim itu menyerahkan nasibnya kepada pembelaan Adven Dio Randi, penasihat hukumnya.

Demikian dengan istri sirinya, Indri Rahmawati yang baru melahirkan anak hasil hubungan keduanya, hanya pasrah kepada pledoi yang akan disusun Adven Dio Randi untuk disampaikan kepada majelis hakim pada persidangan pekan depan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, petugas yang membuntuti Indri Rahmawati menangkapnya ketika sedang menjajakan paket shabu dan pil ekstasi di Pasar Wisata Sedati, Sidoarjo. Dari tangan Indri petugas menyita 13 paket dan lima butir pil ekstasi. Saat menjalani pemeriksaan itu ia mengaku sebagai istri siri Aiptu Abdul Latif, Anggota Polsek Sedati. Petugas yang menggeledah rumah Aiptu Abdul Latif menemukan barang bukti lagi sebanyak 13 Kg shabu-shabu dan 22 ekstasi, 5 paket shabu siap edar, dan bong.

Dari pengakuan Latif, polisi kemudian mengamankan Tri Diah Torrisiah alias Susi asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, yang mendekam di Rutan Medaeng, Sidoarjo. Narkoba yang diamankan dari oknum polisi itu didapat dari Susi yang dipasok Yoyok, napi Nusakambangan. Napi Yoyok saat ini sudah ditangani penyidik Satreskoba Polrestabes Surabaya dan dititipkan ditahan di Lapas Porong.

“Mereka (Yoyok dan Susi) sesuai rencananya dalam waktu dekat, akan menyusul para terdakwa lainnya (Latif dan Indri) untuk menjalani persidangan di PN Surabaya,” ujar Kajari Surabaya Didik Farkhan Alisyahdi yang dikonfirmasi terpisah semalam.(BeritaSatu.com)