Film

PKNI Luncurkan Film “Mati Perlahan”: Kisah Dampak Buruk Perang Narkoba di Indonesia

Jakarta – Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) bekerjasama dengan Drugreporter meluncurkan film dokumenter “Mati Perlahan” di 4 kota di Indonesia menjelang Hari AIDS Sedunia 2015. “Mati Perlahan” bercerita mengenai perang narkoba di Indonesia yang kian gencar berlangsung sejak diberlakukannya UU Narkotika dan Psikotropika pada tahun 1997.

Perang terhadap narkoba menjadi ajang pertunjukan politik untuk memamerkan komitmen para pejabat negara memberantas “kejahatan yang meresahkan masyarakat”. Awal 2015, Presiden Jokowi menyerukan bahwa Indonesia berada dalam situasi “darurat narkoba” karena negara hampir tidak mampu membendung minat penggunaan napza di seluruh negeri, sehingga perang narkoba harus diperbaharui. Pada praktiknya, seruan ini diikuti dengan peningkatan pendanaan pada institusi penegak hukum dan serangkaian sanksi pidana berat, di antaranya hukuman mati, yang pada dasarnya tetap meninggalkan banyak masalah, ketimbang menyelesaikan masalah.

Film “Mati Perlahan”, yang diproduksi oleh PKNI dan Drugreporter, mendokumentasikan dampak langsung perang narkoba yang dialami oleh para penggunanya. Film ini memuat kesaksian dan wawancara dengan pengguna narkoba, pasien metadon, akademisi dan para tokoh agama. Proses pengambilan gambar dan penyusunan konsep dilakukan oleh komunitas pengguna narkoba setempat. Mengisahkan eksekusi 14 pengedar narkoba di awal 2015, “Mati Perlahan” kemudian bertutur mengenai rehabilitasi narkoba secara paksa, meningkatnya penganiayaan dan maraknya praktik suap-menyuap pada proses peradilan kasus narkoba, yang merupakan faktor-faktor penghambat bagi pengguna narkoba untuk mengakses layanan kesehatan dan dukungan.

Paradigma perang terhadap narkoba terbukti gagal di seluruh dunia. Faktanya, pendekatan perang tidak hanya gagal untuk mengurangi penggunaan, suplai dan kebutuhan terhadap narkoba; tetapi juga membebani anggaran negara hingga trilyunan rupiah; baik di bidang kesehatan, sosial dan biaya lainnya. Perang narkoba juga memicu timbulnya pelanggaran hak asasi manusia. “Mati Perlahan” menceritakan sebuah kemunduran dalam kebijakan narkoba di Indonesia.

Sebelumnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapat pujian luas karena menerapkan program-program pengurangan dampak buruk narkoba seperti penyediaan jarum suntik steril, terapi rumatan metadon yang telah berkontribusi menurunkan prevalensi infeksi HIV pada kalangan pengguna narkoba suntik dari 52% pada tahun 2009 menjadi 36% pada tahun 2012. Kini, Indonesia kembali menyerukan kriminalisasi pada pengguna narkoba, yang secara tidak langsung menafikan efektivitas program-program yang telah berhasil menekan dampak buruk narkoba.

Kebijakan kriminalisasi akan kembali mendorong pengguna narkoba untuk bersembunyi dan menghindari berbagai fasilitas layanan kesehatan yang pada saat yang sama juga dipromosikan oleh negara. Pengguna narkoba yang menghindari layanan kesehatan dikhawatirkan akan melakukan praktik-praktik yang lebih berisiko untuk kesehatannya, seperti penggunaan jarum suntik tidak steril, serta pengabaian terhadap situasi kesehatan pribadi.

Film “Mati Perlahan” diluncurkan di Jakarta, Bali, Bandung dan Batam, dibarengi dengan diskusi bersama para pakar, intelektual masyarakat dan perwakilan komunitas pengguna narkoba; membahas pentingnya respon secara menyeluruh terhadap masalah narkoba di Indonesia.

Diskusi saat peluncuran film bertujuan untuk melibatkan masyarakat secara langsung dalam pembicaraan mengenai narkoba dan langkah-langkah sosial yang perlu ditempuh bersama. PKNI bermaksud menginspirasi masyarakat Indonesia untuk belajar lebih banyak mengenai fakta di balik perang narkoba di Indonesia maupun di seluruh dunia, sejak pertama kali dideklarasikan oleh Presiden AS Richard Nixon pada 1961.

Peluncuran “Mati Perlahan” akan mengawali serangkaian aktivitas PKNI sepanjang 2016; mempromosikan pendekatan humanis untuk permasalahan narkoba, serta mengajak masyarakat memahami berbagai kerugian pendekatan pidana dalam penanganan masalah narkoba. (Edo Wallad/Drugreporter/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *