Opini

Perempuan Filipina, Antara Kemiskinan dan Sindikasi Napza Internasional

Penulis: Gentry Amalo*

Tertangkapnya Cherry Ann Panaligan (26), perempuan warga negara Filipina di Bandara Internasional Adi Sumarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (3/4) lalu menambah daftar panjang perempuan Filipina yang menjadi korban sindikat perdagangan napza internasional.

Cherry Ann Panaligan ditangkap petugas Bea Cukai Bandara Adi Soemarmo setelah di dalam dinding kopernya ditemukan 1.193 kilogram heroin yang dibawanya dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Sebagai kurir pembawa napza ilegal ke Indonesia, Cherry Ann Panaligan tidak sendirian. Sebelum Cherry Ann, ada Beverly Adtoon Fulache (36), yang pada Selasa 29 Maret 2011 divonis 16 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Denpasar karena terbukti berupaya menyelundupkan 2 kilogram shabu dari Malaysia pada 13 Juli 2010 melalui Bandara Internasional Ngurah Rai Bali.

Sebelumnya ada pula Susan Roces Tallorin (42) yang ditangkap petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng karena berupaya menyelundupkan 53 kapsul berisi shabu-shabu (SS) seberat 614 gram dengan cara ditelan ke dalam perut.

Susan yang juga guru bahasa Inggris di Thailand ini ditangkap petugas setelah tiba di Terminal 2D kedatangan, Bandara Soekarno – Hatta, pada Rabu 19 Januari 2011 pukul 12.00 WIB. Susan Tallorin masuk ke Indonesia menumpang maskapai Thai Airways dengan nomor penerbangan TG-433 dan rute Bangkok-Jakarta yang tiba di Terminal 2D.

Kemudian Mary Zane Fiesta Veloso (25), kurir napza warga negara Filipina yang tertangkap pada Minggu 24 April 2010 lalu di bandara International Adisutjipto, Jogjakarta. Dalam persidangannya Mary Zane didakwa berupaya penyelundupan narkotika seberat 2,611 gram, senilai Rp 5 milyar lebih.

Atas perbuatannya Mary Zane akhirnya divonis mati Pengadilan Negeri (PN) Sleman pada Senin 11 oktober 2010. Terdakwa dinyatakan bersalah melawan hukum dengan menjadi perantara penyelundupan narkotika golongan I jenis heroin seberat 2.611 gram.

Evangeline Soneta atau Nicole (29), asal Filipina yang dihukum 18 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo, Jawa Timur, karena terdakwa terbukti membawa 1,5 kilogram psikotropika jenis shabu pada 3 September 2009. Nicole berangkat dari Kuala Lumpur, menuju Surabaya menggunakan Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan 873.

Tidak hanya di Indonesia
Kasus kurir perempuan Filipina pembawa napza ilegal seperti yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, ternyata juga terjadi di banyak negara di dunia.

Pada 30 April lalu, Pemerintah China menghukum mati tiga warga negara Filipina, Ketiga warga Filipina ini adalah Ramon Credo, Sally Ordinario-Villanueva, dan Elizabeth Batain. Satu dari tiga warga Filipina ini adalah perempuan.

Kendati Pemerintah Filipina sudah mengutus Wakil Presiden Jejomar Binay untuk membujuk agar ketiga warga Filipina tersebut diampuni dan tidak dijatuhi hukuman mati namun pemerintah China tetap pada pendiriannya dengan mengeksekusi ketiganya melalui suntikan mematikan.

Pekan lalu, Alcides Pretas, Duta Besar Brasil untuk Filipina, menyebutkan lebih dari 40 warga Filipina berada dalam beberapa penjara di Brasil terkait kasus penyelundupan napza ilegal. Ironisnya, sebagian besar diantara mereka adalah perempuan!!

Pernyataan Alcides Prates disampaikan kepada awak media saat mengikuti resepsi diplomatik pertama yang diselenggarakan Albert del Rosario, sekretaris Departemen Luar Negeri (DFA) Filipina di The Peninsula Manila di Makati, Senin 4 April 2011.

Menurut Departemen Luar Negeri (Delpu) Filipina, pada 19 Agustus 2010 lalu, seorang perempuan Filipina ditangkap di Bandara Internasional Guarulhos, Brasil.

Perempuan yang tidak disebutkan identitasnya ini ditangkap setelah polisi berhasil menemukan 5 kilogram kokain yang tersimpan dalam 15 tas yang disembunyikan di balik dinding koper tersangka.

Kedubes Filipina di Sao Paulo melaporkan dari Januari – Okotber 2010 lalu sedikitnya 15 warga Filipina ditangkap di Brasil karena terbukti berusaha menyelundupkan napza, dan 13 diantaranya lagi-lagi perempuan!!

Kedubes Filipina di Santiago, Chile juga melaporkan beberapa warga Filipina ditahan karena berupaya menyelundupkan napza ke negara-negara berkembang di Amerika Selatan. Dari hasil pantauan di lapangan disebutkan 50 kasus laporan warga Filipina yang ditahan di negeri latin Amerika ini terkait penyelundupan napza.

Sementara berdasarkan laporan kantor Sekretariat Urusan Pekerja Migran, 23 warga Filipina ditangkap di Peru pada 2010 lalu dan 21 diantaranya adalah perempuan. Saat ini ada sekitar 43 warga Filipina di Chile, Peru dan Ekuador yang ditahan karena tersandung kasus napza.

Rekrutmen Dilakukan Melalui Facebook
Berhadapan dengan kebijakan perang terhadap napza ilegal di seluruh dunia, membuat para sindikat narkotika internasional memutar otak untuk menemukan banyak cara di dalam proses pendistribusian narkotika produksi mereka.

Kepolisian nasional Filipina (PNP), baru-baru ini menemukan modus rekrutmen kurir napza ilegal yang dilakukan melalui laman jejaring sosial seperti Facebook.

Menurut Derrick Arnold Carreon, Juru bicara Dinas Pemberantasan Narkoba Filipina, seseorang dapat “menyukai” halaman profil calon target di Facebook, atau melakukan permintaan menjadi teman, selanjutnya target akan sering diajak berkomunikasi dengan mereka, hingga akhirnya mereka akan menawarkan target untuk pergi ke luar negeri.

Rekrutmen melalui Facebook ini menjadi modus yang paling sering digunakan dalam sistem perekrutan online yang digunakan sindikat narkoba internasional.

Menurut Carreon, perempuan dari negara berkembang seperti Filipina, sangat mudah diimingi janji untuk mendapatkan uang secara cepat dan peluang mereka untuk keluar dari kesulitan ekonomi di dalam negeri.

Para perempuan ini kemudian dipaksa untuk menjadi “drugs mules” atau “bagal napza”, sebuah istilah yang digunakan untuk para penyelundup napza, dengan modus menelan napza tersebut ataupun menyembunyikannya di dalam alat vital atau organ pribadi para perempuan ini.

Bantuan dan Layanan Hukum oleh Negara
Banyaknya kasus perempuan Filipina yang bermasalah di negara lain karena tersandung kasus narkotika membuat pemerintah Filipina bergerak cepat untuk melakukan upaya pembelaan hukum bagi warga negaranya. Tujuannya cukup sederhana, yakni memastikan hak hak hukum warga negaranya dapat terfasilitasi dengan baik.

Cherry Ann Panaligan, Beverly Adtoon Fulache, Susan Roces Tallorin, Mary Zane Fiesta Veloso dan Evangeline Soneta adalah bukti nyata bagaimana kemiskinan dan kesulitan ekonomi membuat perempuan-perempuan Filipina dengan mudahnya tergiur dan mau di”rekrut” menjadi kurir pembawa napza ilegal yang dikirim ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia.

Belajar dari catatan diatas, hendaknya pemerintah kita segera mengantisipasi pola-pola serupa, agar perempuan-perempuan Indonesia tidak mengalami persoalan yang sama.

Jika ada perempuan kita yang tersandung karena kasus penyelundupan napza ilegal di negara lain, hendaknya pemerintah kita, khususnya Kementrian hukum dan HAM serta Kementrian Luar negeri dapat memberikan pembelaan yang semestinya, agar hak-hak hukum perempuan Indonesia tetap dapat diperoleh yang bersangkutan.
***

  • Gentry Amalo : relawan kemanusiaan dan pengamat persoalan sosial-budaya masyarakat, menetap di Denpasar, Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *