Berita Internasional Riset

Penggunaan Ganja Pada Usia Remaja Meningkatkan Gejala Psikotik Di Waktu Mendatang

Foto: quitsmokingcentral

London – Merokok ganja pada remaja atau pada dewasa muda dapat meningkatkan risiko munculnya gejala psikotik di kemudian hari, demikian temuan sebuah penelitian baru di Belanda.

“Temuan ini mengukuhkan kenyataan bahwa penggunaan ganja pada masa remaja merupakan faktor risiko munculnya gejala psikotik, bersama dengan faktor risiko lain seperti faktor risiko genetik, lingkungan dan sosial ekonomi,” kata Dr Kathryn Kotrla, Dekan dan Profesor Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Texas A&M Health Science Center College of Medicine di Round Rock.

Temuan ini dilaporkan dalam edisi 1 Maret British Medical Journal (BMJ), hanya beberapa minggu setelah peneliti Australia melaporkan hubungan antara merokok ganja dan terjadinya psikotik 2,7 tahun lebih awal pada perokok ganja dibandingkan orang yang tidak menggunakan NAPZA.

Penelitian terbaru, yang dipimpin oleh Jim van Os dari Maastricht University, tampaknya melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bahwa penggunaan ganja sebenarnya mendahului timbulnya gejala psikotik, menunjukkan kemungkinan adanya hubungan sebab-akibat.

Sekitar 16 juta orang di Amerika Serikat menggunakan ganja secara teratur, dan sebagian besar mulai merokok di usia remaja. Ganja adalah zat adiktif ketiga yang terbanyak digunakan setelah tembakau dan alkohol.

Penemuan baru ini berdasarkan data pada sekitar 2.000 responden di Jerman berusia 14 sampai 24 tahun ketika mereka mendaftarkan diri dalam penelitian, dan yang kemudian diikuti selama 10 tahun.

Tidak ada responden yang pernah mencoba ganja atau mengalami gejala psikotik sebelum bergabung sebagai responden penelitian.

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang mulai merokok ganja selama 10 tahun masa penelitian telah mengalami dua kali lipat risiko gejala-gejala psikotik seperti halusinasi, bahkan setelah penyesuaian faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, penggunaan obat-obatan lain dan diagnosis psikiatris lainnya.

Pada responden yang lebih teratur merokok ganja, semakin nyata gejala psikotik muncul.

Tetapi para peneliti menyadari keterbatasan beberapa kemungkinan, termasuk data yang dilaporkan sendiri dan kurangnya penyesuaian langsung bagi responden yang memiliki sejarah psikotik dalam keluarga.

Michael Rice, seorang profesor dan praktisi perawat psikiatri di University of Nebraska Medical Center College of Nursing di Omaha, mencatat bahwa para peserta tidak benar-benar didiagnosis dengan gangguan psikotik, hanya gejala saja.

“Ini bukan skizofrenia, tetapi gejala psikotik. Hanya saja penelitian ini menunjukkan bahwa ganja mengandung senyawa kuat pada akhirnya berefek timbulnya pengalaman halusinasi atau psikotik,” katanya.

Namun, Rice menambahkan, “Itu masih psikotik dan itu benar-benar bisa dicegah.”

Dr Kathryn Kotrla mengibaratkan fakta ini sebagai “badai yang sempurna,” mengingat bahwa orang lebih cenderung menggunakan ganja saat mereka masih muda ,justru ketika otak mereka berada dalam keadaan paling rentan.

“Kami mengidentifikasi begitu banyak faktor risiko, genetika, penyiksaan di masa kecil, kompleksitas lingkungan perkotaan. Ketika faktor ini ditambahkan kita dapat menangani individu yang rentan secara khusus dan berpikir tentang intervensi yang tepat,” katanya.

“Jika Anda memiliki riwayat penyakit mental dalam keluarga, menggunakan ganja bukan merupakan ide bagus.” (hld/prc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *