Berita Internasional Riset

Penggunaan Ganja Dapat Lemahkan Fungsi Seksual Pria

Ottawa, NapzaIndonesia.com – Pada beberapa kesempatan pengguna ganja melaporkan peningkatan dorongan seksual yang dipicu penggunaan ganja. Tetapi sebuah penelitian baru tentang ganja dan kesehatan seksual mengumumkan bahwa pria perokok ganja dapat mengalami disfungsi seksual.

Riset pada topik hubungan ganja dan kesehatan seksual cukup kontradiktif dan hanya beberapa riset yang berkualitas tinggi, demikian pernyataan Dr. Rany Shamloul, staf pengajar di University of Ottawa dan Queen’s University di Kanada. Shamloul juga mengajar di University of Cairo.

Tetapi menurut riset terkini, termasuk temuan bahwa penis memiliki reseptor untuk mengikat bahan aktif ganja membuahkan saran agar pria muda yang peduli pada efek jangka panjang menghisap ganja berfikir matang-matang sebelum menggunakannya, tegas Shamloul pada Live Science.

“Ini pesan penting bagi generasi muda khususnya para pria muda,” tambah Shamloul lagi. Shamloul mempublikasikan penemuannya secara online pada 26 Jan 2011 di Journal of Sexual Medicine.

Seks dan Napza

Para peneliti mulai mempelajari hubungan penggunaan ganja dan fungsi seksual pada tahun 70-an. Beberapa peneliti menemukan bahwa ganja sepertinya memiliki efek sebagai obat perangsang; pada 1982 sebuah penelitian dipublikasikan di Journal of Psychoactive Drugs mengatakan bahwa 75% perokok ganja menyatakan bahwa ganja meningkataan kehidupan seksual mereka. Sementara sebuah penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal yang sama pada tahun yang sama melaporkan adanya disfungsi ereksi dua kali lipat lebih banyak pada responden pengguna ganja. Penelitian lain menyebutkan faktor dosis, bahwa sejumlah kecil ganja hanya sedikit berdampak pada disfungsi seksual, tetapi dosis yang lebih besar akan mengurangi kemampuan ereksi.

Banyak masalah didapati dalam penelitian ini, tegas Shamloul, karena tidak satupun penelitian yang menggunakan tehnik penghitungan yang valid ketika mencermati fungsi seksual pria. Pertanyaan-pertanyaan berbeda dapat menimbulkan penyimpangan jawaban, demikian catatan Shamloul. 39% responden pria pada penelitian pertama pada 1982 yang menyatakan ganja memperpanjang durasi hubungan seksual kemungkinan telah mengalami efek perbedaan persepsi waktu pada saat menggunakan ganja.

Yang menjadi perhatian utama Shamloul adalah sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2010 di Central European Journal of Urology. Dalam studi tersebut para peneliti menemukan reseptor tetrahydrocannabinol (THC) dalam jaringan penis lima pasien pria dan enam ekor monyet. Reseptor ini banyak ditemukan pada otot polos penis, kata Shamloul. Studi tambahan di laboratorium membuahkan fakta bahwa THC memiliki efek inhibisi pada otot.

“Ini efek yang lebih serius pada fungsi ereksi karena otot polos yang membentuk 70%-80% jaringan penis”, demikian keterangan Shamloul.(Sumber: Live Science/ Yvonne Sibuea)