Berita Nasional Kebijakan

Pengguna Napza Salatiga Kesulitan Mendaftar ke IPWL

Salatiga – Setahun sejak diberlakukannya peraturan pemerintah (PP) No 25 tahun 2011 mengenai wajib lapor bagi pecandu narkoba. Namun tidak sedikit institusi penerima wajib lapor seperti rumah sakit dan puskesmas di berbagai wilayah yang ditunjuk, belum siap secara teknis. Di Salatiga misalnya, satu-satunya puskesmas yang telah ditunjuk sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) ternyata belum dapat menjalankan fungsinya sebagai IPWL dikarenakan belum ada petunjuk teknis dari Dinas Kesehatan Salatiga.

“Di Salatiga ada persoalan terkait keberadaan IPWL, puskesmas yang ditunjuk ternyata belum dapat berfungsi sebagai IPWL dikarenakan belum ada petunjuk teknis dari Dinas Kesehatan,” ungkap Tony Hendriyanto, petugas lapangan Lembaga Pelopor Perubahan (LPP).

Menurut Tony, belum adanya petunjuk teknis ini, membuat puskesmas tidak dapat bekerja melayani para pengguna napza di Salatiga, padahal faktanya tidak sedikit pengguna napza di Salatiga yang ingin mendaftar kepada IPWL sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Akhir pekan lalu, saya telah merujuk lima pengguna napza di Salatiga untuk mendaftar sebagai pasien di IPWL Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga. Saat ditemui dokter yang ditunjuk sebagai penanggungjawab IPWL menolak kelimanya dengan alasan belum siap menerima program pemerintah yang dimaksud.” imbuh Tony Hendriyanto.

Mengutip perkataan dokter di Puskesmas Sidorejo Lor, pihaknya bisa menerima dengan syarat pengguna napza yang akan mendaftar IPWL harus melakukan tes laboratorium terlebih dahulu,” terang Tony kepada NapzaIndonesia.com.

Sementara pengelola administrasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Salatiga, Diah Erma Fauziah, saat dihubungi NapzaIndonesia.com pada Selasa (19/6) menjelaskan bahwa meskipun sudah ada surat penunjukan dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) bahwa Puskesmas Sidorejo Lor merupakan salah satu IPWL namun hingga kini pelaksanaannya belum berjalan.

“Sampai kini, yang kami lakukan adalah mensosialisasikan tentang IPWL pada pertemuan pengguna napza suntik yang diadakan setiap dua bulan sekali,” jelasnya.

Diah juga menjelaskan bahwa IPWL sesuai petunjuk pelaksanaannya bukan hanya untuk pengguna napza suntik.

“Masyarakat secara umum yang mempunyai masalah penggunaan napza bisa mengakses IPWL,”tambahnya.

Mengenai ketidaksiapan pihak Puskesmas, Diah menjelaskan bahwa hingga saat ini Puskesmas belum memiliki alat tes narkoba dan belum ada tindak lanjut dari Dinas Kesehatan setempat.

Pendapat senada disampaikan dr. M Anang Eko S dari Dinas Kesehatan Kota Salatiga. Ia mengatakan bahwa meskipun surat penunjukan dari Kemenkes sudah turun, namun alur pelaksanaan masih belum jelas dan kelengkapannya masih belum memadai.

“Mengenai kesiapan tim dokter, baru satu dokter yang dilatih mengenai pelaksanaan IPWL. Itupun baru satu kali dilatih. Sedangkan berdasarkan laporan di lapangan, kendala yang ditemui saat sosialisasi adalah masih ada kekhawatiran dari para pengguna napza untuk mendaftar ke IPWL mengenai keamanan,” jelas Anang.

Sampai berita ini diturunkan, dokter penanggung jawab program IPWL Puskesmas Sidorejo Lor belum berhasil dihubungi. (IH/Gen)