Berita Internasional Kebijakan Global

Pengadilan NAPZA AS Menangkan Voting Untuk Tetap Beroperasi

Pengadilan NAPZA (ilustrasi)

Washington DC US Drug Courts atau pengadilan napza Amerika Serikat, Jumat (31/3) telah memenangkan suara dari kelompok kiri, kanan dan tengah untuk tetap dapat beroperasi.

Selain menangani kasus narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza) tanpa kekerasan, pengadilan ini juga dirancang agar para terdakwa dapat mengakses rehabilitasi serta pengawasan dan bukannya pemenjaraan seperti yang selama ini terjadi.

Kelompok kiri menyukai kebijakan pengadilan napza karena prioritas pada perawatan dan bukan pemenjaraan. Kelompok kanan menyukai kebijakan ini karena dapat menghemat anggaran. Sedangkan kelompok tengah memutuskan untuk berada di tengah-tengah, tidak terlalu menerapkan kebijakan keras pada kasus napza dan menolong para pecandu untuk hidup lebih baik.

Pada hari yang sama, pengadilan napza Amerika Serikat ini juga mendapatkan dukungan dari Martin Sheen aktor gaek Hollywood yang juga anggota Kongres AS, pada acara pengarahan Kongres tentang pentingnya Pengadilan NAPZA.

Hampir 50 Pengadilan NAPZA beroperasi di seluruh negara bagian AS dan Distrik Columbia. Tetapi, sementara proses itu berjalan, dua organisasi pengamat kebijakan NAPZA merilis kritik keras pada kebijakan tersebut.

“Kita semua berada disini untuk satu  tujuan, yaitu memastikan bahwa Kongres mempertahankan anggaran sebesar 88 juta dolar (783 milyar rupiah-red) yang diinvestasikan pada Pengadilan NAPZA. Pengadilan NAPZA adalah cara terbaik Kongres untuk mengurangi tingkat kejahatan dan konsekuensi sosial terkait adiksi NAPZA.” tegas Sheen.

Di sebuah wawancara pada 2007, Sheen mengungkapkan hal yang sama, terkait kemungkinan kematian yang mengancam penderita adiksi, seperti yang dialami anak lelakinya, aktor Charlie Sheen.

Menurut Martin Sheen,  Pengadilan NAPZA adalah salah satu jalan yang dianggap mampu menyelamatkan hidup Charlie dan hidupnya sendiri.

Disisi lain, masyarakat AS juga menyimpan keraguan akan keberhasilan Pengadilan NAPZA mengatasi masalah adiksi.

Dalam sebuah pengarahan yang disponsori oleh National Association of Drug Court Proffesional (NADCP), sebuah organisasi praktisi Pengadilan NAPZA,

“Semakin banyak riset yang dipublikasikan tentang pengaruh Pengadilan NAPZA, lebih banyak dibanding riset program mengatasi kejahatan lainnya digabungkan menjadi satu.” papar Doug Marlowe, Kepala Divisi Sains, Hukum dan Kebijakan NADCP.

Marlowe menambahkan para peneliti telah menempatkan Pengadilan NAPZA dibawah mikroskop dan telah menyimpulkan bahwa kebijakan ini lebih efektif dibanding pemenjaraan, hukuman percobaan atau hanya sekedar perawatan NAPZA biasa.

Fakta ini sudah tidak ada lagi yang memperdebatkan.

“Pengadilan NAPZA menurunkan angka kriminalitas sebesar 45% dan telah menghemat anggaran sebesar 13 ribu dolar per orang yang yang dilayani. Dan menurut data kami, 75% orang yang pernah menjalani pengadilan NAPZA tidak pernah kembali ditahan.” imbuh Marlowe.

Tetapi para penentang Pengadilan NAPZA menyatakan dalam dua laporan yang dirilis Drug Policy Alliance dan the Justice Policy Institute, bahwa Pengadilan NAPZA hanya mencomot kasus NAPZA yang sukses tak berulang untuk diangkat dalam publikasi, sehingga data yang dihasilkan seakan-akan mendukung keberhasilan program tersebut.

Para kritikus juga mempertanyakan kuasa tak terbatas yang diberikan pada Hakim di Pengadilan NAPZA, dan menekankan bahwa tersangka yang diadili di Pengadilan NAPZA yang tidak mampu sembuh dalam waktu dekat, dapat diperpanjang masa penahanannya dalam penjara, yang akhirnya akan membebani pemerintah AS.

Menurut data yang dimiliki Drug Policy Alliance dan the Justice Policy Institute, rata-rata ada  33% tersangka yang gagal menjalani pemulihan ala Pengadilan NAPZA, bahkan di beberapa wilayah proporsi kegagalan mencapai 75%.(tim/YS/Gen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *