Berita Internasional Kebijakan

Penerapan Hukuman Mati Kejahatan Narkotika Direvisi Pemerintah Singapura

Singapura – Pemerintah Singapura berencana merevisi hukuman mati bagi pelaku kejahatan narkotika. Hal ini berlaku kepada kurir narkotika yang secara kooperatif bekerja sama dengan polisi.

Berkaitan dengan rencana ini, semua rencana eksekusi telah ditunda sebagai bagian dari peninjauan satu tahun, sejak Juli 2011.

Deputi Perdana Menteri Teo Chee Hean seperti diberitakan BBC, Selasa (10/7) mengatakan harapannya bahwa Undang-Undang ini pada akhir tahun dapat dikenalkan kepada publik setempat.

“Para narapidana yang sudah divonis hukuman mati dapat mengupayakan vonis ulang. Pengadilan dapat menjatuhkan hukuman secara rahasia jika pelaku divonis seumur hidup atau dicambuk, selama “dua syarat utama terpenuhi,” katanya.

Dua syarat yang dimaksud adalah pelaku merupakan kurir dan tidak terlibat penyediaan atau distribusi narkotika, serta jika pelaku mau bekerjasama dengan polisi atau menderita gangguan mental.

Namun bagi pelaku yang memproduksi dan memperdagangkan narkotika atau yang mendanai, mengorganisir perdagangan narkotika, akan tetap diberlakukan hukuman mati.

Saai ini, di Singapura ada 28 narapidana yang menunggu eksekusi dalam kasus kejahatan narkotika.

Pemerintah Singapura memandang bahwa penerapan hukuman mati sebenarnya mampu mengendalikan tingkat perdagangan narkotika. Namun penerapan hukuman mati di negara itu dipandang terlalu berat oleh para kritikus dan aktivis hak asasi manusia.

Bahkan seorang penulis Inggris, Alan Shadrake mengkritik peraturan itu dalam bukunya “Once A Jolly Hangman: Singapore Justice in the Dock.”

Kepada Reuters Shadrake menyatakan bahwa revisi ini bukanlah akhir dari hukuman mati, namun membuat hukum bergerak kearah yang lebih benar. (IH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *