Berita Berita Internasional Peristiwa

Penemu Obat AIDS Stavudine Meninggal Pada Usia 90 Tahun

Dr. William Prusoff

Branford – William H. Prusoff, seorang farmakolog di Yale School of Medicine, yang mengembangkan komponen efektif dalam generasi pertama koktail antiretroviral (ARV), obat yang digunakan untuk pasien AIDS, meninggal pada Minggu (3/4) di New Haven. Prusoff meninggal pada umur 90 tahun, dan semasa hidupnya tinggal di Branford, Connecticut.

William Herman Prusoff, yang dikenal sebagai Bill, lahir pada 25 Juni 1920 di Brooklyn. Orang tuanya adalah imigran Yahudi dari Rusia yang mempunyai sebuah toko kecil. Kematian Dr. Prusoff dilaporkan oleh putranya, Alvin.

Prusoff menyelesaikan kesarjanaan di bidang kimia dari University of Miami pada 1941. Ia ditolak saat mendaftar ke ketentaraan karena penglihatannya yang buruk, ia melewatkan Perang Dunia II dengan menjadi pengawas di pabrik amunisi di Memphis, dan sebagai pengawas kesehatan ia bertugas memeriksa persediaan air dan perlengkapan dapur di Hotel Miami Beach dimana para pilot ditempatkan.

Atas dorongan orangtua, Prusoff mendaftar ke fakultas kedokteran, tetapi ia gagal. Yale School of Medicine menganggapnya sangat tidak memenuhi syarat hingga mengembalikan uang pendaftaran yang sudah disetor Prusoff dengan gaya mengasihani.

Akhirnya, Prusoff justru menyabet gelar doktor di bidang kimia dari University of Columbia pada 1949, dan ia kemudian menjadi dosen pengajar  ilmu Farmakologi di Western Reserve University di Cleveland sebelum bergabung dengan Departemen Farmakologi Yale School of Medicine pada 1953.

Dr. Prusoff menghabiskan sebagian besar karirnya untuk mempelajari turunan molekul thymidine, sebuah blok bangunan DNA. Jabatan Prusoff
menuntut dia untuk mengembangkan dua obat antivirus penting.

Pada awal tahun 1950, ia membuat Idoxuridine, pengobatan sukses untuk keratitis pada bayi. Keratitis adalah kondisi peradangan pada kornea yang disebabkan oleh virus herpes simplex, yang merupakan penyebab infeksi utama berakibat kebutaan. Idoxuridine mengganggu kemampuan virus untuk bereproduksi.

Penemuan Dr. Prusoff merupakan terobosan berarti, karena pada saat itu dipercaya bahwa senyawa antiviral yang kuat untuk membunuh virus
justru akan berbahaya bagi manusia, sedang sebaliknya senyawa antiviral yang aman untuk manusia tidak mampu mengatasi kerja virus.

Idoxuridine membalikkan dogma medis ini setelah memenangkan ijin dari Food and Drug Administration (FDA), dan senyawa ini digunakan sebagai obat antiviral yang pertama.  Atas prestasinya ini, Dr. Prusoff dijuluki sebagai Bapak Kemoterapi Antivirus.

Pada pertengahan 1980-an, ketika epidemi AIDS meluas, Dr. Prusoff dan sahabatnya dari Yale School of Medicine, Tai-shun Lin, mulai melihat turunan thymidine yang telah dikembangkan untuk mengobati kanker tapi tidak dipakai ketika terbukti tidak efektif. Salah satu turunan thymidine tersebut adalah stavudine, yang juga dikenal sebagai d4T, molekul yang mirip obat AIDS pertama, AZT (zidovudine).

Stavudine dan zidovudine disintesa pada tahun 1960 oleh Dr Jerome P. Horwitz di Michigan Cancer Foundation, sekarang bernama Karmanos Cancer Institute di Detroit.

Dr. Prusoff and Dr. Lin melakukan sintesa ulang molekul stavudine dan menemukan lewat tes laboratorium bahwa molekul tersebut memperpendek sirkuit enzim virus HIV, yang membuat virus tersebut memproduksi potongan DNA yang pendek dan tak lengkap.

Penemuan molekul tersebut akhirnya dipatenkan oleh Yale atas nama kedua peneliti tersebut, kemudian Yale menjual lisensi ke Bristol Myerr Squibb.

Pada 1992, stavudine diberi ijin  oleh FDA untuk dicobakan sebagai pengobatan pasien yang menderita penyakit berbahaya selama masih berada dalam masa penelitian klinis.

Pada 1994, FDA mengeluarkan ijin distribusi stavudine yang diedarkan dalam bentuk pil dan dijual dengan merk Zerit.

Karena efek samping potensialnya seperti mati rasa, sensasi terbakar, serta luruhnya lemak di telapak kaki, betis dan tangan, stavudine hanya diedarkan di negara-negara miskin, dimana obat ini dijual murah dan mudah didapat.

Stavudine menuai puluhan juta dolar ke pundi-pundi Yale setiap tahun, lebih besar dari jumlah total obat berlisensi lain yang dimiliki universitas tersebut digabungkan menjadi satu. Stavudine juga menghasilkan jutaan dolar untuk Dr. Prusoff yang menjadi pendukung kampanye Doctor Without Border, yang bertujuan menekan Bristol-Myers Squibb agar menurunkan harga stavudine di daerah Afrika Sub-Sahara, dimana kasus AIDS sangat tinggi.

Pada Maret 2001, Bristol-Myers Squibb menurunkan harga stavudine di Afrika, sebesar kira-kira Rp. 1500 per hari dari harga lama sebesar Rp. 20.000, dan mencabut larangan distribusi stavudine versi generik.

“Kami tidak melakukan hal ini untuk mendapatkan uang, ” kata Dr Prusoff kepada Yale School of Medicine Chronicle. “Kami tertarik untuk mengembangkan suatu senyawa yang akan bermanfaat bagi masyarakat.”

Dr. Prusoff menggunakan sebagian uang dari hak patennya untuk mendirikan William H. Prusoff Foundation, yang mendukung berbagai program, termasuk Inisiatif Yale untuk Studi Interdisipliner Anti-Semitis. Prusoff juga dianugrahi penghargaan di bidang virologi dan farmakologi dari Yale dan beberapa penghargaan ilmiah lainnya.

Selain anaknya, Alvin yang berdomisili di Fairfield, ia juga meninggalkan seorang putri, Laura yang selama ini tinggal di Ortahisar Turki, serta tiga orang cucu.(nyt/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *