Berita Daerah HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDS di Semarang Bertambah

Semarang – Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Semarang, Jateng, dalam kurun waktu tiga bulan ini bertambah 86 orang lagi, kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Tatik Suyarti, di Semarang, Rabu (13/5).

Mengutip laporan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap penyakit itu, dia mengatakan, selama periode Januari-Maret 2010 tercatat 77 penderita HIV dan penderita AIDS sembilan orang.

“Sebelumnya, jumlah penderita HIV di Kota Semarang selama periode 1993 hingga 2009 tercatat sebanyak 997 orang, 115 orang penderita AIDS, dan 25 orang di antaranya telah meninggal dunia,” katanya.

Menurut dia, pasien yang terdeteksi itu sebelumnya menjalani pemeriksaan di klinik “voluntary counseling and testing” (VCT) yang tersebar di seluruh Kota Semarang. “Mereka melakukan itu atas kesadaran sendiri dan tanpa paksaan,” ujarnya.

“Sebanyak 55 orang dari 77 penderita adalah pelanggan wanita pekerja seks, enam wanita pekerja seks, dua pengguna narkoba, satu wanita-pria (waria), dan sisanya kalangan lain, termasuk ibu rumah tangga,” katanya.

Ia menegaskan bahwa penyakit HIV/AIDS sebenarnya ibarat fenomena gunung es sebab kenyataan yang ditemui di lapangan hanya menunjukkan sebagian kecil realitas yang lebih utuh sehingga jumlahnya bisa lebih banyak lagi.

Bertambahnya penderita baru HIV/AIDS tersebut, kata dia, di satu sisi memang patut disesali. Namun, di sisi lain menunjukkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke klinik VCT semakin meningkat.

Kemungkinan, kata dia, para penderita baru yang ditemukan tersebut sebenarnya sudah lama mengidap HIV/AIDS, namun baru akhir-akhir ini mau memeriksakan diri sehingga diketahui kalau dia menderita HIV/AIDS.

“Masih banyak masyarakat yang termasuk risiko tinggi terkena HIV/AIDS belum mau memeriksakan diri sehingga mereka tidak mendapatkan penanganan jika ternyata terjangkit penyakit tersebut,” katanya.

Padahal, kata dia, klinik-klinik VCT sudah tersebar di berbagai rumah sakit, antara lain RSUP dr. Kariadi, RSUD Kota Semarang, dan pihaknya telah menggalakkan klinik VCT di sejumlah puskesmas di Kota Semarang.

“Puskesmas Halmahera dan Poncol Semarang telah dilengkapi klinik VCT sehingga memudahkan masyarakat yang ingin memeriksakan diri. Namun, sebelum itu mereka biasanya mendapatkan konseling,” katanya.

Pendeteksian yang dilakukan sejak dini, kata dia, memudahkan penanganan yang dilakukan sebab berkembangnya HIV menjadi AIDS rata-rata memerlukan waktu sekitar 2-3 tahun, bahkan bisa lebih cepat tergantung kondisi penderita.

Ditanya tentang penyebab bertambahnya penderita HIV/AIDS itu, ia mengatakan penyebab penularan terbesar selama ini masih diakibatkan hubungan seksual, berikutnya penggunaan jarum suntik bergantian.

“Karena itu, kami terus menggalakkan pembinaan terkait pemakaian kondom di seluruh lokalisasi untuk meminimalkan penyebaran penyakit HIV/AIDS meskipun masih saja ada yang tidak mematuhinya,” kata Tatik.(Ant)