Berita Internasional Kebijakan Mancanegara

Pemilik Kios Napza Daring Mengeksploitasi Layanan Pos AS

Washington, D.C. – Para pemilik kios napza daring (dalam jaringan/online) menggunakan jasa Layanan Pos Negara di Amerika Serikat untuk mendistribusikan berbagai produk, dan hak konstitusional atas kerahasiaan mencegah penegak hukum untuk menghentikan mereka.

Keuntungan utama membeli napza melalui pasar gelap internet, toko-toko daring anonim, yang diakses melalui perangkat lunak ter-enkripsi, adalah pengantaran napza langsung ke lokasi yang diinginkan konsumen.

Pembeli mengirim alamat mereka yang sudah melalui proses enkripsi ke para penjual napza daring, yang kemudian mengirimkan produk-produk mereka, disamarkan sebagai barang lain, menggunakan layanan pos. Walaupun perusahaan-perusahaan swasta seperti FedEx dan UPS, juga digunakan oleh pemilik kios napza daring, satu pilihan populer untuk masyarakat kelas bawah adalah layanan pos milik negara.

Layanan Pos Negara di AS menjunjung Amandemen Keempat, hak konstitusional atas kerahasiaan. Tidak seperti layanan pos swasta lainnya, parsel kelas satu layanan pos negara tidak dapat dibuka atau diperiksa tanpa ada perintah penggeledahan resmi dari pengadilan federal. Bila sebuah paket dianggap “mencurigakan” oleh pihak layanan pos berdasarkan tampilan atau bau, maka investigasi kriminal dengan bukti-bukti pendukung harus dimulai oleh layanan inspeksi pos.

Tetapi, operasi surveilans semacam itu terbatas sampai membuatkan “pembungkus pada paket”, mengambil foto dan mencatat segala rincian (nama-alamat pengirim dan penerima paket) pada sebuah bank data yang dapati diakses kemudian bila ada surat perintah penyelidikan dikeluarkan.

Para pemilik kios napza daring menyadari adanya perlindungan kerahasian pada Layanan Pos Negara, dan telah mengembangkan berbagai teknik untuk menyamarkan substansi-substansi ilegal, sehingga mereka dapat lolos dari tes eksternal yang dilakukan pada setiap paket. Karena kios napza daring sangat bergantung pada penilaian positif para konsumen, maka mereka memastikan untuk mempertahankan “keamanan” dalam proses pengantaran, secara efektif menyembunyikan produk napza untuk menghindari kecurigaan pihak berwajib.

Konsumen sangat berminat untuk membeli dari kios-kios daring yang terlatih untuk menghindari deteksi, dan memastikan pesanan mereka tiba dengan selamat. Kios-kios terpopuler menggunakan peranti kedap kelembaban, kantung-kantung kedap udara bersegel untuk melenyapkan bau; mereka melapisi produk napza dalam obyek-obyek yang tidak mencurigakan, seperti kartu ucapan selamat ulang tahun atau DVD, sehingga tidak dicurigai oleh petugas pengantar pos. Sebagai upaya untuk lebih meyakinkan pihak berwajib, kios-kios populer menetapkan nama dan alamat perusahaan fiktif.

Paul Krenn, wakil inspekur di Layanan Inspeksi Pos,  menegaskan bahwa sejumlah besar produk napza diperdagangkan melalui Layanan Pos Negara; pada tahun 2013, menurut Krenn, sekitara 13.000 paket produk napza (meningkat 18% dari tahun sebelumnya) telah disita, termasuk lebih dari 20.000 kg ganja. Tren ini nampaknya akan terus meningkat, karena Layanan Pos Negara mengalami pemotongan anggaran dan pengurangan karyawan, sehingga mereka kesulitan sumber daya keuangan dan personil untuk secara ekstensif menyelidiki 155 milyar kiriman pos per tahun.

Perubahan undang-undang yang memungkinkan perusahaan pos untuk menggeledah paket sepertinya tidak akan terjadi, karena setiap pembatasan atas hak-hak perseorangan akan mendapat tentangan keras. Walaupun ada sebuah kasus mandiri ketika para pekerja Layanan Pos Negara melacak konsumen produk napza melalui analisis jalur pos digital mereka, pasar napza daring sangat sulit untuk dilacak dengan teknik-teknik pencegatan napza konvensional. (TalkingDrugs/Yvonne Sibuea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *