Opini

Pembiaran Penyuntikkan Suboxone Ancam Nyawa Pasien Adiksi

Penulis : Yoga Ismaedi*

Peristiwa ditariknya buprenorfin yang lebih dikenal dengan merk dagang Subutex dari pasaran Juli 2010 lalu, menjadi pemicu berbagai masalah baru di kalangan pasien pengguna napza suntik (penasun). Penarikan buprenorfin yang seyogyanya ditujukan untuk memperbaiki carut marut penyalahgunaan buprenorfin di kalangan pasien adiksi opiat, didapati tidak berhasilguna.

Buprenorfin sebagai salah satu alternatif substitusi opiat telah disahkan peredarannya oleh pemerintah melalui Keputusan Badan POM no: PO.01.01.31.03660 tahun 2002.

Tablet buprenorfin yang seharusnya digunakan dengan cara sublingual (diresapkan dibawah lidah) justru digunakan dengan cara disuntikkan. Fakta ini marak terjadi karena kurangnya pengawasan pemerintah pada outlet-outlet penyedia layanan buprenorfin.

Buprenorfin yang pengawasan penggunaannya diatur dalam Keputusan BPOM/2002 diatas pada Bab III pasal 5 menyebutkan, buprenorfin harus diberikan langsung oleh dokter atau dibawah supervisi dokter kepada pasien untuk diminum langsung dan tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang.

Ketentuan inilah yang pada kenyataannya tidak pernah terlaksana di lapangan. Pengawasan pemerintah atas distribusi dan penggunaan buprenorfin hampir tidak ada.

Korban penyalahgunaan buprenorfin berjatuhan, rata-rata pasien penasun pengguna buprenorfin mengalami penyumbatan permanen pada pembuluh darah setelah menyuntikkan buprenorfin dalam jangka waktu tertentu. Kondisi ini sering berakhir kematian.

Kebijakan Asal-Asalan

Respon pemerintah dalam menghadapi penggunaan buprenorfin cenderung asal-asalan tanpa adanya analisa mendalam pada situasi penasun. Pemerintah berencana mengganti buprenorfin dengan kombinasi buprenorfin nalokson yang dikenal dengan bandrol Suboxone.

Menurut keterangan resmi Schering-Plough sebagai distributor, bila Suboxone disuntikkan maka senyawa yang akan aktif bekerja adalah nalokson yang akan menurunkan kadar opiat dalam darah. Alhasil, klien akan merasa kesakitan seperti saat mengalami gejala putus obat. Diharapkan, efek ini akan mencegah klien berhenti menggunakan cara menyuntik.

Pada Juli 2010, pemerintah akhirnya benar-benar menarik buprenorfin dari pasaran. Hal ini mengagetkan para klien pengguna layanan buprenorfin, karena gembar gembor ditariknya buprenorfin sebenarnya telah diumumkan sejak Agustus 2008.

Kembali Berburu Putaw**

Penarikan buprenorfin tidak serta merta diikuti dengan penyediaan obat pengganti. Penyedia layanan dibiarkan mengalami kekosongan pasokan selama beberapa bulan.

Pasien buprenorfin di Semarang terpukul hebat dengan kejadian ini. Tak ayal mereka segera berburu sisa-sisa stok buprenorfin di kota lain yang dijual dengan harga tiga kali lipat. Setelah buprenorfin yang tersisa juga habis, terpaksa mereka yang sudah bertahun-tahun merasa aman ditangani oleh dokter harus kembali ke jalan untuk mencari putaw.

Upaya bertahun-tahun para klien untuk lepas dari ketergantungan putaw pupus sudah. Begitu kembali menyentuh putaw, singa tidur yang sudah hampir jinak kembali dibangunkan. Mereka kembali menikmati putaw dan sulit diminta untuk berhenti.

Dalam periode hilangnya buprenorfin selama kira-kira 2 bulan di kota Semarang, tidak sedikit para klien penasun tertangkap tangan oleh petugas Kepolisian sedang menggunakan putaw. Usaha pecandu putaw untuk sembuh, akhirnya berujung  vonis pemenjaraan. Sungguh ironis.

Kemunculan Suboxone pada September 2010 yang diharapkan dapat menghentikan ritual menyuntik para klien, ternyata gagal total.

Efek sakit menyuntikkan Suboxone diawal-awal penggunaan, segera hilang setelah para klien rutin menyuntik. Saat ini,  hampir semua klien Suboxone kembali ke perilaku menyuntik. Tidak ada pemantauan yang dilakukan pemerintah setelah melepaskan layanan baru ini.

Pengawasan pada penyedia layanan tetap minim, penelitian pada situasi terkait penyuntikkan Suboxone juga belum pernah dilakukan.

Secara lokal di Semarang, pemerintah melalui Dinas Kesehatan Kota Semarang saat ini baru berkontribusi melayani pecandu NAPZA dengan menyediakan Layanan Alat Suntik Steril (LASS) untuk pencegahan HIV, serta penyediaan terapi metadon di 4 Puskesmas.

Menanti Solusi

Para pasien pengakses Suboxone belum mendapat porsi perhatian yang sama.

Sebagai perbandingan, pemerintah Australia melalui pusat-pusat layanan kesehatan menyediakan filter buprenorfin, untuk mengurangi endapan kasar dari tablet buprenorfin yang dicairkan. Sementara pemerintah India, memproduksi buprenorfin jenis cair sebagai solusi mengurangi risiko penyuntikkan buprenorfin.

Diharapkan pemerintah Indonesia segera menyikapi masalah ini dengan perencanaan yang matang, dengan bercermin dari hasil kontraproduktif saat  menarik buprenorfin dari pasaran.

  • Yoga Ismaedi adalah relawan PERFORMA, komunitas pengguna napza di kota Semarang

**putaw: heroin kualitas rendah

 

One thought on “Pembiaran Penyuntikkan Suboxone Ancam Nyawa Pasien Adiksi”

  1. Assalamu`alaikum pak Yoga Ismaedi . saya minta no hp bapak
    hub kami di email kami : al_arasyi@yahoo.co.id
    Saya ingin tahu lebih banyak seputer hakekatnya penguna NARKOBA.
    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *