Berita Internasional Kebijakan

Pat Robertson: Ganja Seharusnya Dilegalkan Seperti Alkohol

Pat Robertson

Richmond – Pengisi siaran rohani ternama Pat Robertson, mengatakan bahwa ganja seharusnya dilegalkan sama halnya dengan alkohol karena kebijakan perang terhadap NAPZA atau War on Drugs yang diterapkan oleh pemerintah telah terbukti gagal.

Pemuka agama Kristen pemilik sebuah stasiun televisi religi di Virginia Beach yang juga pembawa acara “The 700 Club” ini menyebutkan bahwa kebijakan perang terhadap NAPZA telah menghabiskan dana trilyunan dolar dari pembayar pajak di Amerika Serikat. Dia juga mengatakan bahwa tidak seharusnya seseorang dipenjarakan karena menggunakan ganja.

Pria berusia 81 tahun ini dijuluki “hero of the hippie culture” atau pahlawan budaya hippie pada tahun 2010 lalu sejak ia menyerukan secara luas tentang dihilangkannya hukuman penjara atas kepemilikan ganja.

“Saya berpikir bahwa sangat memprihatinkan sekali, ketika seorang anak muda menyimpan ganja dalam jumlah yang tidak begitu banyak untuk digunakannya sendiri kemudian berakhir di penjara bersama lalu ketika keluar berubah menjadi penjahat kelas kakap,” ujar Robertson seperti dirilis oleh BostonGlobe, Jumat (9/3).

Dukungan Robertson untuk melagalkan ganja ini juga dimuat dalam sebuah kolom di harian New York Times, Kamis (8/3). Juru bicaranya menyampaikan bahwa Robertson mendukung legalisasi yang diikuti dengan adanya aturan-aturan.

“Saya sangat percaya kita harus memperlakukan ganja sama seperti cara kita memperlakukan minuman beralkohol. Jika orang dapat pergi ke sebuah toko minuman keras dan membeli sebotol alkohol lalu minum di rumah secara legal, maka mengapa kita mengatakan bahwa penggunaan zat lain ini adalah tindakan kriminal?” ujarnya.

Robertson mengatakan dia “sangat” mendukung langkah-langkah pemungutan suara di negara bagian Colorado dan Washington. Dimana pemungutan suara tersebut akan yang akan memungkinkan orang berusia 21 keatas untuk memiliki sejumlah kecil ganja dan juga penjualan ganja dalam jumlah kecil untuk keperluan sehari-hari. Jika kedua opsi ini memenangkan suara, bisa jadi hasilnya akan bertentangan dengan hukum negara yang melarang penggunaan ganja untuk alasan apapun.

Namun meskipun Robertson mendukung legalisagi ini, dia menyatakan bahwa tidak akan berkampanye khusus mengenai hal ini dan tetap tidak menyarankan orang menggunakan NAPZA dengan cara bagaimanapun dan dalam bentuk apapun.

“Saya bukan orang suci, tidak pernah menggunakan ganja, dan sampai sekarangpun tidak mempunyai keinginan untuk itu. Saya hanya berpikir bahwa kebijakan perang terhadap NAPZA ini terbukti tidak berhasil,” ungkapnya.

Sementara itu, direktur eksekutif Drug Policy Alliance Ethan Nadelman dalam sebuah pernyataannya pada Kamis (8/3) menyebutkan bahwa pendapat Pat Robertson ini memberikan wacana baru dalam perkembangan bahasan mengenai legalisasi ganja.

“Melihat tentang kebijakan pelarangan terhadap ganja ini hanya tinggal menunggu waktu untuk pembuktian bahwa hal itu merupakan kebijakan yang salah,” ujarnya

Menanggapi hal ini, Kelompok Advokasi Kristen yang fokus pada permasalahan keluarga mengaku menentang penggunaan ganja baik untuk keperluan medis maupun rekreasional. Dalam sebuah pernyataan, Carrie Gordon Earl, pejabat senior di bidang pemerintahan dan kebijakan publik pada organisasi tersebut mengatakan bahwa organisasi tidak akan memberi komentar khusus terkait pernyataan Robertson.

Sebanyak 16 negara bagian dan wilayah District of Columbia telah melegalkan penggunaan ganja untuk kepentingan medis. Empat Belas negara bagian juga telah menurunkan atau bahkan menghilangkan hukuman dalam kasus kepemilikan ganja. Bagaimanapun juga, legalisasi dapat mengurangi hukuman dan membuka lebar jalan untuk mengatur penggunaan ganja sama seperti pengaturan penggunaan alkohol.

Pernyataan Robertson ini setidaknya mampu membuka wacana baru dalam diskusi-diskusi masyarakat tentang kebijakan NAPZA. Demikian yang disampaikan oleh Allen St. Pierre, direktur eksekutif organisasi nasional untuk perubahan kebijakan terkait ganja atau National Organization for the Reform of Marijuana Laws.

“Ini merupakan sebuah kemajuan positif bagi kami yang bekerja di advokasi kebijakan, saat sosok yang dikenal masyarakat luas mau menyampaikan pernyataan sikapnya terkait dengan status hukum ganja,” ujar St. Pierre. (IH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *