Buku

Opium: Uncovering the Politics of the Poppy

Judul: Opium: Uncovering the Politics of the Poppy,
Pengarang: Pierre-Arnaud Chouvy,
Bahasa: Inggris,
Halaman: 256
Penerbit: Harvard University Press,
Tahun: 2010,

Resensi: Phillip S. Smith

Lebih dari 10 tahun, Pierre-Arnaud Chouvy seorang peneliti Perancis telah membangun reputasi sebagai ahli terkemuka di bidang opium dan perdagangan opium, dan dengan buku “Opium”, ia membuka akses pengetahuan pada pembaca berbahasa Inggris.

Dengan menerbitkan “Opium”, Chouvy telah mengungkap sejarah panjang dan menakjubkan dari bunga poppy penghasil opium dan menjelajah dinamika dibalik pola mutasi kultivasi yang pernah terjadi dan distribusi yang menandai perdagangan opium di masa lalu.

Chouvy juga menerangkan mengapa kebijakan anti napza agresif yang telah diberlakukan puluhan tahun oleh Amerika Serikat dan PBB telah gagal menekan atau mengurangi produksi poppy ilegal.

Pengetahuan Chouvy tentang perdagangan opium sangatlah luas, ia telah menjalani bertahun-tahun kehidupannya di Asia, dari Myanmar dan Laos sampai Afganistan dan Pakistan.

Saat ia melacak evolusi perdagangan opium pada abad 20, ia menemukan betapa sangat sulitnya menekan peredaran poppy, si pereda sakit.

Chouvy membawa pembaca pada kisah kesuksesan China (walaupun secara temporer) melarang peredaran opium pada 1950 dan menunjukkan betapa pelarangan justru memicu produksi opium di perbatasan selatan di Thailand, Laos dan Myanmar.

Dalam perjalanannya, Chouvy menyingkap kesia-siaan perang terhadap napza dengan membuka relasi saling menguntungkan antara ekonomi napza dan ekonomi perang.

Sebuah perdagangan yang mempersubur kemiskinan dan keterbelakangan karena konflik penuh kekerasan yang tak mampu diredakan oleh kekuatan militer sekalipun. Sehingga, logika yang melatar belakangi “perang terhadap napza” hampir seluruhnya kontra produktif (orang dapat berargumen bahwa pasar memicu adanya produksi, walaupun opium tergolong jenis komoditas yang menciptakan pasarnya sendiri).

Hal tersebut bukanlah pokok masalah, Chouvy lebih menitikberatkan pada kronologi. Terutama pada area yang didominasi oleh paradigma “perang terhadap napza” buatan AS dan PBB.

Pendekatan tersebut telah terbukti gagal, karena pemusnahan dijadwalkan sebelum pengembangan alternatif dilakukan. Permasalahan pokok ini saling terkait. Pengembangan solusi alternatif harus dilakukan sebelum adanya kebijakan pemusnahan atau  pelarangan, atau kebijakan tersebut akan sama sekali tak berfungsi.

Masalah ketiga dengan program pengembangan alternatif adalah, sampai sekarang, AS telah merancang sebuah kebijakan ‘satu untuk semua’ tanpa memandang perbedaan pola penanaman poppy di perbatasan tiap-tiap negara, terutama di dalam sebuah negara.

Di Afghanistan contohnya, petani poppy yang miskin yang kekurangan persediaan pangan terpaksa menanam poppy disela-sela tanaman pangannya, sementara petani poppy yang kaya menambah jumlah tanaman poppy untuk meraih keuntungan yang lebih besar.

Program pengembangan harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik di skala lokal dan pada kondisi tertentu, tulis Chouvy.

Tetapi, mengurangi penanaman opium memiliki tantangan fundamental.

“Sangat perlu mengidentifikasi dan memperhatikan penyebab kemiskinan dan kekurangan pangan, bila produksi poppy akan dikurangi atau ditekan,” imbuh Chouvy.

Ini sebuah hal yang sangat sulit bagi sebuah negara seperti Afganistan dan Myanmar, dan kebijakan ini menuntut adanya perubahan ekonomi, sosial dan politik yang mungkin tidak diperhatikan oleh mayoritas negara-negara donor seperti AS.

Dengan “Opium”, Chouvy telah memberikan kontribusi besar pada literatur perdagangan poppy.

Buku Chouvy sangat perlu dibaca oleh para akademisi, aktivis, pemangku kebijakan, pekerja LSM, dan siapa saja yang memiliki ketertarikan serius pada perdagangan opium dan bagaimana menyikapinya. (Alih Bahasa: Yvonne Sibuea)