Berita Lembaga

Obat Resep Akibatkan Lebih Banyak Pasien Dirawat di UGD

SAMHSA

New York – Jumlah pasien ruang gawat darurat terkait penyalahgunaan obat resep telah meningkat hampir dua kali lipat selama lima tahun terakhir, menurut data terbaru pemerintah federal AS .

Sementara jumlah kunjungan ke RS terkait masalah NAPZA seperti kokain dan heroin, cenderung konstan.

The Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA) mendata sekitar 1,2 juta kunjungan ke ruang gawat darurat terkait obat farmasi pada 2009, dibandingkan dengan 627.000 kunjungan pada 2004. SAMHSA tidak mendata kunjungan karena reaksi negatif terhadap obat yang diminum sesuai petunjuk dokter.

Jumlah kunjungan ke ruang gawat darurat terkait obat resep telah melampaui kasus perawatan terkait NAPZA ilegal selama tiga tahun berturut-turut, kata R. Gil Kerlikowske, penasihat utama Presiden Obama tentang kebijakan NAPZA.

“Ketika anda melihat peningkatan sebesar 98 persen,” kata Mr Kerlikowske, “dan menghitung biaya yang harus disisihkan, jumlahnya akan sangat mengejutkan.”

Pada 2010, SAMHSA melaporkan bahwa jumlah orang yang mencari pengobatan karena ketergantungan pada obat penghilang rasa sakit melonjak 400 persen sepanjang 1998-2008.

Saat ini di sejumlah negara berkembang, kematian akibat obat resep melampaui jumlah kecelakaan kendaraan bermotor. Obat penghilang rasa sakit berbahan opiat seperti Vicodin, Percocet dan OxyContin tercatat paling banyak memakan korban jiwa.

Pada September 2010, Drug Enforcement Administration (DEA) menyelenggarakan program nasional pengembalian obat resep, dan ribuan orang mengantarkan obat kadaluarsa atau obat yang belum terpakai ke lokasi-lokasi yang ditunjuk di seluruh AS.

Walaupun upaya ini hanya mampu mengurangi sebagian kecil dari obat adiktif di lemari obat rakyat AS, tetapi diharapkan dapat membantu masyarakat AS memahami betapa berbahayanya obat resep tersebut. Hari pengembalian obat resep berikutnya akan dilaksanakan pada April 2011 , tegas Kerlikowske.

“Yang terpenting adalah mempublikasikan bahwa obat resep yang kita simpan di lemari obat ternyata sangat berbahaya.”, Kerlikowske menutup pembicaraan.(nyt/ys)