Berita Internasional Kebijakan Mancanegara

New York Waspadai ‘Cheese’, Kombinasi Heroin dan Obat Flu

New York – Departemen Kepolisian Kota New York bersiaga atas kemungkinan kembali mewabahnya ‘Cheese’, narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza) yang pernah merenggut nyawa 20 remaja pada 2005 di Dallas.

‘Cheese’ adalah campuran heroin dan obat flu dosis tinggi yang dalam pemakaiannya dapat berakibat kematian.

Cheese‘ dikemas dalam bentuk koin dan diedarkan di kalangan remaja usia sekolah yang akhirnya mengalami ketergantungan pada napza tersebut. Bubuk heroin coklat ‘Cheese‘ dihargai dua dolar AS atau sekitar 18 ribu rupiah. Penggunaan bubuk tersebut dengan cara dihirup diantara jam-jam pelajaran sekolah.

Para pengedar membungkus paket napza tersebut dengan merk-merk yang digemari anak sekolah, seperti Lady Gaga, Mickey Mouse, Looney Tunes dan karakter-karakter kartun dari film The Lion King.

Sekali anak-anak tersebut mengalami ketergantungan pada ‘Cheese‘, mereka sangat sulit berhenti. Gejala ketagihan mulai muncul setelah 6 jam, yang artinya pecandu ‘Cheese’ harus mengkonsumsi kira-kira 5 kali dalam sehari.

Parahnya, ‘Cheese’ juga memiliki kandungan asetaminofen, zat yang biasa ditemukan dalam obat flu dalam dosis mematikan.

Beredarnya ‘Cheese’ dihubungkan dengan beberapa kasus kematian di Texas dan saat ini polisi di New York kuatir wabah ini akan menjalar ke New York.

“Konsumsi ‘Cheese’ dapat berakibat kematian,” demikian penegasan Kepala Kepolisian Kota New York.

Keberadaan ‘Cheese’ sudah menjadi pantauan para pengawas napza di Amerika sejak 2005 ketika zat tersebut dicurigai menjadi penyebab kematian 20 kasus kematian di Dallas.

Walaupun hanya 2.6 % pelajar SMA yang pernah mencoba heroin di AS, para pengedar menggunakan ‘Cheese‘ untuk menjerat para konsumen dengan daya tarik harga yang murah.

Napza jenis ‘Cheese‘ dibuat dari campuran bubuk heroin dengan obat batuk, ada kemungkinan dengan penambahan air dan substansi lain, dan biasanya digunakan dengan dihirup.

Kemurnian heroin dalam ‘Cheese’ berada dalam kisaran 8 %, jauh dibawah jumlah yang biasanya dibutuhkan pengguna heroin suntik, tapi cukup untuk membuat ketergantungan baru.

Polisi menemukan anak-anak dibawah 12 tahun mengalami ketergantungan pada ‘Cheese’ dan akhirnya bisa tertolong setelah ada intervensi intensif dari keluarga mereka.

Diantara para orangtua yang kehilangan anak karena ‘Cheese’ adalah Dave Cannata dari Dallas. Saat ini ia mengadakan tur keliling AS untuk memperingatkan para orangtua akan bahaya napza.

Cannata, menemukan Nick anaknya meninggal di kamar tidurnya 5 tahun lalu, setelah mengalami overdosis ‘Cheese’.
Nick (16) baru saja pulang dari panti rehabilitasi yang diikutinya selama 6 bulan, ketika ia pulang ke rumah dan langsung menuju kamar tidur. Ia ditemukan meninggal keesokan harinya.

“Orangtua patut waspada akan hal ini,” tegas Cannata.

“Setiap hari saya memandangi foto anak saya, dan saya tidak akan peduli berapapun biaya yang dibutuhkan untuk menolong dia keluar dari adiksi. Tapi itu sudah terlambat,” sesal Cannata. Ia menekankan betapa berbahayanya peredaran ‘Cheese’ yang seharusnya menjadi perhatian utama para pemangku kebijakan napza di AS.

Drug Enforcement Agency (DEA) menyebut ‘Cheese’ sebagai ‘heroin pemula’ karena rendahnya kadar heroin dalam campuran napza tersebut.

‘Cheese’ biasa digunakan oleh para pecandu yang sudah cukup lama berhenti dalam masa peralihan sebelum kembali mengkonsumsi heroin dalam dosis tinggi.(DM/YS)