Berita Berita Internasional

Morales Kuliahi Sekretaris Pertahanan AS, Tolak Intervensi Masalah NAPZA

Evo Morales Foto: AP

Santa Cruz – Presiden Bolivia, Evo Morales pada  9th Conference of Defense Ministers of the Americas (CDMA) di  Santa Cruz  Senin (22/11) menuduh Amerika Serikat telah menghambat tumbuhnya pemerintahan demokrasi di Amerika Latin.

Pernyataan keras ini diungkapkan dalam pidato Morales tentang plot dan konspirasi yang menurutnya disiapkan Washington, sementara Sekretaris Pertahanan AS Robert M.Gates menyimak beberapa meter dari podium.

Gates tidak menunjukkan perubahan mimik wajah ketika Morales membuka konferensi para menteri pertahanan negara-negara Amerika tersebut dengan pidato panjang tanpa teks yang intinya mengutuk pihak militer AS, beberapa mantan duta besar AS di Bolivia, Drug Enforcement Administration (DEA), International Monetary Fund (IMF) dan dua anggota kongres AS.

Menurut Morales, semua yang disebutkannya diatas terlibat dalam rencana rahasia untuk menggulingkan pemerintahan di Bolivia dan negara-negara Amerika Latin disekitarnya.

Ia membeberkan beberapa detil tanpa adanya bukti signifikan, walaupun ia menyebutkan adanya dokumen-dokumen yang menunjukkan seorang mantan utusan AS yang bertugas di Bolivia telah bekerjasama dengan lawan politik Morales untuk menggulingkannya.

Para petinggi militer AS tidak terkejut dengan kemarahan Morales yang sejak dulu kerap menyerang kebijakan Washington. Tetapi dalam latar belakang konferensi yang bertujuan mempromosikan kerjasama militer di antara negara-negara Amerika, kejadian ini cukup unik.

Morales populer dengan latar belakang sebagai pimpinan konfederasi petani koka dan gabungan organisasi penentang usaha AS untuk membatasi produksi koka di Bolivia.

Sebagai Presiden, Morales telah menolak keras duta besar Amerika dan DEA yang bermaksud mendirikan gerakan kontra narkotika besar-besaran di Bolivia.

Perlawanan Morales membuatnya sangat populer diantara para pekerja di wilayah pedesaan.

Mayoritas petinggi militer dan pertahanan AS mendengarkan pidato Morales dalam keheningan. Tetapi sekelompok peserta konferensi pendukung Morales menyambut pidato tersebut dengan tepuk tangan, termasuk ketika Morales menegaskan bahwa Bolivia tidak akan berpartisipasi dalam latihan-latihan militer bersama AS. Menurut Morales, upaya tersebut adalah ancaman terhadap demokrasi di Bolivia.

“Yang jelas, Bolivia tidak ikut serta dan tak akan pernah lagi ikut serta dalam latihan militer gabungan yang menentang demokrasi,” tegas Morales yang disambut riuh rendah para pendukungnya yang duduk di sayap ruangan.

Sementara, pidato Robert Gates di konferensi tersebut tidak menyebut nama Morales serta tidak menyinggung sejarah intervensi AS di Amerika Latin. Gates menitikberatkan himbauan akan adanya kerjasama militer yang lebih besar untuk menangani masalah peredaran NAPZA, bencana alam dan jaringan kriminal.

Saat ditanya sikap AS atas kebijakan Bolivia menerima asistensi pengembangan tehnologi nuklir dari Iran, negara yang diisolasi oleh AS, Gates menyatakan bahwa selaku negara merdeka, Bolivia berhak menentukan apa yang tepat untuk negara tersebut.

“Saya fikir, Bolivia harus memperhatikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menentang perilaku Iran,” ungkap Gates, “tetapi banyak negara tetap berhubungan baik dengan Iran, tentu saja ini mutlak keputusan pemerintah Bolivia.”

Morales kembali mendapatkan tepuk tangan meriah dari para pendukungnya ketika ia menyebutkan bahwa Washington telah mencoba untuk mendikte relasi luar negeri Bolivia.

“Dibawah kepemimpinan saya, Bolivia akan beraliansi dengan negara manapun di dunia,” tegasnya. “Kami punya hak sepenuhnya.”

Morales juga menyebutkan plot dan konspirasi Washington ditujukan pada dirinya dan Hugo Chavez, Presiden Venezuela. “Bila terjadi sesuatu dengan Hugo Chavez, satu-satunya yang bertanggungjawab adalah Connie Mack”.

Connie Mack adalah seorang anggota kongres dari Partai Republik yang menurut Morales adalah agen yang ditugaskan untuk mencelakakan Chavez.(lat/YS)