Berita Nasional Kebijakan Nasional

Menteri Perempuan dan Anak Tolak Legalisasi Ganja

Linda Gumelar

Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar menegaskan dirinya menolak wacana legalisasi tanaman ganja di Indonesia.

“Saya menolak wacana tersebut,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar di Jakarta, Kamis (12/5).

Menteri menjelaskan, penggunaan ganja yang disalahgunakan bisa menimbulkan adiksi sehingga berbahaya bagi kesehatan.

“Saya tidak ingin legalisasi ganja nantinya berpengaruh buruk pada anak-anak Indonesia,” katanya.

Menurut menteri, legalisasi ganja bisa mengakibatkan banyak anak Indonesia yang ingin mencoba dan menyalahgunakannya.

“Kalau dilegalkan maka nanti banyak anak-anak yang penasaran dan ingin mencoba menggunakan ganja dan disalahgunakan,” katanya.

Dikatakannya, ganja legal jika digunakan untuk pengobatan namun menjadi dilarang ketika penggunaannya disalahgunakan sehingga membahayakan kesehatan.

Menurut Linda semua pihak harus mengutamakan kepentingan dan perlindungan terhadap anak-anak Indonesia dalam menindaklanjuti wacana tersebut.

Sekelompok orang yang tergabung dalam Lingkar Ganja Nusantara (LGN) menyuarakan legalisasi tanaman ganja di Indonesia dengan menggelar aksi Global Marijuana March (GMM) 2011.

Saat ini baru Belanda yang melegalkan ganja sementara di Indonesia tanaman bernama latin Cannabis Sativa itu dilarang berdasarkan Undang-Undang No. 35 tentang Narkotika tahun 2009 digolongkan sebagai narkotika kelas satu. (Ant/Gen)

One thought on “Menteri Perempuan dan Anak Tolak Legalisasi Ganja”

  1. Ibu2.. saya harap kalian baca2 n mikir2 lagi sebelum menolak.. Menimbang dari semua sisi, secara global. membahayakan kesehatan hanya untuk mereka yang dibawah umur, seperti halnya rokok dan alkohol. dan ganja adalah pilihan yang sehat dibandingkan rokok dan alkohol untuk mereka yg sudah dewasa. anak2 dibawah umur bisa mendapatkan ganja karena mereka dengan gampangnya bisa dapet dari “pasar gelap”, dan “pasar gelap” tidak pernah peduli apakan yg beli itu masih dibawah umur. dan juga, di “pasar gelap” tersedia obat2an terlarang lainnya. jikalau ganja jd legal dan peredarannya diatur oleh pemerintah, sedikit demi sedikit akan menutup jalur ke “pasar gelap”. dan apabila ganja sudah biasa dimata masyarakat, sama seperti halnya rokok dan tembakau, keinginan untuk mencoba akan menurun. alangkah lebih baik jika qt memiliki hubungan komunikasi yang terbuka dengan anak2 qt daripada menjelek2an ganja hanya karena org lain bilang tidak, lagipula hal ini akan merusak kredibilitas qt sebagai orang tua dimata mereka dan mendorong mereka untuk mencoba diluar rumah tanpa sepengetahuan qt. ketakutan qt akan mereka menggunakan ganja hanya akan mendorong mereka untuk memberontak apabila tidak didasari oleh pembelajaran, diskusi, dan komunikasi yg jujur dengan mereka. ayo ibu2, jaman sekarang pikiran harus terbuka dengan hal2 yang baru, jama sudah berubah, banyak hal yang terjadi diluar sana dibandingkan dengan yg terjadi di masa qt masih muda, maka itu pikiran qt juga harus beradaptasi dengan yg terjadi di sekitar qt.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *