Advokasi Berita Internasional Kebijakan Global Kebijakan Mancanegara Kegiatan

Menjelang UNGASS 2016, Rusia Mentahkan Upaya Reformasi Napza Global (2)

“Rusia selalu berbangga atas pengaruh kuat mereka dalam sesi pengendalian napza PBB. Mereka terus menganggap negara mereka sebagai pemain utama,” ungkap Daniel Wolfe, Direktur International Harm Reduction Development-Open Society Foundation kepada The Huffington Post. Perwakilan Rusia dalam sesi tersebut sekaligus adalah pimpinan Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UN Office on Drugs and Crime-UNODC). Hal ini merupakan ironi yang aneh. “UNODC jelas menyatakan bahwa terapi subtitusi opiat adalah satu diantara paket-paket perawatan napza yang bermanfaat, dan juga mendukung program penyediaan jarum suntik steril, “imbuh Wolfe. “Pemerintah Rusia telah keluar jalur, walaupun UNODC dipimpin oleh diplomat Rusia.”

Tetapi karena sesi khusus PBB menganut sistem konsensus, Rusia memiliki hak veto yang efektif.

Dalam kasus kedekatan Rusia dengan Afganistan dan suplai opium-nya yang membanjir, Rusia telah menjadi rute transit utama para penyelundup napza yang mengirimkan opium ke Eropa dan berbagai lokasi lain di dunia. Akar jalur napza via Rusia yang kini kian berskala raksasa mulai terbentuk setelah kegagalan Rusia dalam perang satu dekade dengan Afganistan, yang berakhir pada tahun 1989.

Sama seperti para tentara AS yang kembali ke wilayah masing-masing dari perang Vietnam dengan tingkat ketergantungan napza yang mencapai 20%, tentara Rusia dalam jumlah yang signifikan kembali ke rumah dengan masalah adiksi heroin yang serius. Dan masalah tersebut berkembang dalam dua dekade terakhir, ketika Soviet jatuh, negara-negara baru terbentuk dan perbatasan-perbatasan baru dipetakan sepanjang wilayah tersebut. Terjadilah kebebasan baru perdagangan lintas perbatasan, memicu ledakan penggunaan napza dan transit perdagangan napza. Setelah pecahnya Soviet, sejak 1992 hingga 2010, jumlah orang dengan ketergantungan napza di Rusia meningkat sembilan kali lipat, menurut data U.S. State Department.

Kini Rusia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna heroin tertinggi, per kapita. Pada tahun 2013, hampir 6% penduduk Rusia, atau sekitar 8 juta orang, dikategorikan sebagai pengguna napza regular atau orang dengan ketergantungan napza, dan sekitar 90% orang dengan ketergantungan napza adalah pengguna heroin. Krisis heroin Rusia juga berkaitan dan mendorong meningkatnya epidemi HIV di seluruh wilayah negara, lebih dari satu juta penduduk Rusia, kira-kira 1,5 juta orang, kini terinfeksi HIV, dan banyak diantara mereka terinfeksi melalui jarum suntik yang terkontaminasi.

“Sungguh sangat mengecewakan,” ungkap Kasia Malinowska-Sempruch, Direktur Global Drug Policy Program-Open Society Foundation kepada The Huffington Post mengenai sikap pemerintah Rusia terhadap napza. “Bila Rusia memutuskan melakukan sesuatu, sebenarnya mereka bisa melakukannya, tetapi pemerintah pusat memutuskan untuk tidak memberlakukan program-program yang bermanfaat untuk memperbaiki situasi.”

Menurut Malinowska-Sempruch, hal ini terjadi karena Kremlin memiliki pandangan berbeda terhadap krisis napza. “Jutaan orang mati di Rusia karena satu dan lain hal, karenanya, kematian karena krisis napza bukanlah suatu hal yang dramatis (menurut pemerintah Rusia). Hal ini dramatis bagi anda dan saya, tetapi tidak untuk Rusia.”

Bersambung ke: Bagian 3   //  Kembali ke: Bagian 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *