Berita Nasional

Mengutamakan Kemanusiaan, Hakim Jatuhkan Vonis Ringan untuk Fidelis

Jakarta, NapzaIndonesia.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sanggau memutus perkara Fidelis Ari Sudarwoto dengan pidana 8 bulan penjara ditambah denda 1 milyar rupiah subsider 1 bulan penjara. Putusan hakim ini sedikit lebih tinggi dari angka tuntutan Jaksa Penuntut Umum yakni 5 bulan penjara ditambah denda 800 juta rupiah subsider 1 bulan penjara.

Fidelis menjalani proses hukum karena didapati menanam 39 batang pohon ganja yang kemudian ia ekstrak untuk digunakan mengobati penyakit langka istrinya. Yeni Riawati, istri Fidelis didiagnosa menderita Syringomyelia; penumpukan cairan di dalam sumsum tulang belakang. Pegawai negeri sipil yang berdinas di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat ini, ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sanggau pada 19 Februari 2017 lalu.

Fidelis beritikad baik, berkonsultasi dengan Badan Narkotika Nasional untuk mencari solusi atas upaya pengobatan yang ia tempuh untuk istrinya. Sayangnya, niat baik Fidelis direspon dengan penegakkan hukum positif oleh BNN. Langkah BNN membawa kasus Fidelis ke jalur hukum berakibat terhentinya suplai ekstrak ganja yang dibutuhkan Yeni untuk menangani penyakitnya, hingga akhirnya Yeni meninggal dunia pada 25 Maret 2017.

Jaksa Penuntut Umum menggunakan pasal 111 ayat 2 Undang-Undang Narkotika untuk menuntut Fidelis, namun Majelis Hakim punya pandangan berbeda. Majelis Hakim menilai bahwa pasal yang terbukti dilanggar Fidelis ialah pasal 116 ayat 1 Undang-Undang Narkotika yang memiliki besaran pidana 5 tahun, minimum, sampai dengan 15 tahun penjara ditambah denda 1 milyar rupiah, minimum, sampai dengan 10 milyar rupiah. Pasal 116 ayat 1 sendiri adalah pasal yang memidanakan penggunaan atau pemberian Narkotika Golongan 1 pada orang lain secara tanpa hak atau melawan hukum.

Melalui rilis pers, LBH Masyarakat memuji putusan Majelis Hakim cukup baik karena telah berani menerobos angka pidana minimum. Analis Kebijakan Narkotika LBH Masyarakat, Yohan Misero menyatakan, “Hal ini selaras dengan nilai yang coba dibangun melalui Surat Edaran Mahkamah Agung, No. 7 Tahun 2012 dan No. 3 Tahun 2015 yang secara literal membuka ruang penerobosan ini ketika dihadapkan dengan pemakai narkotika yang dikenakan pasal lain yang tidak pas.”

Walau putusan ini membuat Fidelis harus menunggu sedikit lebih lama untuk kembali pada keluarganya, LBH Masyarakat tetap mengapresiasi adanya nilai-nilai kemanusiaan yang dikedepankan oleh Majelis Hakim dalam memutus perkara.

Tidak kalah penting adalah dukungan dan perhatian publik yang luar biasa dalam kasus Fidelis, yang menunjukkan adanya empati dan akal sehat dalam menilai sebuah kasus. Beberapa hari menjelang sidang putusan Fidelis, tagar #SaveFidelis terlihat viral di media sosial.

Menurut Yohan, pesan penting yang tersampaikan ke masyarakat dalam kasus Fidelis adalah urgensi pemanfaatan Narkotika Golongan 1 untuk kesehatan. Selama ini membicarakan penggunaan ganja dianggap sama sekali tabu, karena dikaitkan dengan kebobrokan moral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *