Opini

Mengapa Amerika Serikat Tidak Melarang Rokok?*

Penulis:  Tony Newman*

Sedikitnya 400.000 orang meninggal setiap tahun akibat merokok. Ketika kita menganalisa bahaya penggunaan napza, tidak diragukan lagi bahwa rokok merupakan yang paling berbahaya. Rokok membunuh lebih banyak orang daripada kokain, heroin, metamfetamin dan semua jenis napza ilegal lain  yang digabungkan menjadi satu.

Lebih dari 800.000 orang ditahan tiap tahun terkait masalah ganja, mayoritas karena kepemilikan, sementara data dari semua penelitian yang membandingkan kedua substansi tersebut menunjukkan bahwa rokok jauh lebih berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bila Amerika mengatur sebuah substansi napza menjadi ilegal, mengapa Amerika justru membebaskan penggunaan substansi pembunuh nomor satu?

Mencermati cara-cara yang ditempuh Amerika dengan melakukan pelarangan terhadap ganja yang kurang berbahaya, membuat pelarangan terhadap rokok terlihat logis.

Sepuluh tahun lalu, kita lihat di negara bagian California hingga New York, pembatasan tentang waktu dan di mana orang dapat merokok semakin ketat hingga menuju pada pelarangan total terhadap rokok.

Merokok dilarang di bar, rumah makan dan beberapa kampus universitas. Setiap orang dapat dipecat dari pekerjaan karena tak dapat berhenti merokok. Kita telah menyaksikan orang tua kehilangan hak adopsi bila mereka merokok. Di beberapa kota, hampir tak mungkin untuk merokok di sembarang tempat kecuali di rumah sendiri.

The Drug Policy Alliance adalah sebuah aliansi masyarakat peduli kebijakan napza yang berbasis di New York. Aliansi ini mensponsori jajak pendapat Zogby pada 2006. Hal yang mengejutkan dari hasil jajak pendapat tersebut menyebutkan bahwa 45% responden mendukung agar rokok di-ilegalkan dalam 10 tahun ke depan. Sebanyak 50% responden pada rentang usia 18-29 tahun mendukung hal tersebut.

Kendati didasari oleh niat baik, namun pelarangan rokok hanya akan menjadi sebuah bencana berikut, sama seperti pelarangan jenis-jenis napza lain. Walau dilarang, orang tetap akan merokok tembakau, sama seperti mereka menggunakan napza jenis lain yang dilarang, dari ganja hingga kokain.

Sekarang, sebagai tambahan pada bahaya merokok, kita akan menemukan rangkaian ‘konsekuensi pasti’ yang akan timbul bila pelarangan terhadap rokok benar-benar terjadi.

Jutaan perokok aktif akan tetap melanjutkan perilakunya, dan mereka akan dikategorikan sebagai pelaku kriminal. Kita akan menemukan para orang tua yang berjanji pada anak-anaknya untuk berhenti merokok, tetapi mereka tetap merokok Secara sembunyi-sembunyi. Kita akan menemukan perokok menyembunyikan perilakunya dan merokok di sudut-sudut gelap dan tersembunyi, takut tertangkap tangan menggunakan substansi ilegal.

Kita akan menemukan polisi memboroskan waktu dan sumber daya lain yang berharga untuk menjerat dan menangkap perokok tembakau. Penjara Amerika akan mengalami krisis kelebihan penghuni yang akan berkembang menjadi sekumpulan besar ‘pecandu’ rokok dan perokok musiman dikurung bersama-sama.

Amerika akan memiliki pasar gelap, dengan para pelaku kriminal mengambil alih fungsi supermarket dan menelusup memenuhi kebutuhan pasar untuk menyediakan rokok yang diinginkan konsumen.

Alih-alih mendapatkan rokok di tempat-tempat legal, anda harus menelusuri jalanan untuk mendapatkan rokok di pasar gelap. Perdagangan rokok akan menjanjikan untung besar bagi ‘pengedar rokok’, seperti halnya untung yang dihasilkan pengedar napza ilegal hari ini. Akan ada keributan di jalanan dan pembunuhan untuk memperebutkan hak untuk menjual tanaman tembakau yang dilarang.

Amerika telah mencoba melarang rokok di beberapa penjara pemerintah, seperti di California, dan kita telah melihat, perilaku merokok tetap berlanjut, dan rokok dijual secara ilegal. Pasar gelap tumbuh mengisi kekosongan dan memicu kematian yang tidak perlu terkait perebutan akses penjualan rokok dan perebutan keuntungan yang besar.

Untungnya, tak seorangpun berniat melarang peredaran rokok. Sebaliknya, kampanye kesehatan Amerika tentang rokok telah menjadi sebuah percontohan yang berhasil dibandingkan dengan kampanye napza ilegal yang dikembangkan.

Dengan menerapkan pajak tinggi pada rokok, lokasi-lokasi tertentu untuk merokok dan melarang iklan-iklan tertentu tentang rokok, Amerika telah melihat penurunan signifikan pada jumlah perokok.

Menghindari propaganda model film ‘Reefer Madness’, Amerika memperlakukan generasi muda dengan penghargaan dan memberikan pendidikan napza yang jujur mengenai bahaya rokok, dan Amerika menuai hasil yang membanggakan dengan penurunan jumlah perokok usia muda saat ini dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

Walaupun Amerika patut merayakan keberhasilan kampanye kesehatan tentang rokok dan terus mendukung masyarakat untuk mengurangi atau berhenti merokok, jangan sampai Amerika terbawa arus dan berfikir bahwa pelarangan akan berhasil mengurangi jumlah perokok.

Kita perlu menyadari bahwa napza, dari rokok hingga ganja dan alkohol, akan selalu dikonsumsi masyarakat, baik itu legal maupun ilegal. Walaupun napza memiliki konsekuensi kesehatan dan bahaya-bahaya tertentu, melarang dan membuat napza tetap terlarang – hanya akan membawa lebih banyak kematian dan penderitaan.

Jangan kutip kata-kata saya. Kutiplah kata-kata orang-orang paling terpercaya di Amerika – Walter Cronkite:

“…Saya terlibat di perang Vietnam. Saya teringat kebohongan yang dipublikasikan, kehidupan yang hilang serta kejutan besar, ketika 20 tahun kemudian, mantan Sekretaris Menteri Pertahanan Amerika Robert S. McNamara mengakui bahwa pelarangan dan perang terhadap NAPZA adalah sebuah kesalahan mutlak…”

“…dan saya tak mampu membayangkan berapa banyak nyawa dan berapa besar uang yang akan disia-siakan sebelum Robert McNamara lainnya mengakui apa yang sudah jelas terlihat: Bahwa perang terhadap napza adalah sebuah kegagalan…”  (Sumber:CNN “Commentary: Why not prohibit smoking?”  Alih bahasa: Yvonne Sibuea)

 

  • Tony Newman adalah Direktur Humas Drug Policy Alliance Network – New York