Berita Internasional Berita Lembaga Kebijakan Global

Mantan PM Portugal António Guterres Disepakati Menjadi Sekjen PBB

PBB —Dewan Keamanan PBB mencapai konsensus pada Rabu (5/10) untuk menunjuk António Guterres, mantan Perdana Menteri Portugal (1995-2002) sebagai Sekretaris Jenderal PBB berikut.

Guterres (67) selama 10 tahun menduduki jabatan Komisioner Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi; ia selama beberapa bulan terakhir disebut-sebut sebagai kandidat unggulan dari negara-negara anggota DK PBB. Mulusnya konsensus untuk memilih Guterres menunjukkan bahwa Russia dan negara-negara barat memandangnya sebagai orang yang dapat diandalkan untuk bekerjasama.

Secara keseluruhan, ada 13 kandidat termasuk 7 perempuan yang mengajukan diri menjadi Sekjen PBB; tetapi kemudian ada 2 orang yang mengundurkan diri.

Kemenangan Guterres menggembirakan para pengamat kebijakan PBB, mereka menggambarkan Guterres memiliki reputasi sebagai individu yang lantang menyuarakan penegakan hak asasi manusia.

Guterres memiliki latar belakang sebagai akademisi, ia telah menjadi politisi hampir seumur hidup. Pada 1974, pemerintahan fasis Portugal telah dipatahkan oleh kup dan digantikan oleh pemerintahan demokratis. Guterres mengorganisir Partai Sosialis, yang dengan segera menjadi faksi kiri utama di Portugal.

Pada 1995, Partai Sosialis memenangkan pemilu Portugal; Guterres sebagai pemimpin partai terpilih menjadi Perdana Menteri. Saat itu, Portugal mengalami situasi darurat karena tingginya tingkat ketergantungan heroin. Respon Guterres adalah mendorong dekriminalisasi semua jenis napza, sebuah kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kebijakan tersebut terbukti sangat sukses. Tingkat ketergantungan napza di Portugal menurun menjadi 5 kali lebih rendah dibandingkan Uni Eropa, seperti data yang dikutip oleh Vice ; tingkat infeksi HIV per tahun menurun sebesar 95% sejak pemberlakuan dekriminalisasi napza. Sulit untuk mengatakan bahwa dekriminalisasi yang menyebabkan semua perkembangan positif tersebut, tetapi setidaknya kebijakan tersebut tidak menimbulkan efek negatif bagi Portugal.

Guterres meninggalkan kursi Perdana Menteri pada 2002, setelah Partai Sosialis tidak mampu meraup cukup suara pada pemilu. Ia kemudian kembali terjun ke kancah politik internasional. Guterres sempat memimpin organisasi global partai-partai sosialis demokrat, “Socialist International” hingga pada 2005 ia diangkat menjadi Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi. (Yvonne Sibuea)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *