Berita Internasional Kebijakan Peristiwa

Lima Tahun Kebijakan Perang Terhadap NAPZA, 47.500 Orang Tewas di Meksiko

Petugas mengamankan truk yang terlantar

Mexico City – Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Mexico  telah menjadi surga bagi pelaku kekerasan brutal yang mengakibatkan tewasnya ribuan orang di sepanjang sepanjang perbatasan AS dan di negara-negara bagian lain disekitarnya. Lebih dari setahun terakhir, para anggota geng, terlebih mereka yang berada di daerah pinggiran kota, memiliki pendapatan yang cukup tinggi dari penjualan NAPZA.

Sebelum insiden ditemukannya dua jenazah tanpa kepala dalam sebuah mobil di jalanan depan mal, kawasan Santa Fe merupakan salah satu wilayah di bagian barat ibu kota Mexico City, yang berhasil mempertahankan reputasinya sebagai daerah yang tidak terimbas oleh kekerasan akibat perang NAPZA.

Kawasan ini merupakan tempat perusahaan-perusahaan besar meletakkan bisnisnya, seperti Hewlett Packard, IBM dan Iberoamerican University, salah satu sekolah swasta kelas atas Meksiko. Kawasan moderen ini memiliki pengamanan dan penjagaan ketat, mengingat kaum ekspatriat dan orang kaya di Meksiko tinggal.

Namun dengan pecahnya perang antar kartel NAPZA di Meksiko, kawasan yang bahkan memiliki tingkat pengamanan tinggi ini menjadi salah satu area penyerangan.

“Jika perang terhadap NAPZA ini tidak berakhir, keadaannya akan menjadi lebih buruk,” ujar Christian Falbi (24), mahasiswa yang tinggal di sebuah gedung apartemen tidak jauh dari mal tempat ditemukannya jenazah tersebut, seperti dilansir CBS News, Rabu (11/1) waktu setempat.

Erubiel Tirado, seorang ahli keamanan yang mengajar di Universitas Iberoamerican, mengatakan serangan itu menunjukkan bahwa strategi penegakan hukum yang diterapkan pemerintah tidak dapat mencegah kebrutalan akibat perang terhadap NAPZA.

Roberto Herrera (52), seorang salesman perusahaan minuman yang kantornya tepat berada di mal tersebut menyatakan bahwa dia tidak terkejut oleh insiden ini.

“Kami telah hidup dalam situasi mencekam ini sekian lama, apalagi melihat dan mendengar kekerasan yang sering terjadi di Veracruz, Acapulco dan Monterrey,” ujarnya.

Bulan Oktober tahun lalu, kelompok Mani con Ojos mengaku bertanggung jawab sebagai pelaku yang meninggalkan dua kepala di pangkalan militer Mexico City. Kelompok ini pernah menjadi bagian dari kartel narkoba Beltran Levya, yang mengaku telah menewaskan puluhan orang saat merekrut pengedar di wilayahnya.

Kebijakan perang terhadap NAPZA yang diterapkan pemerintahan presiden Felipe Calderon sejak 2006 lalu telah mengakibatkan meninggalnya 47.515 warga Meksiko. Sumber dari kejaksaan mengatakan bahwa sejak sejak September tahun lalu, Calderon mengerahkan ribuan pasukan ke daerah-daerah yang merupakan wilayah perdagangan NAPZA di Meksiko.

Pembunuhan terkait perang terhadap NAPZA sampai sembilan bulan pertama di tahun 2011 naik 11 persen dari 11.583 korban pada periode yang sama di tahun 2010. Sumber ini juga menyebutkan bahwa kekerasan yang menelan korban ini terjadi di setidaknya delapan wilayah dari 32 wilayah di Meksiko. (IH)