Advokasi Berita Lembaga Kebijakan Daerah

Rencana Layanan Rumatan Methadone di Purwokerto Masih Dianggap Mahal

napza PWT2
www.napzaindonesia.com

Purwokerto – Kendati baru beroperasi pada September mendatang, namun akses layanan methadone bagi para pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) di Purwokerto, Jawa Tengah mulai dikeluhkan karena dianggap mahal dan memberatkan komunitas pengguna NAPZA.

Para pengguna NAPZA di “kota mendoan” ini, mengeluhkan besaran biaya yang harus dikeluarkan, jika ingin mengakses layanan rumatan methadone tersebut.

Menurut rencana rumatan methadone akan dikelola Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Margono Purwokerto. Selaku Rumah Sakit yang ditunjuk oleh Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, RSUD Margono mengenakan tarif tiket periksa sebesar 25 ribu rupiah setiap kali datang.

Sementara di Semarang yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah, RSUP Dr. Karyadi hanya mengenakan tarif tiket periksa sebesar 18 ribu rupiah, itupun masih jarang ada yang mengakses layanan rumatan methadone disana, karena para pengguna NAPZA lebih suka mengakses layanan methadone di Puskesmas Poncol yang hanya menerapkan tarif tiket periksa sebesar 4 ribu rupiah.

“Sebelum mengakses methadone, pengguna NAPZA yang berminat diharuskan melakukan tes narkoba dan fungsi hati. Biayanya sekitar 125 ribu rupiah.” kata salah seorang pengguna NAPZA yang tidak ingin disebutkan namanya kepada NapzaIndonesia.com dalam pertemuan pengguna NAPZA Purwokerto dengan Performa, kelompok advokasi kebijakan NAPZA Jawa Tengah, Minggu (8/8).

Meskipun dirasakan mahal, namun terapi substitusi methadone sangat ditunggu-tunggu para pengguna NAPZA di Purwokerto karena tidak adanya terapi substitusi lainnya, apalagi setelah impor subutex dan suboxone dihentikan Pemerintah Indonesia.

“Sampai saat ini, kami mencatat ada 31 pengguna NAPZA yang berminat mengakses layanan methadone di RSUD Margono. Saat ini kami sedang membicarakan dengan pihak rumah sakit untuk mengajukan keringan biaya akses Methadone menjadi 5 ribu rupiah, karena methadone diakses setiap hari dan kalau harganya 25 ribu seperti yang kami dengar, itu akan terasa berat.” ujar Luqyana Vera, salah satu aktivis yang mendampingi pengguna NAPZA di wilayah Purwokerto.(IH/Gen)