Berita Lembaga Berita Nasional

Kurangnya Informasi Jadi Dasar Timbulnya Diskriminasi

Semarang – Siaran radio komunitas yang dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jawa Tengah dengan komunitas pengguna napza PERFORMA dan Forum LSM Kota Semarang pada bulan Juli ini memasuki bulan ketiga

Mengusung tema bulanan ‘hak dasar populasi kunci’, siaran minggu keempat di bulan Juli ini mengundang anggota komunitas pengguna napza PERFORMA sebagai narasumber. Dua orang anggota PERFORMA yaitu Arif Abdul Fani dan Ira Hapsari, yang juga aktif sebagai relawan di LSM pendamping pengguna napza kota Semarang menjadi narasumber siaran selama satu jam ini.

“Pengguna napza merupakan salah satu populasi kunci karena rentan terinfeksi HIV baik dari pola penggunaan napza dengan cara disuntikkan maupun melalui aktifitas seksual,” ujar Arif Abdul Fani , Koordinator Divisi Pengorganisasian Komunitas PERFORMA, Selasa (26/7) di ruang siaran Radio Ekspresi Mahasiswa (REM) FM Universitas Negeri Semarang.

Dalam siaran ini juga disampaikan mengenai hak hukum dan hak untuk mengakses layanan kesehatan terkait kecanduan juga status positif HIV pada pengguna napza. Data yang dimiliki KPA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011, menyatakan bahwa jumlah kasus HIV di Jawa Tengah sebanyak 3555, dari faktor risiko napza suntik 14,77% sedangkan heteroseksual 75,93%.

Mengenai hak dasar, lebih lanjut Arif menyampaikan bahwa stigma dan diskriminasi masih ada di masyarakat. Bahkan diskriminasi itu bisa timbul dalam lingkungan terkecil dari masyarakat yaitu keluarga.

“Seseorang yang mengalami kecanduan seringkali mendapat perlakuan yang berbeda dari masyarakat sekitarnya. Apalagi bagi pecandu yang terinfeksi HIV, bisa muncul stigma dan diskriminasi ganda. Belum lagi bila harus mengalami masalah hukum dan dipenjara,” ujarnya.

Lebih lanjut Arif menambahkan, bahwa meskipun stigma dan diskriminasi masih ada namun saat ini kondisinya sudah lebih baik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya puskesmas yang membuka klinik pengurangan dampak buruk napza atau Harm Reduction.

“Layanan kesehatan di dalam lapas atau penjara juga sudah ada peningkatan meskipun belum maksimal. Saat ini, warga binaan kasus narkoba sudah bisa mengakses ARV (terapi untuk HIV-red) melalui klinik di Lapas,” imbuhnya.

Namun demikian, Arif menyatakan bahwa pemberian informasi kepada masyarakat masih harus terus dilakukan karena menurutnya, penyebab adanya stigma dan diskriminasi adalah karena ketidak tahuan masyarakat tentang informasi yang tepat mengenai napza maupun HIV AIDS. (IH)